KETIKA MEMIKUL BEBAN YANG BERAT
Matius 11:28-30 (28) Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
Ponsel yang mengalamikelebihan beban adalah ponsel yang kinerja sistemnya mulai kewalahan dalam memproses data akibat banyaknya aplikasi yang memakan banyak memori, sehingga ponsel menjadi lambat, atau tidak bisa berfungsi dengan normal. Ciri-ciri lainnya adalah terjadinya peningkatan temperatur (overheating) meski dalam penggunaan biasa, respons layar menjadi lambat, aplikasi yang sedang digunakan tiba-tiba tertutup, daya baterai berkurang sangat cepat dari biasanya, dan sebagainya.
Gambaran ponsel yang mengalami beban berat ini sedikit banyak menggambarkan kondisi orang percaya yang sedang membawa beban berat dalam hidupnya. Mudah terjadi “overheating,“ cara berpikir yang mengalami error, yaitu kesalahan-kesalahan dalam menimbang atau ketidaktepatan dalam mengambil keputusan, kehilangan ketajaman, daya “baterai” atau “bahan bakar” yang berkurang, sehingga daya endurance dan semangat mengiring Tuhan mengalami penurunan yang drastis.
Ingat, dalam mengiring Tuhan, Alkitab menjelaskan suatu gambaran bagi orang percaya, yaitu sebagai pelari yang harus menyelesaikan suatu perlombaan lari jarak jauh. Surat Ibrani 12:1 mengatakan bahwa hal itu merupakan perlombaan yang diwajibkan bagi setiap orang percaya.
Dalam perlombaan tersebut dikatakan bahwa orang percaya diharuskan untuk menanggalkan semua beban dan dosa yang apabila tidak disingkirkan akan dapat merintangi perlombaan itu sendiri. Artinya, menjalani perlombaan itu sendiri saja sudah merupakan sesuatu yang tidak mudah, jangan sampai ditambah-tambahkan lagi dengan beban atau bahkan dosa yang hanya akan membuat langkah seseorang menjadi semakin berat.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Ada laju lari yang melambat dialami tidak sedikit orang percaya, yang diakibatkan adanya beban-beban bertumpuk yang tidak disadari yang telah dipikul selama ini. Dan beban-beban yang dipikulnya ini beragam, sehingga akhirnya mengalami “overload” seperti contoh ponsel di atas.
Ternyata jenis beban yang dipikul orang percaya itu beragam. Ada beban yang termasuk “kategori aktivitas.” Beban jenis ini adalah tentang banyaknya aktivitas yang dikerjakan dan berbagai tanggung jawab yang harus dipikul, termasuk berbagai keputusan-keputusan strategis yang harus diambil sendiri. Kondisi seperti ini membuat orang yang memikulnya sulit memilah mana yang terpenting yang harus dilakukan sebagai prioritasnya.
Ada beban yang termasuk “kategori persoalan,” yaitu tentang berbagai problema kehidupan yang dihadapi, seperti masalah hubungan di dalam keluarga, masalah sakit penyakit, masalah di dalam usaha dan pekerjaan, kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi, ancaman dari luar, atau persoalan tentang hal masa depan, dan lain-lain,
Lalu ada beban yang termasuk “kategori encumbrance,” yaitu beban-beban yang sebetulnya tidak perlu dipikul, yang dalam Ibrani 12:1 disebut sebagai unnecessary weight. Beban kategori ini seharusnya tidak semestinya menjadi beban, namun banyak dipikul oleh orang percaya. Kategori ini mencakup masalah iri hati, kepahitan, merasa diperlakukan tidak adil, membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan banyak hal lainnya.
Beban dari berbagai ragam kategori ini akan sangat dapat memerlambat laju berlarinya seorang percaya dalam perlombaan yang diwajibkan, bahkan apabila terus dipikul dapat membuat lari seseorang menjadi terhenti.
Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu dipahami ketika mengetahui adanya beban-beban yang sedang dipikul, di antaranya adalah:
(1). Datang dan alami Tuhan
Matius 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Sumber stres terbesar manusia bukanlah tubuh yang lelah, tetapi pikiran yang lelah dan hati yang menyimpan segala kekhawatiran dan kesesakan. Itulah yang perlu dimerdekakan. Dalam keadaan stres orang biasanya menenangkan diri dengan melakukan berbagai hal yang mereka pikir dapat melepaskannya, namun ternyata hanya melupakan sesaat.
Yesus mengundang siapapun yang berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Seringkali orang percaya berkata bahwa ia sudah datang kepada Tuhan. Betul, namun kebanyakan orang datang untuk memohon agar Tuhan mengangkat masalahnya, bukan untuk mengalami Tuhan. Padahal Tuhan mengundang agar orang percaya mengalami kehadiran-Nya, sehingga mengalami kelegaan dan perubahan internal kehidupannya.
Yesaya 40:31a tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru… Kata “kekuatan” (Ibr. Koach) di sini bukan hanya berarti strength atau power saja, namun juga berbicara tentang kemampuan (ability) dan kecukupan/kelimpahan (wealth). Namun semua itu diawali dengan tindakan datang dan menanti-nantikan Tuhan (Ibr. qavah). Menanti-nantikandengan fokus perhatian hanya tentang Tuhan.
(2). Datang dan “menukar beban”
Matius 11:29-30 (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (30) Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
Ketika Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang,” terdengar seperti tidak terlalu menenangkan. Masakan harus memikul beban yang lain lagi? Namun pahami prinsip tentang kuk. Kuk adalah sepotong kayu yang ditaruh untuk menyatukan dua hewan, sehingga beban dibagi, membuat beban menjadi lebih ringan. Kuk berbeda dengan tali kekang yang membelenggu.
Dua prinsip penting tentang kuk. Pertama adalah tentang kemitraan (partnership). Yesus berkata kepada orang percaya agar Ia memikul beban ini bersamanya. Tujuannya bukan semata-mata berbagi beban dengan-Nya, namun membantu si manusia dengan segala beban yang dipikulnya. Orang percaya yang berkata ia telah datang kepada Tuhan, namun masih memikul beban yang berat, jelas belum bersatu dengan Tuhan (Matius 11:30).
Prinsip kedua tentang kuk adalah kendali. Petani memasangkan kuk pada hewan mereka agar kedua hewan bergerak ke arah yang sama, ke tempat yang sama, pada waktu yang sama, dengan kecepatan yang sama. Ketika orang percaya berkata ia satu kuk dengan Tuhan, maka ia tidak bisa bergerak lebih cepat atau lebih lambat, dan ia tidak bisa bergerak dan bersikap sekehendak dirinya, ketika seharusnya ia bergerak dan bersikap seperti yang Tuhan kehendaki.
Mari jemaat Tuhan, sebagai manusia, seorang percaya tidak dapat melihat secara langsung seperti apa laju kecepatan yang sedang ditempuhnya dalam menjalani perlombaan. Namun bersyukur, melalui pesan-Nya ini Tuhan sedang memberitahukan bahwa ada laju-laju yang melambat akibat berbagai beban yang dipikul yang apabila dibiarkan bisa akan semakin melambat bahkan bisa saja keluar dari track. Kata kuncinya adalah datang kepada Tuhan dan alami Ia sungguh-sungguh dan pikullah kuk yang Ia pasang.
Tuhan Yesus memberkati!
