APABILA TUHAN BELUM MENYATAKAN SELESAI, JANGAN KITA YANG MENYATAKANNYA SELESAI
2 Korintus 4:16-17 (16) Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (17) Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
Setelah mendirikan jemaat di Korintus, Paulus menghadapi berbagai perlawanan, baik dari luar maupun dari dalam gereja. Beberapa pemimpin menentangnya, meragukan otoritas kerasulannya, dan menuduh Paulus sebagai seorang yang tidak tulus (2:17), tidak kompeten (3:5), dan sebagainya. Intinya, orang-orang berusaha untuk menjatuhkannya (3:1), dan tujuan semua kritik itu adalah untuk menghalangi Paulus sebagai utusan Tuhan.
Ternyata serangan tidak berhenti hanya dalam bentuk kritikan dan tuduhan verbal saja, namun berlanjut kepada aniaya fisik. 2 Korintus 4:8-9mencatat bahwa rasul Paulus ditindas (ditekan dari berbagai sisi), dibuat habis akal, dianiaya, dan dihempaskan. Dari beberapa fakta yang dialami rasul Paulus ini, dapatlah disimpulkan bahwa betapa tidak mudahnya tantangan yang dialami dirinya.
Bayangkan sejenak, seandainya orang percaya berada di posisi rasul Paulus dan mengalami hal yang sama, apakah masih akan tetap mengiring Yesus dengan setia? Mungkin masih dijawab ya. Namun apakah masih tetap akan mengiring Yesus dengan berkobar-kobar atau dengan semangat tinggi?
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Melalui pesan-Nya ini Tuhan sedang mengatakan bahwa jangan pernah menyerah atau menyatakan diri sudah selesai ketika Tuhan sendiri belum menyatakannya selesai. “Menyerah” atau “menyatakan diri selesai” yang dimaksud di sini bukanlah tentang menyerah dalam artian tidak mau iring Tuhan lagi, namun menyerah pada keadaan, kehilangan daya juang, dan mengalami ketawaran hati.
Kelemahan orang percaya adalah seringkali merasa bahwa kesalahan tidak pernah berasal dari dirinya sendiri. Selalu orang lain atau keadaanlah yang menjadi penyebab ia mengendorkan larinya. Padahal Tuhan melalui firman-Nya berkata bahwa sekalipun masalah datang menerpa, atau ketika situasi sedang tidak baik-baik saja, “janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu,” “larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya,” “tanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
Sekiranya orang percaya paham filosofi perlombaan yang Tuhan maksudkan untuk diikuti, yaitu perlombaan lari jarak jauh dimana termasuk di dalamnya segala halangan dan rintangannya. Ingat latar belakang perlombaan Lari Halang-rintang (Steeplechase) dan Lari Maraton. Prinsip berlari inilah yang dihidupi oleh rasul Paulus ketika ia mengalami berbagai halangan, tantangan, dan aniaya (2 Korintus 4:8-9). Ia paham bahwa apabila Tuhan belum menyatakan dirinya selesai, maka ia tidak pernah menyatakan dirinya selesai.
Jadi apa yang harus ditangkap oleh orang percaya agar terus berlari bergerak maju sampai Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa ia sudah selesai? Beberapa di antaranya adalah:
(1). Miliki senantiasa “bahan bakar” yang tidak pernah membuat padam
2 Korintus 4:7-9 (7) Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
Inilah rahasia kekuatan yang dimiliki oleh rasul Paulus dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan di dalam hidupnya. Ia memiliki “bahan bakar” yang tidak pernah habis sepanjang perlombaan kehidupan yang dijalaninya. Bukan sekedar roti atau nasi dengan lauk pauknya, namun “harta yang tersimpan dalam bejana tanah liat.”
Bejana tanah liat adalah wadah yang sering dipakai dalam dunia kuno. Bejana ini digunakan untuk banyak hal, seperti menyimpan air, minyak zaitun, anggur, biji-bijian bahkan menyimpan harta kekayaan, termasuk gulungan-gulungan firman. Penggalian arkeologi banyak menemukan guci dari bahan tanah liat yang lebih bertahan lama dibandingkan wadah-wadah lain, dimana di dalamnya masih tersimpan dengan baik banda-benda berharga seperti gulungan kitab suci zaman dulu.
Ini yang rasul Paulus katakan tentang kuasa firman Tuhan yang tersimpan dan mengalir di dalam dirinya memberikan kuasa dan kekuatan. Betapa kuasa firman Tuhan yang apabila sungguh-sungguh dihidupi akan menjadi “bahan bakar” yang luar biasa di dalam dirinya. Menumbuhkan iman, memberikan kekuatan dan motivasi untuk terus melakukan dan menyelesaikan perlombaan, sambil memberikan pengertian dan arahan untuk tetap melangkah ke arah yang benar di tengah tekanan.
(2). Miliki pengharapan dan tujuan yang benar dalam mengiring Tuhan
2 Korintus 4:16-17 (16) Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (17) Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
Menurut hukum ilmu kesehatan, ada sesuatu yang tidak bisa disangkal bahwa manusia lahiriah itu akan semakin merosot. Ini berbicara tentang semua bagian tubuh, termasuk fungsi organ, otot, tulang, dan sebagainya. Oleh sebab itu, jaga agar jangan si manusianya yang membuat semua itu menjadi merosot sebelum waktunya.
Namun ingat, ternyata bukan manusia lahiriah saja yang harus diperhatikan, ada manusia batiniah yang harus terus dibaharui dari sehari ke sehari, bukan dari seminggu ke seminggu, atau sebulan ke sebulan. Ingat, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Tuhan. Ini berbicara tentang membangun persekutuan intim dengan Tuhan.
Tujuan semua ini adalah untuk memersiapkan diri orang percaya akan sesuatu yang luar biasa yang Tuhan sudah persiapkan di depan sana. Sehingga apapun halangan dan rintangan yang terjadi, apabila orang percaya membangun “manusia-manusia” yang ada di dalam dirinya, selelah apapun keadaan yang dihadapinya, ia tetap bugar dan semangat dalam mengadapinya. Ini pula yang ditangkap oleh rasul Paulus. Ia tahu, ada kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan yang ia alami (4:17).
Mari jemaat Tuhan, apabila memahami rencana Tuhan yang luar biasa, apapun keadaan yang dihadapi, dengan tubuh lahiriah dan batiniah yang bugar maka seharusnya setiap orang percaya akan mampu menghadapinya bahkan terus berlari spdegan semangat hingga mencapai apa yang telah disediakan Tuhan di hari-hari ke depan.
Tuhan Yesus memberkati!
