Hakim-hakim 6:12-13 (12) Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” (13) Jawab Gideon kepada-Nya: “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.”
Krisis identitas adalah periode di mana seseorang secara mendalam mempertanyakan siapa dirinya, apa nilai-nilai yang ia pegang, dan apa tujuan hidupnya.
Konsep krisis identitas pertama kali diperkenalkan oleh pakar psikologi, Erik Erikson. Menurut Erikson, pembentukan identitas adalah salah satu konflik terbesar yang dihadapi seseorang, terutama pada masa remaja. Namun, kenyataannya, krisis ini tidak hanya terjadi pada masa remaja, melainkan bisa muncul di berbagai fase kehidupan. Baik itu di usia 20-an, maupun di usia 40-an.
Di Alkitab pernah ada Musa yang sempat mengalaminya di usia 80 tahun, ketika Tuhan menyuruhnya pergi ke Mesir. Ada beberapa keberatan yang ia ajukan, beberapa di antaranya adalah tentang ketidaktahuan akan jati dirinya atau identitasnya (Kel. 3:11 “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”). Musa merasa tidak tahu persis siapa dirinya, apa kemampuannya, dan apa yang ia harus lakukan.
Di era modern, krisis identitas sering kali diperparah oleh tekanan sosial dari sekeliling dan peran media sosial. Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus seringkali dapat memicu rasa tidak aman (insecurity) dan membuat seseorang merasa tertinggal, yang pada akhirnya memicu pertanyaan-pertanyaan eksistensi tentang nilai dirinya sendiri.
Hakim-hakim adalah kitab tentang bagaimana Tuhan membangkitkan hakim bagi umat Israel. Gideon adalah salah satu hakim yang Tuhan pilih. Makna “hakim” di kitab Hakim-hakim adalah seorang yang dipilih Tuhan untuk menjadi “pemimpin militer” yang ditugaskan untuk menyelamatkan Israel dari penindasan musuh, sekaligus pemimpin rohani untuk membawa umat Israel datang kepada Tuhan.
Namun sayangnya, pribadi hakim yang dipilih Tuhan ini sedang mengalami krisis identitas. Bayangkan, Gideon sedang mengirik gandum, bersembunyi dari orang-orang Midian di tempat pemerasan anggur ayahnya. Artinya, kondisi Gideon sama sekali tidak mencerminkan seorang hakim.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan mau membangkitkan kemenangan-kemenangan di antara umat-Nya. Apapun jenis kemenangannya. Yang Tuhan butuhkan adalah pertama-tama kebangkitan jati diri dari antara umat-Nya yang menyadari bahwa ia adalah pahlawan Tuhan yang gagah berani, yang siap mengambil bagian dalam langkah-langkah yang Tuhan berikan.
Kata “pahlawan” yang digunakan di sini adalah gibbor, yang artinya memang pahlawan, perwira yang kuat, gagah perkasa, tangkas, dan berkuasa. Sedangkan kata “gagah berani” atau khahyil memiliki arti yang kurang lebih sama, yaitu tentara yang tangkas, cakap, pemberani, dan kuat. Dari gabungan kedua kata “pahlawan yang gagah berani” bisa dibayangkan sosok seperti apa sesungguhnya Gideon di mata Tuhan itu, hanya sayangnya ia belum menyadarinya.
Ingat, ini bukan sekedar kesadaran akan adanya sebuah sebutan atau predikat untuk sekedar dicantumkan, tetapi juga kesadaran akan sikap yang mencerminkan “gibbor khayil” yang sesungguhnya. Pribadi anak-anak Tuhan yang bertindak nyata, tangkas, bermental prajurit, though, tidak cengeng, sadar akan panggilan, pribadi yang menyukai hadirat Tuhan, memiliki beban akan bangsa.
Hari-hari ini telah terjadi berbagai krisis yang tidak mudah di sana-sini. Perlu dihadapi oleh orang-orang percaya yang bukan sekedar sadar akan jati diri sebagai anak-anak Tuhan saja, namun perlu diikuti dengan sikap sebagai pahlawan-pahlawan yang gagah berani.
Beberapa hal yang perlu dipahami berkaitan dengan pesan Tuhan ini, agar orang-orang percaya tidak menghidupi identitas yang salah, di antaranya adalah:
(1). Hidupi identitas ilahi, karena identitas akan menentukan langkah dan tujuan hidup
Hakim-hakim 6:13 …Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.”
Bersyukur untuk malaikat yang diutus Tuhan datang kepada Gideon untuk mengatakan siapa identitas ilahi dirinya yang sesungguhnya. Jika tidak, maka Gideon akan terus menghidupi identitas yang salah. Perhatikan perkataan yang diucapkan Gideon di atas mencerminkan identitas yang berbeda.
Di dunia psikologi ada istilah impostor syndrome (sindrom penipu), yaitu seseorang yang menghidupi identitas yang berbeda dengan identitas dirinya yang sesungguhnya. Sindrom ini dapat terjadi dalam beberapa keadaan. Pertama, ketika seseorang sengaja berusaha menutupi identitas dirinya yang sebenarnya dengan tampilan yang berbeda. Kedua, ketika seseorang mengubah gaya hidup, selera, kebiasaan, dan prinsip hidupnya hanya agar ia dapat diterima di lingkungan pergaulan tertentu. Ketiga, ketika suatu keadaan yang terjadi menghimpit dirinya tanpa dapat berbuat apa-apa, lalu ia berkesimpulan yang salah tentang dirinya. Ini yang terjadi pada Gideon.
Mengenali identitas ilahi yang sesungguhnya dalam diri masing-masing adalah “jangkar” utama. Ketika seorang percaya memahami persis siapa dirinya di hadapan Tuhan, dan milik siapa ia, maka sesungguhnya ia sedang mengalahkan kekuatan tekanan dari desakan arus dunia, perbandingan, dan rasa takut. Dan ia dapat menentukan pilihan dengan benar, memiliki ketahanan yang kokoh, dan memiliki tujuan hidup yang benar.
Mari jemaat Tuhan, pesan Tuhan ini bukan tentang sekedar tahu status, namun tentang menghidupi identitas ilahi yang Tuhan sudah anugerahkan. Gagalnya orang menghidupi identitas ini, maka sulit untuk mengalami kemenangan-kemenangan dalam hidupnya. Ingat, sepuluh pengintai gagal memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan, karena mereka melihat diri mereka begitu kecil dari identitas mereka yang semestinya.
Tuhan Yesus memberkati!
