Ketika Jalan Menjadi Terjal dan Mendaki, Pesan Gembala 6 Agustus 2023

KETIKA JALAN MENJADI TERJAL DAN MENDAKI

2 Samuel 15: 30 Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis. 

Kisah ini adalah peristiwa dimana Daud pada waktu itu sudah menjadi raja atas Israel. Posisi Daud pada waktu itu sudah menjadi raja yang mapan. Masa-masa sulitnya sudah lama berlalu. Namun suatu hari salah satu anak Daud yang bernama Absalom merasa sakit hati terhadap Daud ayahnya yang selama itu telah mengabaikan dirinya. Maka direncanakanlah kudeta untuk menggulingkan tahta ayahnya.

Absalom dengan segala kelicikannya telah diam-diam mengambil hati rakyat Israel daripada Daud. Setelah Absalom merasa telah mendapat dukungan dari rakyat, ia kemudian mengangkat dirinya menjadi raja di Hebron. Merasa diri telah menjadi kuat, maka ia bersiap masuk ke Yerusalem untuk menggulingkan Daud dari tahta raja Israel. Absalom dengan kekuatannya mulai masuk mendatangi Yerusalem.

Mendengar bahwa Absalom bersama-sama orang yang mengikuti bergerak menuju Yerusalem, maka Daud memutuskan untuk pergi meninggalkan istana. Diikuti oleh orang-orangnya yang setia Daud menyingkir menjauh. Daud benar-benar berada di dalam masalah yang tidak mudah, karena kali ini orang yang melawannya adalah anaknya sendiri. Ayat di atas menggambarkan bagaimana Daud meninggalkan istana dengan terburu-buru, mengenakan kasut pun tidak. Perjalanan Daud yang terjal dan mendaki kembali dimulai.

Melalui kisah ini kita akan belajar apa yang disebut dengan “respon benar” ketika menghadapi masalah. Bagaimana Daud bersikap menghadapi kawan dan lawan yang tidak lain adalah anaknya sendiri.

Setiap kita tentunya pernah atau mungkin sedang menghadapi problema. Karena pada prinsipnya manusia tidak bisa menghindar dari yang namanya problema, tetapi yang terpenting adalah bagaimana sikap atau reaksi kita pada saat menghadapi persoalan itu sendiri.

Ketika kita mempunyai sikap yang benar, maka biasanya kita akan lebih dapat menghadapi masalah itu dengan baik. Karena poin sesungguhnya bukan pada ukuran dan jenis masalahnya, namun bagaimana reaksi kita menghadapi persoalan tersebut. Persoalan kecil pun dapat menjadi buruk ketika kita berespon salah, dan sebaliknya. 

Jangan mudah menyerah ataupun pesimis ketika menghadapi persoalan. Bersama Tuhan selalu ada jalan keluar dan tidak ada jalan buntu. Tuhan juga akan selalu memberikan kita kekuatan di dalam menghadapi setiap persoalan, semua masalah pasti dapat kita tanggung di dalam Dia (Flp. 4:13). Selain itu kita juga harus dapat menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, bergantunglah hanya pada-Nya dan jangan memakai kekuatan diri sendiri, sebab kemampuan kita sebagai manusia sangat terbatas, sedangkan kuasa Tuhan tidak terbatas.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita. Lewat pesan-Nya ini, Tuhan mau kita belajar dari seorang yang bernama Daud. Sama halnya dengan yang dialami oleh Daud, mungkin kita pun sedang diijinkan Tuhan menjalani sebuah perjalanan yang terjal dan mendaki yang harus tempuh. Hal ini mungkin sesuatu yang tidak enak, namun akan menjadi berat apabila kita menggunakan kekuatan sendiri.

Melalui pesan-Nya ini Tuhan sedang mengatakan bahwa Ia sesungguhnya sedang menyiapkan suatu “kendaraan” bagi kita yang mau mengikuti arahan Tuhan untuk membawa kita naik ke “atas gunung” kemenangan. Bagaikan kendaraan “four wheel drive” (berpenggerak empat roda) yang begitu mudah membawa kita naik ke atas gunung. Bagi yang pernah menggunakan truk tentara atau jeep tentu bisa membayangkan betapa mudahnya kendaraan tersebut naik melintasi medan yang terjal dan mendaki.

Beberapa sikap luar biasa yang Daud lakukan membuat kemenangan kembali ada di pihaknya, beberapa di antaranya adalah:

(1). Masalah tidak membuat fokus kepada Tuhan menjadi teralihkan

2 Sam. 15:25 Lalu berkatalah raja kepada Zadok: “Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya.

Yang kerap terjadi pada tidak sedikit orang percaya adalah justru ketika masalah datang, fokusnya seringkali beralih kepada hal yang lain yang ia anggap lebih penting dari Tuhan. Butuh sesuatu yang mereka pikir dapat menghibur dirinya pada saat masalah sedang menekan. Dari sinilah lahir istilah “healing,”  yaitu aktifitas luar rumah yang dilakukan untuk menjauhkan diri dari masalah dan berharap masalah akan selesai dengan sendirinya.

