1 Timotius 1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.
Masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Bisa menjadi pelajaran yang berharga, namun juga bisa menghambat langkah hidup seseorang. Hidup ini adalah tentang perjalanan maju ke depan, bukan tentang melihat terus ke belakang. Tidak sedikit orang percaya menjalani hidup hari ini dengan bayang-bayang masa lalu.
Masa lalu itu bentuknya bisa beragam dan panjang sekali, tergantung berapa lama usia masing-masing pribadi. Tinggal bagaimana cara seseorang meresponi semua bentuk masa lalu itu. Ada masa kecil seseorang yang dirasa kurang beruntung (atau tidak seberuntung orang lain), sehingga ada orang yang terus menyesalinya, dan merasa diri minder. Ada masa lalu yang penuh keindahan atau keberhasilan, namun ketika melihat keadaan hari ini tidak seperti keadaan indah masa lalu, maka menjadi kecewalah ia.
Ada pula masa lalu dimana seseorang sempat mengalami kegagalan, sehingga hari ini menjalani hidup yang penuh penyesalan. Ada masa lalu yang diisi oleh perbuatan-perbuatan salah, nakal atau bandel yang dampaknya atau konsekuensinya masih membekas sampai hari ini. Dan ada masa lalu yang diwarnai oleh berbagai luka batin, sehingga dampaknya hari ini menjadi orang yang penuh luka dan melukai.
Masa lalu tidak bisa diubah. Masa lalu tetaplah masa lalu. Orang-orang yang terjebak dalam penyesalan atau rasa bersalah masa lalu berharap bisa mengulang kembali waktu yang telah berlalu. Padahal, yang paling penting adalah bagaimana seseorang menerima dan berdamai dengan apa yang telah terjadi dahulu, lalu bagaimana mengisinya hari ini.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan melalui pesan-Nya ini menyatakan agar umat-Nya jangan lagi hidup dengan masih menatap ke masa lalu. Ada masa depan yang Tuhan sudah rancang di depan. Dan masa depan itu penuh dengan kegemilangan. Ingat, bahwa Tuhan yang luar biasa tidak pernah merancangkan hal-hal yang biasa-biasa pada anak-anak-Nya. Jangan sampai masa depan gemilang yang Tuhan sudah rancang akhirnya tidak terwujud gara-gara umat Tuhan masih hidup di masa lalu, membawa luka masa lalu, atau yang hidup dengan masih menengok terus ke masa lalu.
Padahal ada firman Tuhan yang mengatakandidalam 2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. “Ciptaan baru” (Yun.: ktisis kaheenos). Ktisis artinya penciptaan dari sesuatu yang belum ada, sedangkan Kaheenos artinya baru dalam hal bentuk.
Orang percaya dalam Kristus yang masih terikat atau terpengaruh dengan masa lalu bagaikan orang yang sedang berjalan maju ke depan, namun dengan tangan yang masih menyeret-nyeret kereta gandeng di belakangnya. Jelas ini bukan hal yang mudah sama sekali untuk memasuki masa depan yang gemilang dalam Kristus.
Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu dipahami oleh umat Tuhan agar masa depan yang Tuhan sudah rancang atau janjikan tidak menjadi terhalang, di antaranya adalah:
(1). Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai hambatan
1 Timotius 1:14-15 (14) Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. (15) Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.
Ketika rasul Paulus berkata bahwa di antara orang-orang yang berdosa, dialah yang paling berdosa, ini bukanlah tentang adu dosa siapa yang paling besar, melainkan ini adalah tentang pribadi yang menyadari bahwa berapapun besar dosanya di masa lalu, kasih anugerah Tuhan dilimpahkan atasnya sehingga ia diselamatkan, diampuni, dan dipakai Tuhan sebagai alat-Nya. Seorang yang sadar sekali bahwa dirinya sangat tidak layak, namun dilayakkan Tuhan.
Ada orang yang merasa dosa masa lalunya tidak terlalu parah (menurut ukuran dirinya), sehingga ketika ia mendapat anugerah keselamatan dari Tuhan merasa tidak ada yang terlalu spesial, sehingga di dalam Tuhan hari ini pun menjalani hidup yang juga biasa-biasa saja.
Seseorang tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi ia bisa belajar dari padanya. Masa lalu memang bisa dipakai si musuh untuk merusak hidup seseorang, namun menjadi cara Tuhan untuk melatih, membentuk, dan membimbing orang tersebut. Apabila seseorang tidak belajar dari masa lalu, ia hanya akan menyesal, pahit, dan kemudian hanyut bernostalgia di dalamnya.
Sikap dalam menengok masa lalu (dengan segala dosa yang telah dilakukan) adalah dengan melihat kepada Yesus dan karya salib-Nya, bukan melihat kepada diri sendiri dan semua kesalahan diri terhadap orang lain atau kesalahan orang lain terhadap diri sendiri. Betul bahwa segala yang tidak berkenan mungkin pernah dlakukan, tetapi penebusan Yesus di kayu salib telah menebus dan mengampuni semua itu.
(2). Jadikan tindakan masa sekarang untuk menentukan masa depan
1 Timotius 1:16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.
Rasul Paulus begitu menyadari bahwa dosanya yang besar sudah diampuni, dan ia tidak mau menyia-nyiakan kasih anugerah Tuhan yang telah menyelamatkannya. Apabila rasul Paulus hanya ingin hidup disanjung oleh manusia, ia sebetulnya sudah memiliki semuanya. Ia adalah seorang Farisi yang terpandang, dan tidak bercacat dalam menjalankan hukum Taurat.
Tetapi apa yang dahulu merupakan kebanggaan dan keuntungan baginya, sekarang telah ia anggap rugi karena Kristus, karena ia sadar bahwa pengenalan akan Kristus lebih mulia dari pada apapun juga. Yang menarik, ada satu keputusan yang rasul Paulus lakukan dalam menentukan sikapnya “hari ini,” dan hal inilah yang selanjutnya akan memengaruhi “hari depannya.” Dua kali ia sebutkan hal itu dalam Filipi 3:12 dan 14, yaitu kata “mengejarnya” dan “berlari-lari.”
Kata “mengejarnya” dan “berlari-lari”ternyatadiambil dari bahasa asli yang sama, yaitu dioko yangmemiliki makna memburu seperti pemburu memburu mangsanya sampai dapat, berlari dengan cepat sampai mencapai garis akhir, dan mencari dengan penuh antusias sampai menemukan. Mengejar apa? Mengejar pengenalan akan Kristus.
Mari jemaat Tuhan, tidak seorangpun tahu persis masa depannya seperti apa, namun apabila ia sadar siapa pribadi Yesus Kristus yang adalah pemegang masa depan, pemilik janji dan perancang masa depan umat-Nya, dan ketika umat-Nya mengisi hari ini dengan melakukan dioko akan Kristus dan terus menaruh kepercayaan kepada-Nya, maka ia akan menjalani kehidupan hari ini dengan bergairah sambil mengantisipasi hal-hal luar biasa yang Tuhan bisa nyatakan kapan saja.
Tuhan Yesus memberkati!
