TUHAN MAMPU MENGHIDUPKAN APA YANG TELAH MATI
2 Raja-raja 4:18-20 (19) Tiba-tiba menjeritlah ia kepada ayahnya: “Aduh kepalaku, kepalaku!” Lalu kata ayahnya kepada seorang bujang: “Angkatlah dia dan bawa kepada ibunya!” (20) Diangkatnyalah dia, dibawanya pulang kepada ibunya. Duduklah dia di pangkuan ibunya sampai tengah hari, tetapi sesudah itu matilah dia.
Peristiwa ini dialami oleh seorang anak laki-laki perempuan Sunem. Tidak dijelaskan apa yang menjadi penyebab sakit di kepalanya, namun yang pasti bujang ayahnya segera mengangkat anak tersebut dan membawanya pulang kepada ibunya. Pada tengah hari anak itu meninggal.
Anak itu adalah anak pemberian Tuhan, yang diperoleh ketika perempuan Sunem sering menjamu dan menyediakan kamar khusus bagi nabi Elisa. Mengetahui bahwa perempuan dengan suaminya tersebut lama tidak memiliki anak, maka Tuhan melalui nubuat nabi Elisa menyatakan tahun depan ia akan menggendong seorang anak laki-laki. Dan terjadilah.
Peristiwa meninggalnya anak perempuan itu terjadi ketika anak tersebut dikatakan telah menjadi besar.
Mengetahui bahwa anaknya itu sudah meninggal, dibaringkannyalah di atas tempat tidur yang biasa digunakan Elisa, lalu ibunya pergi mencari nabi Elisa untuk memberitahukannya tentang apa yang menimpa anaknya tersebut.
Awalnya Elisa hanya menyuruh Gehazi bujangnya untuk datang kepada anak yang telah meninggal tersebut dengan membawa tongkat miliki Elisa untuk diletakkan di atas tubuh sang anak, namun tidak terjadi apa-apa. Baru kemudian setelah nabi Elisa membaringkan dirinya di atas tubuh anak tersebut, barulah anak yang telah meninggal itu hidup kembali.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Melalui pesan-Nya ini, Tuhan sedang mengatakan bahwa apapun yang sudah mati dalam kehidupan umat Tuhan, ketika perkara itu dibawa kepada Tuhan, maka Tuhan mampu “membangkitkannya” kembali. Apa yang bagi manusia tidak mungkin, bagi Tuhan tidak ada yang tidak dapat Ia bangkitkan. Kuncinya adalah datang dan berharap kepada Tuhan.
Keputusan ada pada masing-masing pribadi orang percaya. Sama prinsipnya dengan apa yang dilakukan oleh perempuan Sunem pada waktu itu. Apabila ia memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, maka keadaan anaknya pun tetap tidak mengalami perubahan apa-apa. Ada iman, ada damai, serta ada tekad pada hati perempuan tersebut untuk datang kepada nabi Elisa, tempat dimana nubuat Tuhan dinyatakan.
Beberapa hal yang perlu dipahami berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:
(1). Semua yang Tuhan sudah rancang, bawa kembali kepada Tuhan
2 Raja-raja 4:28 Lalu berkatalah perempuan itu: “Adakah kuminta seorang anak laki-laki dari pada tuanku? Bukankah telah kukatakan: Jangan aku diberi harapan kosong?”
Adalah benar bahwa perempuan Sunem itu tidak pernah meminta anak kepada Tuhan, namun ada satu prinsip indah yang harus kita pahami dengan baik, bahwa Tuhan itu tidak pernah berhutang. Ketika seseorang melakukan sesuatu untuk Tuhan dengan tulus, tanpa ada motif transaksional dibaliknya, maka Tuhan akan memerhitungkannya.
Ketika memerhatikan bahwa ternyata perempuan ini tidak memiliki anak. Maka Tuhan melalui nabi Elisa menubuatkan bahwa tahun depan ia akan menggendong seorang anak laki-laki. Dan terjadilah. Artinya, anak itu diberikan Tuhan sesuai dengan rancangan-Nya atau kehendak-Nya.
Ketika suatu hari terjadi sesuatu, baik terhadap si anak ataupun terhadap apapun yang Tuhan telah berikan, maka janganlah terburu-buru menjadi marah dan kecewa pada Tuhan. Melainkan datanglah kembali kepada Tuhan yang telah memberikannya. Carilah tahu apa maksud Tuhan di balik keadaan yang terjadi. Dan Tuhan bisa saja mengizinkan hal-hal itu terjadi untuk menguji iman seseorang.
(2). Semua adalah tentang hubungan dengan Tuhan, bukan rutinitas
2 Raja-raja 4:31 Adapun Gehazi telah berjalan mendahului mereka dan telah menaruh tongkat di atas anak itu, tetapi tidak ada suara, dan tidak ada tanda hidup. Lalu kembalilah ia menemui Elisa serta memberitahukan kepadanya, katanya: “Anak itu tidak bangun!”
Adalah hal yang biasa bagi Elisa untuk menyuruh bujangnya Gehazi melakukan ini dan itu. Termasuk juga dalam menghadapi kasus-kasus dalam pelayanan. Dalam hal menghadapi anak perempuan Sunem yang sudah meninggal, nabi Elisa memerintahkan Gehazi untuk datang dan meletakkan tongkat miliknya di atas badan si anak yang meninggal. Namun hasil yang terjadi adalah anak itu tetap dalam keadaan mati. Apakah ini artinya suatu kegagalan?
Tidak sedikit orang menganggap hal itu sebagai kegagalan. Seringkali orang percaya terpaku hanya kepada hal-hal rutinitas yang sudah biasa dilakukan, namun lupa untuk datang dan bertanya kepada Tuhan, apa yang sebetulnya Tuhan ingin ia lakukan. Ingat, dalam berjalan bersama Tuhan, Tuhan lebih merindukan keintiman, bukan semata-mata “formula” baku atau “rumus” yang umum dan rutin.
Ketika mengetahui apa yang dilakukan Gehazi tidak berhasil, maka nabi Elisa datang dan berdoa kepada Tuhan, memohon tuntunan apa yang sesungguhnya Tuhan mau ia lakukan. Maka kemudian apa yang selanjutnya dilakukan Elisa adalah melakukan tindakan menutupi mayat anak laki-laki dengan badannya. Dan setelah ia melakukannya dua kali, bangkitlah anak itu dari kematian. Luar biasa bukan?
Mari jemaat Tuhan, tangkap pesan Tuhan ini sebagai suatu kabar yang menggembirakan. Bayangkan Tuhan mau membangkitkan sesuatu yang sudah mati. Apapun itu. Bagian orang percaya adalah meresponinya baik-baik bahwa inilah saatnya meng-upgrade diri untuk tidak selalu terjebak dengan hal-hal yang baku dan rutin. Sekaranglah saatnya untuk lebih lagi menjalin keintiman dengan Tuhan. Cari tahulah, apa yang sebenarnya Tuhan ingin umat-Nya lakukan. Meskipun apa yang didapat mungkin itu merupakan suatu tindakan yang tidak mudah untuk dipahami.
Tuhan Yesus memberkati!
