Buanglah dengan Sukacita Segala Sampah dari Dalam Dirimu! (Pesan Gembala, 21 Juni 2026)

BUANGLAH DENGAN SUKACITA SEGALA SAMPAH DARI DALAM DIRIMU!

Kolose 3:8-9 (8) Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu  , karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 

Perkara membuang sampah (entahkah sampah rumah tangga atau sampah spiritual) itu bukan sesuatu yang menyenangkan hati. Orang lebih menyukai menyambut pesanan online yang datang dari luar untuk dibawa masuk ke dalam rumah, dari pada membawa keluar sesuatu yang sudah kotor dan berbau.

Ada istilah yang disebut Hoarding Disorder, yaitu gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya merasa sangat tertekan atau cemas jika harus membuang barang, bahkan jika barang tersebut adalah sampah atau kotoran. Penderita ini akan membiarkan segala barang (termasuk sampah) bertumpuk di kamarnya atau di rumahnya, sehingga tetangga yang berdekatan dengannya merasa terganggu.

Di negara barat, ada istilah “garbage day” atau “thrash day,” yaitu hari tertentu dimana semua rumah-rumah tangga harus mengeluarkan tempat sampah dan menaruhnya di depan rumah, untuk selanjutnya ada mobil sampah yang mengangkat dan membuangkannya ke truk sampah.

Tindakan-tindakan pembuangan sampah tadi adalah gambaran yang harus diterapkan dalam kehidupan rohani orang percaya. Jadi dalam kehidupan spiritual pun harus ada yang namanya “garbage day,” dimana orang percaya membersihkan “rumah” atau “bait-nya”  dengan membuang segala “sampah-sampah,” yaitu sesuatu yang sebetulnya sudah tidak diperlukan bahkan sesuatu yang akan menimbulkan masalah apabila dibiarkan.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan melihat adanya “sampah-sampah” yang tidak disadari yang masih tersimpan dalam diri orang percaya, yang mungkin bagi orang percaya yang bersangkutan hal-hal itu dianggap bukan sebagai sampah, namun di mata Tuhan hal-hal itu adalah sampah yang harus dibuang.

Yang dimaksud dengan “buanglah dengan sukacita sampah” adalah kemampuan untuk mengenali dengan mudah hal-hal yang tidak berkenan dan tidak berguna yang bahkan bisa menimbulkan kerugian, lalu segera membuangnya. Kadang orang percaya bersikap seperti “hoarding disorder” menyimpan hal-hal yang tidak berkenan yang “sayang” untuk dibuang.

Beberapa hal yang perlu dipahami berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:

(1). Membuang hal-hal yang tidak penting agar mengalami hal yang jauh lebih penting

Kolose 3:9-10 (9) Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, (10) dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

Mengapa tidak sedikit orang percaya sulit mengenali sampah seperti yang Tuhan lihat, padahal surat Kolose ini ditujukan kepada orang-orang percaya yang sudah mengenakan manusia baru. Apabila orang percaya hanya puas dengan sekedar menyandang status mengenakan manusia baru saja, ternyata dalam banyak hal masih belum mampu untuk mengenali sampah apa yang masih tersimpan.

Kuncinya adalah, harus menjadi manusia baru yang terus menerus dibaharui sesuai dengan standar Khaliknya/Penciptanya. Kata “terus-menerus” adalah anakainoo, yang artinya sesuatu yang dilakukan continually, hari lepas hari, agar seorang percaya mengalami pertumbuhan, kekuatan, dan semangat baru. Kemudian barulah ia bisa mengenali sampah-sampah yang masih tersimpan.

Dan dampak dari pembersihan-pembersihan sampah demi sampah yang ada, maka barulah tersedia suatu ruang kosong atau “space” baru yang bisa diisi oleh sesuatu yang baru dari Tuhan. Dan bukan itu saja, dibuangnya sampah-sampah ternyata membuat si pribadi orang percaya mengalami “nafsu makan” terhadap makanan-makanan sorgawi.

(2). Membuang hal-hal yang tidak berguna itu bagus, namun jangan terus memproduksinya

Kolose 3:12-13 (12) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Penyingkapan kejahatan oleh kepolisian ternyata tidak selalu bisa diungkap oleh penyidik di lapangan. Mereka seringkali dibantu oleh tim labfor (laboratorium forensik) yang bertugas mendukung penyidikan tindak pidana melalui pemeriksaan laboratorium terhadap barang bukti secara ilmiah.

Dalam menyingkapkan perkara kematian, untuk mengetahui apa yang dikonsumsi oleh korban, tim labfor perlu membongkar dan memelajari sampah-sampah yang dihasilkan korban. Dengan mengetahui sampah yang dihasilkan, maka tim dapat menyimpulkan apa saja yang telah dikonsumsi korban. Dari sampah hariannya akan terlihat bahwa ternyata korban telah secara teratur mengkonsumsinya.

Itulah sebabnya, penulis surat menasihatkan jemaat Tuhan di kolose untuk “mengkonsumsi” (mengenakan) hal-hal yang baik seperti belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan sebagainya (ayat 12), sehingga pada akhirnya menghasilkan output yang baik pula. Membuang sampah demi sampah adalah hal yang baik, namun juga harus memerhatikan apa saja yang perlu dikonsumsi hari kepas harinya.

Mari jemaat Tuhan, pesan Tuhan untuk membuang sampah-sampah spiritual ini bukanlah sekedar perintah agar umat Tuhan melakukan pembersihan hidup semata-mata. Namun Tuhan sedang membawa umat-Nya naik menuju perkara-perkara sorgawi yang lebih tinggi lagi. Sampah-sampah yang dibiarkan hanya akan menghambat orang percaya untuk masuk dan mengalaminya. Kenali dan segera buang semua hal-hal yang merugikan tersebut.

Tuhan Yesus memberkati!

Buanglah dengan Sukacita Segala Sampah dari Dalam Dirimu! (Pesan Gembala, 21 Juni 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-