MENATA ULANG KETIDAKSELARASAN
Amsal 24:3-4 (3) Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan,(4) dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.
Penulis Amsal sedang menggambarkan seperti apa orang percaya mengisi dan merestorasi kehidupan pribadinya, yang diumpamakan seperti orang yang sedang membangun sebuah rumah. Dimulai dengan sebuah perencanaan yang matang, dilanjutkan dengan proses pembangunan, penyelesaian, hingga kemudian proses pengisian yaitu tentang mengisinya dengan barang-barang yang berharga dan menarik.
Rumah sudah dianggap bukan lagi sekedar tempat untuk berteduh dari panas terik maupun hujan, namun sudah menjadi tempat yang tertata dengan baik agar menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi penghuninya.
Namun ayat di atas bukan semata-mata tentang rumah dalam pengertian literal tempat tinggal secara fisik, namun tentang kehidupan sebagai orang percaya. Kehidupan yang direncanakan dengan baik, ditata dan diisi oleh hal-hal yang bernilai tinggi, sehingga menghasilkan kehidupan yang juga bernilai tinggi.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan menyatakan bahwa ada bagian-bagian pada hidup umat Tuhan terdapat peletakan-peletakan yang belum pada tempatnya, dan ada penataan-penataan yang belum selaras sebagaimana seharusnya untuk dikembalikan sesuai pada tempatnya. Inilah yang dikatakan menata ulang segala ketidakselarasan.
Tidak ada manusia normal pada umumnya yang mau berlama-lama membiarkan ketidakselarasan terjadi, khususnya apabila ketidakselarasan itu ada kaitannya dengan penampilan wajah atau busana yang bisa menjadi bahan tertawaan orang. Semua tentunya akan bersegera untuk memerbaikinya. Namun bagaimana apabila yang tidak selaras itu adalah kehidupan pribadi yang tidak secara langsung terlihat oleh orang lain? Apakah akan bersegera memerbaikinya?
Beberapa dampak yang akan terjadi apabila orang percaya berlama-lama dalam menata ulang hal-hal yang tidak selaras atau sesuatu yang tidak pada tempatnya dalam kehidupan pribadinya. Yang pertama adalah kehidupan yang permisif atau kehidupan yang serba minta dimaklumi. Permisif terhadap ketidakselarasan, terhadap pelanggaran, bahkan terhadap dosa.
Yang kedua adalah kehidupan yang memiliki daya juang yang lemah terhadap standar yang seharusnya. Anak-anak yang dibesarkan dari keluarga yang permisif umumnya memiliki daya juang yang lemah terhadap standar-standar yang seharusnya. Yang ketiga adalah kehidupan yang tidak menyediakan ruang untuk firman Tuhan akibat hati yang sudah terisi dengan beragam “sampah.” Dalam Yohanes 8:37 dikatakan bahwa orang yang tidak memiliki ruang di hatinya untuk firman Tuhan, akan berbalik memusuhi Yesus. Mengerikan bukan?
Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi segala ketidakselarasan ataupun hal-hal yang belum pada tempatnya, di antaranya adalah:
(1). Melakukan tata ulang kembali kehidupan
Amsal 24:3-4 (3) Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan,(4) dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.
Kata “didirikan” atau banah memiliki arti memulihkan atau membangun kembali. Itu adalah kata yang sama yang digunakan ketika Tuhan mengambil tulang rusuk Adam dan membangunnya kembali menjadi seorang Hawa. Amsal mengatakan dibutuhkan hikmat Tuhan untuk membangun hal semacam ini. Kemampuan melihat gambaran besar melalui cara pandang Tuhan.
Kata “ditegakkan” atau kuwn memiliki arti menata sesuatu yang berantakan atau menegakkan sesuatu yang telah jatuh. Dibutuhkan kepandaian, intelegensia, dan keterampilan (tabuwn) untuk melakukan hal tersebut. Sedangkan kata “pengertian” atau da’ath memiliki arti persepsi. Dibutuhkan persepsi yang selaras dengan Tuhan untuk dapat mengisi ruangan-ruangan dalam kehidupan dengan hal-hal yang bernilai tinggi.
Ketika Tuhan menyatakan perlunya dilakukan penataan ulang atas kehidupan orang percaya sekiranya ada bagian-bagian yang sudah tidak pada tempatnya, maka perlu dilakukan inventarisasi kehidupan. Dibutuhkan panduan untuk seorang percaya dapat melakukan inventarisasi kehidupan, di antaranya mengecek:
– Kedisiplinan rohani (konsistensi dalam 4M firman Tuhan, kehidupan doa yang intim, mezbah keluarga yang dibangun, ibadah dan komunitas rohani).
– Sikap hati dan mental (keterbukaan dan kejujuran dalam melakukan instrospeksi: keberanian dalam mengevaluasi diri dengan jujur tentang dosa, kebiasaan buruk, kesuaman, dll, kerendahan hati, komitmen untuk berbalik dari hal-hal yang salah).
– Langkah praktis keseharian (menyusun skala prioritas, proteksi diri: menyeleksi hal-hal apa yang layak dikonsumsi atau dimasukkan untuk terjadinya pertumbuhan iman, penyelesaian relasi dengan anggota keluarga, ketaatan praktis melakukan firman mulai dari hal-hal kecil dalam rumah, hingga di luar rumah).
– Sikap dalam menghadapi proses (ketekunan dan kesabaran: apakah tetap bertekun atau sudah merasa lelah dan melepaskan ketekunan, menyadari bahwa pendewasaan terjadi melalui proses yang diijinkan Tuhan, menyadari bahwa ada perlombaan yang diwajibkan dan harus diselesaikan dengan baik).
Mari jemaat Tuhan, bersyukur untuk pesan Tuhan yang mengingatkan umat-Nya bahwa ada bagian-bagian dari kehidupan yang perlu ditata ulang. Manusia memiliki banyak keterbatasan untuk menyadarinya, namun Tuhan sungguh Maha mengetahui. Ingat akan pesan Tuhan minggu lalu, dimana Tuhan mengajak orang percaya untuk memikul kuk yang Ia pasang. Tanpa mengenakan kuk dari Tuhan, orang percaya akan sulit mengalami penyelarasan. Kuk adalah tentang orang percaya berjalan satu arah, satu tujuan, satu kecepatan, dan satu nilai dengan Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati!
