KESETIAAN TUHAN DI TENGAH BADAI
Markus 6:50 sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Pengertian tentang badai di satu negara berbeda dengan negara lain. Bagi negara beriklim tropis dimana hanya ada dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan, menghadapi hujan adalah hal yang biasa. Bahkan hujan yang disertai tiupan angin besar sekalipun masih disebut sebagai hujan, bukan badai.
Padahal, bagi negara lain, hujan dengan tiupan angin seringkali sudah disebut badai. Jadi pengertian badai bisa berbeda-beda, baik level maupun jenisnya. Namun badai yang dimaksud dalam pesan ini bukanlah badai dalam pengertian harafiah, melainkan “badai” yang merupakan suatu situasi tertentu, yang tidak mudah, yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Badai yang acapkali diijinkan untuk terjadi sebagai bagian dalam kehidupan seseorang. Dan tentunya ada maksud Tuhan di balik setiap badai yang terjadi.
Selesai peristiwa mujizat “lima roti dan dua ikan,” Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk segera naik ke perahu dan pergi mendahului-Nya dengan tujuan ke seberang danau atau tepatnya Betsaida. Yesus sendiri tidak ikut bersama-sama dengan para murid, karena Ia hendak naik ke bukit untuk berdoa.
Lalu sementara murid-murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai tiba-tiba datanglah angin sakal. Seketika itu juga perahu yang mereka naiki diombang-ambingkan badai dengan hebatnya. Angin sakal itu adalah angin yang bertiup berlawanan arah.
Meskipun pengalaman diterpa badai bukanlah peristiwa yang pertama kali murid-murid alami, namun mengatasi angin yang datang menerpa dari arah yang berlawanan bukanlah perkara yang mudah. Mereka dibuat hampir tenggelam karenanya.
Ketika Yesus melihat betapa payahnya mereka mendayung, kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air. Ia naik ke atas perahu, dan tidak lama kemudian redalah badai. Namun sayangnya, peristiwa yang terjadi ini tidak membuat murid-murid menjadi mengerti. Hati mereka dikatakan tetap degil (ayat 52).
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan hanya mengatakan bahwa Ia setia di setiap keadaan apapun yang anak-anak-Nya sedang hadapi. Bahkan dalam keadaan menghadapi badai besar sekalipun, seperti yang dialami oleh murid-murid Yesus pada waktu itu, Ia senantiasa hadir. Dan Ia hadir bukan hanya di bagian akhir peristiwa saja yaitu ketika hari menunjukkan pukul 3 malam menjelang fajar, namun Ia hadir memegang kendali atas seluruh rangkaian peristiwa.
Hal yang sama pula, apapun yang sedang umat Tuhan hadapi saat ini, ingat bahwa Tuhan sedang memegang kendali atas semua yang terjadi. Bagian umat-Nya adalah jangan pernah takut. Karena Tuhan selalu mengawasi dan bersyafaat bagi umat-Nya (Markus 6:47-48).
Yang kedua adalah tangkap pelajaran penting apa di balik setiap peristiwa yang terjadi. Tuhan tidak mau umat-Nya mengalami gagal paham seperti yang dialami murid-murid Yesus ketika itu. Bayangkan, pertumbuhan rohani yang seperti apa yang akan dialami oleh seorang pemercaya apabila melalui peristiwa demi peristiwa yang dialami tetap tidak membuatnya mengerti.
Jadi mari pahami dan tangkap pelajaran apa yang Tuhan sedang mau ajari di tengah situasi “badai” yang dihadapi, beberapa di antaranya adalah:
(1). Tuhan kadang “memaksa” umat-Nya masuk ke mata pelajaran yang baru tanpa dapat memilihnya
Markus 6:45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
Di saat para murid dan beribu-ribu orang sedang menikmati mujizat yang dilakukan Yesus dalam membagi-bagikan roti dan ikan kepada sejumlah besar orang di atas bukit, Yesus kemudian seakan-akan tidak memberi kesempatan bagi para murid untuk menikmatinya, langsung saja Ia membawa para murid menuruni bukit berjalan ke arah tepi danau untuk menyuruh murid-murid segera naik ke atas perahu.
Perhatikan kata “memerintahkan” di Markus 6:45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu. Kata “memerintahkan” yang digunakan di sini adalah anagkazo yang artinya memaksa. Di versi Amplified bahasa Inggris jelas terlihat, yaitu: Jesus immediately insisted that His disciples get into the boat..
Tuhan memang mengizinkan umat-Nya memiliki momen-momen di mana bisa berkata puji Tuhan untuk mujizat-Nya. Tetapi ingat, ada saat-saat dimana Tuhan seolah-olah berkata: “Mari segera move on, jangan berlama-lama melihat ke belakang,ada mata pelajaran baru yang penting yang harus segera kamu ikuti. Mungkin kalian ga suka, tetapi pelajaran ini penting dan baik buat kamu.”
(2). Tuhan mau umat-Nya belajar melihat dan mendengar Dia di tengah badai, bukan saja Dia yang melihat umat-Nya
Markus 6:47-48 (47) Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.(48) Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
Entahkah berapa lama murid-murid berjuang mengatasi gelombang tanpa ada hasil. Yang pasti cukup lama. Bayangkan, peristiwa 5 roti 2 ikan itu terjadi saat sore menjelang malam. Waktu Yesus datang berjalan di atas air adalah jam tiga malam menjelang pagi. Ada rentang waktu perjuangan di tengah-tengahnya.
Apakah Yesus tidak tahu apa yang sedang murid-murid alami di rentang waktu menghadapi badai itu? Ayat 48 mengatakan bahwa Yesus mengetahui apa yang dialami para murid. Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung.. Hal ini menyatakan bahwa Yesus sedang bersyafaat, mengikuti dan memerhatikan para murid yang sedang berjuang tersebut. Ia pegang kendali atas apa yang sedang terjadi.
Inilah situasi dimana Tuhan mau melihat sikap hati umat-Nya. Merasa ditinggalkankah? Atau merasa sedang tidak dipedulikankah? Sayangnya, tidak sedikit orang percaya kerap bereaksi salah di rentang waktu ini. Merasa Tuhan tidak memedulikannya. Atau sebaliknya, justru inilah momen dimana umat-Nya tetap menaruh percaya akan penyertaan Tuhan, merenungkan bahwa bukankah Yesus yang sengaja membawa para murid ke tepi danau untuk memerintahkan pergi ke seberang danau? Artinya, tidak pernah Ia memberikan suatu tujuan atau visi untuk kemudian mencelakakan umat-Nya.
Mari jemaat Tuhan, rentang waktu menghadapi badai ini adalah rentang waktu yang riskan bagi orang percaya. Seseorang bisa saja menjadi kecewa dan menjauh dari Tuhan. Atau justru sebaliknya, inilah momen dimana orang percaya mengalami peningkatan rohani. Ada lonjakan iman terjadi. Ada level baru dalam kehidupannya dimana dirinya menjadi pribadi yang semakin dewasa di dalam Yesus, karena paham bahwa ia sedang disertai Tuhan yang setia. Amin.
Tuhan Yesus memberkati!
