Jangan Menganggap Tidak Penting untuk Sesuatu yang Penting (Pesan Gembala, 23 Oktober 2022)

JANGAN MENGANGGAP TIDAK PENTING UNTUK SESUATU YANG PENTING

Kejadian 25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

Esau dan Yakub adalah sepasang anak kembar yang lahir dari rahim Ribka. Esau lahir lebih dulu dari Yakub. Seluruh tubuhnya dipenuhi bulu, sebab itu ia dinamai Esau. Setelah itu keluarlah adiknya, dan tangannya memegang tumit Esau kakaknya, sebab itu ia dinamai Yakub. Bertambah besarlah keduanya. Esau menjadi seorang yang pandai berburu dan suka tinggal di padang. Sedangkan Yakub seorang yang tenang dan senang tinggal di kemah.

Pada suatu hari saat Yakub sedang masak sop kacang merah, datanglah Esau yang tampak lelah dari padang. Esau pun berkata kepada Yakub, “Berikanlah aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” Tapi kata Yakub, “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.” Sahut Esau, “Sebentar lagi aku akan mati, apa gunanya hak kesulunganku itu?” Kata Yakub, “Bersumpahlah dulu kepadaku.” Maka bersumpahlah dia kepada Yakub dan dijualnya hak kesulungannya kepadanya. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu. Hal itulah yang kelak sangat ia sesali di kemudian hari.

Seringkali di dalam memelajari kisah Esau dan Yakub, tidak sedikit orang percaya sudah dipengaruhi oleh berbagai pendapat umum yang mengatakan bahwa Yakub adalah pelaku berpindahnya hak kesulungan Esau kepadanya, sehingga ia dicap sebagai penipu. Namanya pun sering diidentikkan dengan makna penipu. Sedangkan Esau seringkali disebut sebagai korban penipuan Yakub, bahkan Esau tidak segan-segan mengatakan bahwa telah dua kali Yakub menipu dirinya.

Kisah ini bukan semata-mata tentang berpindahnya hak kesulungan dalam sebuah keluarga Yahudi, namun ini berbicara tentang rencana Kerajaan Sorga, dimana Tuhan memilih sebuah garis keturunan sebuah keluarga untuk berbagi perjanjian berkat generasi kepada seluruh umat manusia. Garis keluarga ini dipimpin oleh Abraham, bapa banyak bangsa. Abraham sebagai pemegang hak istimewa itu lalu mewariskannya kepada Ishak. Dan Ishak kemudian akan mewariskannya kepada salah satu anaknya. Di atas kertas, Esau adalah pribadi yang seharusnya menerimanya, karena ia pemegang hak kesulungan.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita. Tuhan mau kita belajar sesuatu dari kisah Esau dan Yakub, khususnya tentang bagaimana masing-masing pribadi merespon sesuatu yang berharga dari Tuhan. Meskipun Tuhan memiliki hak prerogatif tentang siapa yang akan Ia pilih sebagai penerima waris atau penerus perjanjian berkat keturunan, namun Tuhan juga melihat kualitas masing-masing pribadi yang tahu menghargai sesuatu yang berasal dari Tuhan. Tuhan mau kita menjadi orang percaya yang bisa melihat sesuatu yang penting di saat sesuatu yang penting itu mungkin tidak terlihat penting atau belum terlihat di mata orang lain. Tuhan mau kita juga menjadi orang percaya yang tahu bertindak tepat di dalam memerjuangkan sesuatu yang kita tahu bahwa itu adalah hal yang penting dari Tuhan.

Beberapa prinsip yang perlu kita pahami berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:

(1). Tuhan menghargai orang yang tahu menghargai hal-hal yang penting dari Tuhan.

