Bagaimana dengan Jalanmu? (How is Your Walk?) (Pesan Gembala, 20 September 2026)

BAGAIMANA DENGAN JALANMU? (HOW IS YOUR WALK?)

Kejadian 5:22-24 (24) Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah , lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. 

Pertanyaan ini bukan tentang gerakan langkah kaki seseorang ketika ia berjalan. Bukan pula tentang berapa langkah yang dihabiskan seseorang dalam satu hari berjalan. Pertanyaan ini adalah tentang kualitas spiritual seseorang dalam melakukan perjalanan pengiringannya kepada Tuhan. Apakah ada atau tidaknya pergaulan yang dijalin bersama Tuhan.

Ayat di atas mencatat kisah seorang keturunan ke tujuh dari Adam yang bernama Henokh. Generasi demi generasi sebelum Henokh, umat manusia hidup di bawah bayang-bayang dampak dosa Adam. Setiap akhir perjalanan nama-nama yang tercatat, selalu diakhiri dengan kata “lalu ia mati.” Tetapi tepat di tengah-tengah catatan kematian ini, Henokh tampil berbeda dari yang lain.

Kejadian pasal 5 menuliskan suatu ringkasan hidup Henokh yang singkat namun berbeda: “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah.” Kata “bergaul” yang digunakan di sini adalah hith’halekh, yang berarti: berjalan bersama-sama dengan Tuhan atau walking around with God. Kemudian dilanjut dengan kalimat: lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Henokh memutus siklus kematian bukan dengan kekuatannya sendiri, tetapi melalui gaya hidup persekutuan dengan Tuhan yang karib, sehingga Tuhan seolah-olah melewati kematian dan membawanya pulang.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan melalui pesan-Nya ini sedang menanyakan kepada umat-Nya tentang kualitas jalan seperti apa yang sedang dijalani saat ini dalam pengiringan kepada Tuhan? Ini yang menjadi bahan perenungan bagi umat yang menerimanya.

Sebagai contoh, seandainya pertanyaan pesan Tuhan ini ditanyakan kepada bangsa Israel yang pada waktu dulu berada dalam perjalanan dari Mesir menuju ke Tanah Perjanjian, tentunya akan didapati jawaban yang beragam. Mulai dari umat yang berjalan dalam kesuaman, ketidakmengertian, hingga pribadi-pribadi yang berjalan dalam gairah dan semangat bernyala karena jalinan kedekatan dan penyertaan Tuhan yang begitu nyata atas mereka.

Kesuksesan hidup seorang pemercaya adalah seberapa ia dapat menangkap kehendak Tuhan dalam kehidupan dan menjalaninya seperti yang Tuhan mau. Dan hal itu tidak dapat diperoleh begitu saja, kecuali bersedia untuk berjalan bersama Kristus dalam keintiman.

Menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali, hidup berjalan dalam keintiman merupakan standar yang harus dimilki oleh para calon mempelai-Nya. Ingat bahwa persiapan itu harus dimulai dari sejak sekarang. Menjadi intim dan dewasa itu tidak bisa dicapai dalam waktu semalam, perlu sebuah perjalanan karib bersama Kristus hari lepas hari. 

Beberapa hal yang perlu dipahami agar seorang pemercaya dapat berjalan dalam kedekatan dengan Tuhan, di antaranya adalah:

(1). Berjalan bersama Tuhan membutuhkan iman

Kejadian 5:24 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. 

Kata “hidup bergaul” (Ibr. hith’halekh) dalam arti harfiahnya adalah “walk constantly with God” atau berjalan terus-menerus bersama Allah. Perjalanan Henokh berjalan bersama Tuhan bukanlah tanpa halangan. Ia hidup di zaman dimana orang-orang sudah menjauh dari Tuhan akibat dosa yang dilakukan Adam dan Hawa beberapa generasi sebelumnya. Ia hidup dimana sama sekali tidak ada siapapun yang dapat dijadikan panutan ataupun orang yang dapat membimbing dirinya.

Perintah Tuhan bagi umat Tuhan hari ini untuk berjalan bersama-Nya dalam keintiman juga bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, mengingat umat Tuhan hidup di zaman dimana orang-orang memilih untuk hidup dengan cara yang berbeda dengan kehendak Tuhan. Semua harus serba nyata terlihat dulu baru dihargai.

Belum lagi umat Tuhan berjalan bersama pribadi Yesus yang tidak terlihat secara fisik. Berbeda dengan zaman Yesus dimana murid-murid dapat melihat Yesus secara langsung. Oleh sebab itu, dibutuhkan iman yang teguh dan konsisten untuk seorang percaya dapat berjalan bersama Tuhan secara terus menerus (Ibrani 11:5-6).

(2). Berjalan Bersama Tuhan adalah tentang menjalin kedekatan yang melibatkan durasi waktu

Kejadian 5:21-24 (21) Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. (22) Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Perhatikan kata “bergaul” dalam bahasa aslinya hith’halekh memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan pihak lain. Artinya, pada waktu dikatakan Henokh “bergaul” dengan Tuhan, ia belajar mengenal Tuhan dengan baik dan melibatkan waktu bersama-Nya. Butuh durasi waktu yang berkualitas dan usaha untuk mengenal suau pribadi.

Seseorang tidak dapat membangun hubungan tanpa waktu yang cukup, baik kuantitas maupun kualitas. Apabila seorang pemercaya ingin berjalan lebih dekat dengan Tuhan, ia perlu meluangkan suatu waktu tertentu bersama-Nya. Ada waktu untuk firman Tuhan, berdoa, mendengarkan suara-Nya, dan persekutuan-persekutuan lainnya dengan Tuhan. 

(3). Berjalan Bersama Tuhan adalah tentang mengalami sesuatu yang luar biasa

Kejadian 5:24 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. 

Peristiwa Henokh dikatakan “lalu ia tidak ada lagi” merupakan suatu peristiwa yang luar biasa. Henokh dinyatakan tidak pernah pulang lagi ke tempat tinggal asalnya di bumi. Bayangkan apa yang dirasakan oleh anggota keluarga maupun orang-orang di masa itu ketika didapati Henokh sudah tidak ada lagi.

Hal luar biasa yang sama juga dialami oleh Nuh. Nuh dikatakan dalam Kejadian 6:9 adalah yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya dan ia hidup bergaul dengan Allah. Kata hith’halekh yang sama digunakan pada Nuh. Ada waktu-waktu kebersamaan yang dijalin Nuh dengan Tuhan. Ketika Tuhan memiliki “proyek besar” untuk membangun sebuah bahtera, maka tidaklah heran Nuh dilibatkan Tuhan di dalamnya. Karena Tuhan mendapati hanya Nuh yang dapat menangkap spesifikasi yang diberikan Tuhan untuk pekerjaan besar itu.

Mari jemaat Tuhan, pesan ini bukan untuk ditangkap semata-mata sebagai teguran Tuhan bagi umat-Nya, namun ini adalah tentang seorang Bapa yang sedang bertanya kepada anak-anak yang sangat dikasihi-Nya tentang kualitas perjalanan apa yang sedang dijalani oleh masing-masing anak. Tujuan-Nya adalah agar setiap anak-anak-Nya dapat tiba di tujuan dimana sang Bapa sedang menantikannya. 

Tuhan Yesus memberkati!

Bagaimana dengan Jalanmu? (How is Your Walk?) (Pesan Gembala, 20 September 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-