Tidak Ada Alasan! (No Excuses!) (Pesan Gembala, 23 Agustus 2026)

TIDAK ADA ALASAN! (NO EXCUSES!)

Yeremia 1:5-6 (5) “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (6) Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”

Dalam ilmu psikologi, manusia cenderung mencari alasan untuk menutupi kekurangannya, kelemahannya, keengganannya, ketidakmampuannya, dan sebagainya. Dan ini sudah terjadi sejak zaman Adam dan Hawa. Setelah sadar bahwa mereka telah memakan buah yang Tuhan katakan jangan dimakan, Adam dan Hawa mulai mencari-cari alasan. Adam berdalih bahwa kesalahan itu terjadi bukan karena dirinya. Ia menyalahkan Hawa yang Tuhan telah berikan.

Bisa dikatakan bahwa hari ini manusia hidup dalam masyarakat yang umumnya berorientasi pada alasan. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya harus berubah namun ia belum mampu melakukannya, ia lalu memberikan sejumlah alasan ini dan itu untuk mendukung pendapatnya.

Atau ketika seseorang dipercayakan suatu tugas besar oleh Tuhan dan ia merasa tugasnya terlampau berat bagi dirinya, maka ia menyampaikan sejumlah alasan agar jangan dirinya dipercayakan hal tersebut. Ini yang terjadi pada Yeremia.

Yeremia dipanggil Tuhan untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (Yer. 1:5). Jelas ini bukanlah tugas yang ringan tentunya. Ini sebuah tugas yang harus dipikul baik-baik disertai dengan komitmen dan tanggung jawab besar. Seorang nabi adalah juru bicara Tuhan yang menyampaikan perkataan Tuhan kepada umat-Nya atau kepada siapapun.

Apabila hanya menyampaikan kata-kata pujian tentu lebih mudah, karena tahu bahwa orang yang menerimanya pasti menyukainya. Namun apabila yang diperintahkan Tuhan adalah perkataan teguran atau seruan pertobatan, jelas ini bukan hal yang mudah. Maka mulailah Yeremia mengajukan alasan, bahwa janganlah Tuhan menunjuk dirinya, karena ia masih muda dan tidak pandai bicara (Yer. 1:6).

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Alasan atau dalih adalah musuh kemajuan rohani orang percaya. Tuhan hendak membawa umat-Nya kepada sesuatu hal yang baru. Sayangnya, ketika Tuhan memanggil umat-Nya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, atau kepercayaan untuk melayani, atau suatu seruan untuk bertobat, disadari atau tanpa disadari, mereka yang merasa belum mampu melakukannya seringkali menyampaikan berbagai alasan kepada Tuhan.

Penyebab mengapa orang percaya suka melakukan berbagai alasan di antaranya adalah untuk membenarkan dirinya sendiri, atau merasa belum siap untuk suatu perubahan. Kadang orang masih nyaman dengan keadaan yang sekarang padahal Tuhan sedang hendak membawanya naik. Orang yang sering berdalih sebetulnya sedang menunjukkan dirinya masih berada di level mediocre (rata-rata), bukan excellent.

Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu dipahami agar menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab dalam mengemban atau melakukan apapun yang Tuhan berikan, di antaranya adalah:

(1). Belajar untuk mengakui, lalu minta kemampuan dan kekuatan dari Tuhan

Yeremia 1:8-9 (8) Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (9) Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.

Merasa diri masih sebagai anak yang muda usia untuk tugas sebagai nabi adalah alasan keberatan yang disampaikan Yeremia kepada Tuhan untuk tidak menerimanya. Padahal sesungguhnya di dalam diri Yeremia ada ketakutan-ketakutan lain yang tidak dapat ia bayangkan, dan Tuhan tahu hal itu.

Memang, menyampaikan perkataan Tuhan kepada bangsa yang tegar tengkuk dan suka mencemooh sungguh bukan hal yang mudah. Israel pada waktu itu adalah bangsa yang bahkan kepada Tuhan saja seringkali tidak takut, apalah arti dirinya, demikian pikir Yeremia.

Oleh sebab itu, mengetahui kekuatiran-kekuatiran yang dialami Yeremia, Tuhan memberikan jaminan kepada Yeremia agar ia tidak menjadi takut, sebab Tuhan akan menyertai serta menaruh perkataan-perkataan-Nya ke dalam mulut Yeremia (Yer. 1:8-9).

Apapun yang umat Tuhan kuatirkan, takutkan, atau mungkin merasa berat dalam melakukan perintah-perintah Tuhan tertentu, yang diinginkan Tuhan adalah sampaikanlah segala sesuatu dengan jujur, bukan berdalih. Maka percayalah, Tuhan akan memberikan kemampuan bahkan menopangnya.

(2). Belajar menangkap tujuan Tuhan, lalu berjalan dalam tuntunan-Nya

Yeremia 1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.”

Kata “melepaskan” berasal dari kata nasal yang artinya bukan dilepaskan lalu ditinggal begitu saja, melainkan dilontarkan dalam kendali Tuhan untuk tujuan membebaskan, menyelamatkan, merebut, membangun, dan menanam. Betapa luar biasa bukan?

Seperti seorang pemanah yang mengambil anak panahnya, lalu melesatkan anak panahnya dengan menggunakan busur ke arah target yang dikehendakinya. Seperti itulah Tuhan terhadap umat-Nya. Apabila Tuhan adalah pemanahnya, maka titik bulat merah di tengah adalah target Tuhan. Ke titik sasaran itulah Tuhan akan membawa umat-Nya. Yang menjadi masalah, ketika Tuhan hendak “melesatkannya,” tidak sedikit umat Tuhan yang beralasan ini dan itu.

Mari umat Tuhan, bukan Tuhan tidak memerhatikan hidup umat-Nya, namun Tuhan memiliki rancangan dan tujuan yang luar biasa. Tuhan ingin umat-Nya fokus terhadap tuntunan Tuhan, apa yang sedang Tuhan siapkan, tanggung jawab apa yang Tuhan mau umat-Nya emban. Namun sayangnya, fokus umat Tuhan lebih tertuju kepada dirinya dan kepada kemampuannya sendiri.

Tuhan Yesus memberkati!

Tidak Ada Alasan! (No Excuses!) (Pesan Gembala, 23 Agustus 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-