Siapa Yang Memerlukan Tabib? (Pesan Gembala, 18-08-2019)

Matius 9:9-13 (12) Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. 
 
Kisah ini diawali ketika Yesus melihat seorang pemungut cukai yang bernama Matius sedang duduk di rumah cukai, lalu Ia mengajaknya pergi untuk mengikut-Nya. Kemudian ketika Yesus diundang makan di rumah Matius, datanglah orang Farisi mencemooh keberadaan Yesus yang sedang duduk makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa lainnya. Betapa alerginya orang Farisi melihat para pemungut cukai tersebut. Ada protes dari kaum Farisi terhadap rekrutmen Matius sebagai murid Yesus. 
 
Jika yang direkrut Yesus menjadi murid-murid-Nya datang dari kaum awam seperti nelayan atau penjala ikan mereka mungkin masih dapat menerimanya. Namun sangat tidak habis pikir bagi kaum Farisi jika Yesus sampai harus mengangkat Matius seorang pemungut cukai menjadi murid-Nya. Bukan itu saja, mereka melihat  Yesus bahkan makan dan minum di rumah pemungut cukai itu. Keberatan ini karena orang Farisi menilai pemungut cukai adalah orang yang sangat rendah, pemeras rakyat dan sekaligus orang-orang yang bekerja sama dengan penjajah Romawi. 
 
Inilah gambaran sikap orang Farisi yang selalu menganggap kehidupan agamanya lebih suci, lebih murni dan lebih dekat kepada Tuhan. Mereka menganggap diri lebih dekat kepada Tuhan karena merasa mencintai Taurat Tuhan lebih daripada orang lain tanpa pernah menyadari bahwa dirinya berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan. Sikap mereka ini selalu sinis terhadap Yesus, ajaran-ajaran-Nya, termasuk juga terhadap orang-orang yang dipilih-Nya sebagai murid. 
 
Mendengar perkataan dan sikap orang-orang Farisi ini, maka Yesus berkata: Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Perkataan Yesus ini sangatlah logis dan mendasar bahwa memang orang sakitlah yang membutuhkan tabib agar dapat disembuhkan. Itulah sebabnya, mengapa Yesus perlu mendatangi Matius dan mengajaknya pergi mengikut-Nya. Yesus memang datang untuk mencari yang hilang, Dia datang untuk membalut mereka yang terluka dan menyembuhkannya. 
 
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di minggu ini, bahwa Ia hadir di tengah-tengah umat-Nya dan di tengah-tengah manusia yang membutuhkan kesembuhan bagi segala sakitnya. Tuhan sedang mengajarkan kepada setiap kita, bahwa banyak orang-orang yang sakit di sekeliling kita, namun bukan hanya semata-mata sakit jasmaninya saja melainkan juga rohaninya. Dan mereka semua itu membutuhkan kesembuhan. 
 
Kisah di atas sedang mengajarkan kepada kita, dimana posisi kita dalam kisah tersebut. Apakah kita berada di posisi sebagai orang yang sedang menuntun “pemungut cukai” yang dikategorikan sebagai orang berdosa, ataukah seorang yang sedang merendahkan hati untuk bersedia dibimbing dan diajar, atau barangkali seorang yang berada di posisi sebagai orang Farisi yang hanya bisa mengomentari keadaan orang lain yang berbeda dengannya? 
 
Beberapa kategori yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:
(1). Mereka yang bersikap sebagai orang sakit yang “sehat” 
 
Mat. 9:9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. 
 
Pekerjaan Matius atau Lewi dalam bahasa Ibraninya adalah seorang pemungut cukai. Saat itu Israel ada di bawah pemerintahan Romawi yang memungut cukai dari orang Israel. Mereka memerkerjakan orang-orang Israel untuk dijadikan kepanjangan tangan dari Romawi dalam pemungutan pajak. Orang-orang seperti itu jelas sangat dibenci oleh masyarakat Israel. Bahkan dalam pengajaran para rabi, pemungut cukai bahkan disebut sebagai orang-orang yang tidak memiliki pengharapan dan dikucilkan dari segala ritual keagamaan. Mereka disebut sebagai golongan orang berdosa. 
 
Dengan latar belakang demikian, ketika Yesus datang dan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” apapun yang sedang diperbuatnya ia segera berdiri dan meninggalkan segala sesuatunya, lalu mengikut Yesus. Panggilan dan pilihan Yesus ia sambut dengan sukacita. Ia tidak memertanyakan dirinya mau dibawa kemana oleh Yesus. Matius segera mengenali siapa yang telah mengajak dirinya, ia percaya bahwa Yesus akan menuntunnya dan akan memberikan pengharapan dan arah hidup yang lebih baik kepadanya. Matius menyadari dirinya sedang sakit, namun kesehatan jiwanya segera mengenali siapa yang telah mengajaknya. 
 
(2). Mereka yang bersikap sebagai orang sehat yang “sakit” 
 
Mat. 9:11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” 
 
Sikap inilah yang ditunjukkan orang-orang Farisi yang melihat bahwa sangatlah tidak pantas melihat Yesus sedang duduk makan di tengah-tengah kumpulan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Sebetulnya, alasan Matius mengundang Yesus makan di rumahnya adalah ungkapan rasa syukur dan sukacitanya atas Yesus yang memandang dirinya sebagai orang yang patut mendapat kasih dan pengampunan. Masyarakat memandangnya sebagai sesuatu yang najis, namun Yesus memandangnya berbeda. 
 
Mendengar perkataan dan sikap orang-orang Farisi ini, maka Yesus dengan tenang berkata: Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Siapakah yang dimaksud dengan “orang sakit” oleh Yesus dalam hal ini? Setiap kita pasti setuju bahwa Matiuslah yang dimaksudkan oleh Yesus. Jelas sekali bahwa ia membutuhkan pertolongan dalam hidupnya. Namun jangan lupa, Yesus juga sedang mengarahkan perkataan-Nya ini juga kepada orang-orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang juga membutuhkan kesembuhan atas “sakitnya”, namun mereka tidak menyadarinya. 
 
Mari jemaat Tuhan, melalui pesan-Nya ini Tuhan sedang mengajarkan sesuatu pelajaran penting bagi kita, bahwa penting bagi kita untuk senantiasa “memeriksakan” kesehatan diri kita di hadapan-Nya. Datang dan akuilah di hadapan-Nya sekiranya ada bagian-bagian yang kita dapati kurang sehat dan mintalah agar Ia menjamah dan memulihkan diri kita. Ia Tabib yang ajaib! 
 
Tuhan Yesus memberkati! 

Siapa Yang Memerlukan Tabib? (Pesan Gembala, 18-08-2019)

| Warta Jemaat |
About The Author
-