Mengapa Daud menyuruh Zadok untuk membawa kembali Tabut ke Yerusalem? Sudah menjadi kebiasaan bagi raja-raja di Israel untuk selalu membawa Tabut Allah di dalam setiap peperangan yang mereka hadapi. Tabut Allah dipercaya sebagai lambang kehadiran Allah atas umat-Nya. Dimana Tabut Allah berada, mereka percaya bahwa di situ pasti kemenangan terjadi. Bahkan pihak musuh sendiri (di dalam berbagai peperangan) sangat sadar sekali, bahwa ketika umat Israel tampil dengan membawa Tabut Allahnya, maka mereka sudah pasti kalah.

Yang menarik kali ini adalah bahwa raja Daud meminta agar Tabut Allah dibawa kembali ke Yerusalem. Apa yang terjadi dengan Daud ? Mengapa Daud merasa tidak perlu membawa Tabut? Ternyata ada sesuatu yang menarik disini. Bagi umat Israel umumnya kehadiran Tuhan direpresentasikan oleh Tabut Allah, sedangkan bagi Daud kehadiran Tuhan tidak semata-mata hanya pada Tabut Allah saja, namun ada dalam hatinya. Karena bagi Daud, Tuhan Allahnya adalah Allah yang hidup yang tidak berdiam pada benda bernama Tabut Allah semata-mata.

Sejak Daud masih sebagai seorang penggembala kambing domba muda ia sudah terbiasa menjalin keintiman secara pribadi dengan Tuhan. Jadi bagi Daud, biarkan Tabut Allah tetap berada di Yerusalem agar rakyat tetap merasa aman. Baginya, Allah yang ia sembah yang bersemayam di hidupnyalah yang akan menuntun di setiap langkah yang akan ditempuhnya. Itulah kemenangan awal yang sudah berada di genggaman Daud.

(2). Masalah bukanlah sesuatu yang tanpa akhir. Namun panjang pendeknya seringkali ditentukan oleh diri orang percaya sendiri.

2 Sam. 15:25b … jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya.

Alasan mengapa Daud berkata bahwa jika ia mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Tuhan akan mengizinkan ia kembali, sehingga ia akan melihat Tabut Allah lagi adalah Daud tahu bahwa ia akan memenangi masalah yang ia hadapi ini. Daud bukannya sedang menyepelekan masalah yang ia hadapi. Buktinya Daud dan anak-anak buahnya memilih untuk menyingkir dari istana. Ia tahu bahwa Absalom anaknya ini tidak main-main. Kudeta yang dilakukannya akan dapat menyebabkan pertumpahan darah habis-habisan.

Namun yang luar biasa, Daud yakin bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan kepadanya. Meskipun caranya seperti apa Daud masih belum tahu. Namun yang pasti, ia percayalah bahwa Tuhan akan membelanya, sehingga ia akan kembali pulang dengan kemenangan di tangannya.

Daud bukan sedang asal beriman, namun ia memiliki dasar yang kuat, sebagaimana definisi iman dalam Ibrani 11:1, yaitu dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Bahwa beriman itu harus ada dasarnya, dan dasarnya adalah perkataan Tuhan atau janji Tuhan. Daud memiliki janji Tuhan bahwa ia telah diurapi untuk menjadi raja bagi bangsa Israel. Dan Tuhan telah mengatakan akan memercayakan serentetan peristiwa-peristiwa yang luar biasa lebih lagi dalam hidupnya. Dan Tuhan juga telah berfirman bahwa anaknya Salomolah yang kelak akan menjadi raja sesudah dirinya. Jadi ia percaya bahwa hidupnya tidak akan berakhir dengan cara penggulingan kekuasaan seperti saat itu.

Mari umat Tuhan, ketika kita diijinkan Tuhan untuk melewati jalan yang terjal dan mendaki, miliki cara pandang dan cara berespon yang benar, bahwa akan ada kemenangan di atas sana. Yang penting, teruslah berjalan naik bersama Tuhan. Masalah seharusnya menjadi titik balik kehidupan kita: akan menjadi semakin naik dan mengenal Tuhankah kita? Atau akan menjadi semakin merosot dan menjauhkah kita dari Tuhan. Keputusan ada di tangan kita. Selamat mengambil keputusan yang benar.

Tuhan Yesus memberkati!

Ketika Jalan Menjadi Terjal dan Mendaki, Pesan Gembala 6 Agustus 2023

| Warta Jemaat |
About The Author
-