Konsekuensi dari Sikap Menunda-Nunda (Pesan Gembala, 26 Juli 2026)

KONSEKUENSI DARI SIKAP MENUNDA-NUNDA

Yosua 18:3 Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?

Kitab Yosua adalah kitab yang mencatat penggenapan janji Tuhan kepada umat Israel. Menceritakan bagaimana bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua dapat menginjakkan kaki di tanah Kanaan, merebut, menduduki wilayah demi wilayah untuk dijadikan tanah pusaka masing-masing suku

Namun memasuki pasal 17, setelah suku Ruben, Gad dan setengah suku Manasye menempati bagiannya di sisi timur Sungai Yordan, dan setelah suku Yehuda, Efraim dan setengah bagian yang lain dari suku Manasye mendapatkan wilayah pusakanya masing-masing, terjadilah penundaan atas sisa tujuh suku lain yang masih belum mendapat bagian milik pusakanya. Penyebabnya adalah bukan karena pihak musuh yang menghalang-halangi mereka, namun karena timbul rasa enggan yang membuat mereka menunda-nunda untuk merebutnya. 

Kata “bermalas-malas” dalam kalimat “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas,” menggunakan kata raphah yang memiliki arti: bersantai, diam, menarik diri, mengabaikan, melepaskan, dan meninggalkan. Jadi alasan yang mendasari seseorang masih belum melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan bisa bermacam-macam.

Salah satu strategi yang digunakan oleh si jahat agar orang-orang percaya keluar dari rancangan Tuhan adalah dengan meyakinkan orang percaya bahwa mereka masih punya banyak waktu di dunia untuk bersantai, sehingga dalam banyak hal menunda keputusan untuk melakukan perintah Tuhan.

Itulah sebabnya, tidak sedikit dijumpai orang-orang percaya menjalani hidup yang biasa-biasa dan santai. Mereka tidak berusaha mencari tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka seringkali menunda-nunda dan berpikir bahwa masih ada “hari esok.” Namun hari esok yang mereka maksudkan tak pernah kunjung tiba.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Bahwa sebetulnya banyak hal baru yang Tuhan mau singkapkan bagi umat-Nya. Atau ada wilayah baru yang Tuhan mau bawa. Seperti Tuhan membawa bangsa Israel dari Mesir ke dataran Yordan, dari dataran Yordan ke tanah Perjanjian, dan dari tanah Perjanjian ke pembagian wilayah tanah pusaka. Perhatikan cara Tuhan menuntunnya.

Cara Tuhan membawa umat-Nya itu tidak sekaligus, namun dari fase ke fase. Dari titik A tidak langsung ke titik Z, melainkan ke titik B terlebih dahulu. Apabila umat Tuhan dengan taat berjalan ke titik B, maka baru kemudian ada perintah dan arahan selanjutnya ke titik C, dan selanjutnya. Bayangkan, berapa lama perjalanan yang akan ditempuh seandainya umat Tuhan sering melakukan penundaan dari satu titik ke titik tujuan selanjutnya.

Bukannya Tuhan tidak menepati janji-janji-Nya, bukan pula musuh yang terlalu besar sehingga menghadang perjalanan umat Tuhan, namun tanpa disadari, sikap umat Tuhanlah yang seringkali menghalangi dirinya sendiri untuk memperoleh apa yang Tuhan janjikan. Dan sikap itu adalah sikap menunda-nunda untuk melakukan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan. Orang yang menunda adalah orang yang tahu bahwa ia harus mengerjakannya, tetapi ia belum mau mengerjakannya. 

Beberapa hal yang perlu dipahami berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:

(1). Penggenapan janji adalah tentang mencapai tujuan Tuhan, bukan tujuan umat Tuhan

Yosua 18:3 Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu? 

Ada perbedaan pandangan antara Yosua dengan para pemimpin tujuh suku yang belum menduduki wilayah yang seharusnya mereka duduki. Bagi Yosua, pencapaian akhir dari perjalanan panjang bangsa Israel adalah bukan sekedar menginjakkan kaki di tanah perjanjian, melainkan sampai setiap suku menduduki tanah pusaka masing-masing.

Sedangkan bagi para pemimpin khususnya sisa ketujuh suku, mereka merasa sudah puas dengan apa yang telah mereka peroleh saat itu, yaitu masuk ke tanah perjanjian. Di sanalah mereka akhirnya dapat beristirahat dan bercengkerama dengan keluarga dan rekan-rekan suku Israel lainnya. Ini sebetulnya mirip dengan dua setengah suku Israel yang puas dengan memutuskan untuk tinggal di seberang sungai Yordan.

Sama hal dengan kebanyakan orang percaya masa kini yang merasa cukup puas hanya dengan menjadi seorang Kristen, tanpa memahami tujuan Tuhan dalam hidupnya. Seringkali gagalnya seorang percaya mencapai tujuan yang Tuhan kehendaki adalah bukan Tuhan tidak menggenapinya, namun merasa cukup puas dengan apa yang telah dicapainya, padahal belum tiba di tujuan yang seharusnya. 

(2). Penggenapan dari Tuhan tidak terjadi begitu saja tanpa keterlibatan umat Tuhan

Yos. 18:4 Ajukanlah tiga orang dari tiap-tiap suku; maka aku akan menyuruh mereka, supaya mereka bersiap untuk menjelajahi negeri itu, mencatat keadaannya, sekadar milik pusaka masing-masing, kemudian kembali kepadaku. 

Bahwa betul Tuhan telah memberikan janji kepada umat-Nya. Tetapi ingat, hal itu tidak serta merta terjadi begitu saja tanpa umat-Nya ikut terlibat memersiapkannya sejak sekarang. Mungkin pada umat Tuhan ada janji Tuhan yang spesifik (seperti Abraham yang dijanjikan keturunan), namun janji Tuhan itu tidak terjadi begitu saja, apabila si umat Tuhan tidak menanggapinya atau tidak turut mempersiapkannya. 

Untuk menduduki wilayah milik pusakanya masing-masing, maka Yosua memerintahkan tiap-tiap suku mulai bertindak untuk bergerak dengan cara menjelajahi wilayah-wilayah yang akan mereka masuki. Mula-mula mendata kondisinya, mencatat keadaannya, kota demi kota, lalu kembali melaporkannya. Bahkan mungkin ada yang harus berperang untuk mengalahkan penduduk aslinya. 

Mungkin ini bukanlah pekerjaan yang menyenangkan, tetapi mereka harus melakukannya agar janji Tuhan digenapi. Hidup memahami tujuan Tuhan itu satu hal yang penting, namun turut terlibat di dalamnya hingga terjadinya penggenapan adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Kuncinya adalah terus bergerak maju atau keep moving forward. Apabila orang percaya enggan bergerak maju untuk “menduduki milik pusakanya” , maka mereka tidak akan pernah mendapatkannya.

Mari jemaat Tuhan, tidak sedikit orang percaya hanya mengharapkan Tuhan yang melakukan segala sesuatu bagi dirinya, sedangkan pihaknya terlalu berat untuk maju bersama Tuhan untuk ikut merebut dan menduduki milik pusakanya, dengan dalih masih banyak waktu di lain kesempatan. Seringkali banyak orang percaya lebih memilih untuk duduk diam berdoa dan berharap penggenapan terjadi seketika, namun enggan mengambil langkah iman untuk berjalan mengikuti tuntunan Tuhan. Mari terus bergerak maju!

Tuhan Yesus memberkati! 

Konsekuensi dari Sikap Menunda-Nunda (Pesan Gembala, 26 Juli 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-