Kejadian 25:31-32 (31)Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.” (32) Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”

Bagi orang Yahudi hak kesulungan adalah sesuatu yang sangat penting dan berharga. Biasanya melekat pada anak laki-laki pertama di dalam sebuah keluarga. Dalam budaya Yahudi pribadi yang menyandangnya akan memeroleh berbagai hak istimewa, seperti penghargaan lebih besar dibandingkan saudara-saudaranya yang lain, lebih dihormati, memiliki otoritas dan tanggung jawab dalam mewakili ayahnya dalam berbagai hal, dan ia berhak memeroleh warisan dua kali lipat dibandingkan saudara-saudaranya yang lain ketika ayahnya meninggal. Dan ini dipahami oleh Yakub.

Hanya sayangnya, meskipun Yakub paham akan hak-hak istimewa yang dimiliki seorang penyandang hak kesulungan, namun ia bukanlah pemegang hak kesulungan tersebut. Suatu hari datanglah kesempatan itu. Esau baru pulang berburu dan ia merasa lelah dan lapar. Ketika ia melihat Yakub sedang memasak sop kacang merah, tergiurlah ia lalu minta sedikit untuk ia nikmati. Lalu Yakub mengajukan sebuah penawaran kepada Esau dengan cara melakukan sebuah transaksi. Ia memberikan sop merah kepada Esau, namun Esau harus menjual terlebih dahulu hak kesulungannya dengan cara bersumpah di hadapan Tuhan. Alkitab mencatat, bahwa Esau menyetujuinya dan tidak berusaha untuk mempertahankannya. Ia dikatakan memandang ringan hak kesulungannya tersebut.

Peristiwa ini bukan semata-mata tentang perpindahan hak istimewa dalam sebuah keluarga Yahudi, namun berpindahnya sebuah rencana besar Sorga dalam salah satu keturunan Abraham. Esau lebih mementingkan sop kacang merah, sedangkan Yakub mampu memandang jauh ke depan tentang pentingnya sebuah hak kesulungan. Sop kacang merah mendatangkan keuntungan nyata dan segera, sedangkan hak kesulungan mendatangkan keuntungan yang baru nyata pada saat nanti. Dan Yakub serta keturunannya memeroleh semuanya itu.

(2). Tuhan menghargai orang yang rela menanggung resiko atas kepercayaannya kepada perkataan Tuhan.

Kejadian 27:5-10 (5) Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya,

KetiKa Ribka mengetahui bahwa Ishak, suaminya, menyuruh Esau pergi ke padang untuk memburu binatang untuk dibuatkan makanan bagi dirinya, dan akan memberkati Esau setelahnya, maka tahulah Ribka bahwa telah terjadi kesalahan. Apa yang direncanakan Ishak untuk memberkati anak yang membuatkan makanan baginya tidak sesuai dengan apa yang Tuhan telah katakan sebelumnya kepada Ribka (Kej. 25:23). Tidak sedikit orang yang menghakimi Ribka karena dianggap telah menipu suaminya, namun apabila kita melihat dari kacamata Kerajaan Sorga, ada skenario Sorga yang hampir gagal, namun menjadi terlaksana karena adanya peran Ribka.

Demikian pula Ribka, dia tahu sekali bahwa mengambil skenario dengan membuat makanan bagi Yakub adalah sesuatu yang mungkin tidak berkenan dalam pandangan manusia. Namun ia sadar akan perkataan Tuhan yang berbicara langsung kepadanya bahwa anak yang tua akan menjadi hamba dari anak yang muda. Maka ketika melihat suaminya akan memberkati Esau, maka ia harus mengambil resiko untuk “meng-golkan” rencana Kerajaan Sorga, apapun resikonya. Apapun yang dikatakan orang tentang dirinya. Dan Tuhan menyukainya.

Mari jemaat Tuhan, mari tangkap pesan Tuhan bagi kita ini. Belajarlah melihat sesuatu dari kacamata Sorga. Jangan disalahartikan bahwa untuk alasan Sorga kita boleh melanggar, bukan itu intinya. Demi rencana Kerajaan Sorga, dan demi untuk hal-hal penting yang Tuhan sudah rancangkan, jangan takut untuk membayar harganya.

Tuhan Yesus memberkati!

Jangan Menganggap Tidak Penting untuk Sesuatu yang Penting (Pesan Gembala, 23 Oktober 2022)

| Warta Jemaat |
About The Author
-