BERJALAN MENGATASI SEGALA KEPUSINGAN
2 Korintus 5:7 sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (NKJV.: For we walk by faith, not by sight).
Rasul Paulus pada waktu itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia mengalami tekanan dari berbagai sisi. Dari pihak orang-orang Yahudi ia mengalami ancaman dan dari pihak orang percaya sendiri ia menghadapi penolakan terkait status kerasulannya. Sangatlah tidak mudah bagi rasul Paulus menghadapi keadaan seperti ini.
Sempat terlintas dalam pikiran rasul Paulus bahwa apabila ia hidup dan berjalan hanya berdasarkan melihat seperti orang melihat dengan mata jasmani pada umumnya, rasanya ia ingin memilih untuk menyerah dan beralih ke wilayah lain. Namun bersyukur bahwa ia berjalan tidak semata-mata berdasarkan mata yang melihat, namun dengan iman karena percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah memanggil dirinya ke sana. Ada rancangan Tuhan yang luar biasa yang ia tangkap di balik semua yang terjadi.
Apabila pandangan mata orang percaya hanya didasarkan pada apa yang kelihatan, maka akan sangat mudah untuk terombang-ambing. Ingat, apa yang semata-mata tampak tidak dapat dijadikan patokan. Kata “melihat” menggunakan kata eido yang artinya penglihatan mata berdasarkan pada apa yang tampak, atau laporan dari penglihatan mata.
Artinya, apabila seorang umat Tuhan mau hidup berjalan di dalam Tuhan, jangan hanya bergantung pada penampakan yang dari luar saja, karena pandangan mata bisa memberikan laporan yang salah.
Ingat ketika nabi Samuel disuruh Tuhan untuk datang ke kota Betlehem dimana Isai berada, Tuhan katakan bahwa salah satu anak Isai harus diurapi untuk menjadi raja atas bangsa Israel kelak. Betapa kemudian Samuel terkecoh ketika melihat satu persatu tampilan dari anak-anak Isai, karena ia hanya melihat dari tampilan luarnya saja. Seperti itulah cara manusia umumnya memandang.
Lalu, apa dasar orang percaya untuk dapat tetap berjalan dengan benar ke arah yang Tuhan kehendaki di tengah dunia yang penuh hiruk pikuk dan sarat dengan berbagai pemandangan yang carut-marut di depan mata? Seperti yang rasul Paulus katakan, apabila mau hidup, hiduplah karena percaya, bukan hidup hanya berdasarkan laporan penglihatan mata.
Kata “percaya” (Yun. Pistis) mengandung makna keyakinan yang teguh terhadap kebenaran firman yang Tuhan berikan. Dalam arti kata lain, rasul Paulus mengatakan, bahwa apabila seseorang mau hidup, maka ia harus punya keyakinan yang teguh akan kebenaran firman Tuhan yang hidup.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Menghadapi hari-hari yang dijalani saat ini, tidak sedikit orang-orang (termasuk di dalamnya orang-orang percaya) yang mengalami “kepusingan.” Kepusingan karena apa? Kepusingan oleh berbagai hal. Melalui pesan-Nya ini, dikatakan janganlah menggantungkan hidup hanya kepada apa yang dilihat berdasarkan penglihatan mata jasmani semata-mata, karena apa yang dilihat itu bisa sesuatu yang menakutkan, melemahkan, dan mengecewakan.
Bayangkan, mengharapkan perubahan, namun perubahan yang diharapkan nampaknya seperti jauh dari harapan. Mengharapkan pertobatan, namun pribadi yang diharapkan bertobat sepertinya semakin jauh dari pertobatan, dan sebagainya. Apabila hidup orang percaya hanya bergantung pada apa yang dilihat, ujung-ujungnya hanya akan menghasilkan kepusingan, keterombang-ambingan oleh berbagai situasi, lalu kemudian mengendor dari Tuhan, dan kalah. Bukankah ini yang diharapkan oleh si jahat?
Ketika suatu pagi bujang Elisa bangun dan terkejut melihat pasukan tentara Aram dengan kuda dan kereta mengepung di sekelilingnya, terkejutlah ia. Lalu berdoalah Elisa agar mata bujangnya dapat “melihat” pandangan dari dimensi yang berbeda. Maka Tuhan membuka mata bujang tersebut, sehingga ia melihat. Kata “melihat” yang digunakan adalah ra’ah, artinya bukan sekedar bisa melihat apa yang tampak, namun menjadi mengerti, merasakan, melihat sesuatu yang jauh di balik apa yang ia lihat.
Pilihannya jelas, mau berjalan hanya dengan menggunakan laporan mata jasmani ataukah berjalan dengan iman percaya. Iman percaya tidak muncul begitu saja, melainkan melalui ketekunan dan relasi yang dijalin dengan Tuhan hari lepas hari. Tanpa relasi dan ketekunan, seorang percaya hanya akan berjalan berdasarkan laporan mata yang salah terus.
Oleh sebab itu, agar umat Tuhan bisa berjalan dengan berdasarkan percaya, bukan semata-mata karena melihat, di antaranya adalah:
(1). Belajar berjalan dengan penyerahan diri kepada Tuhan
2 Korintus 5:8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.
Rasul Paulus menyadari bahwa tantangan yang ia hadapi tidaklah mudah. Kadang terpikir sekiranya tubuhnya saat itu dapat segera beralih menetap pada Tuhan, yaitu hari dimana masa tugasnya di bumi berakhir. Tentunya akan sangat menyenangkan sekali mengingat Tuhan pasti telah menyediakan suatu tempat kediaman di Sorga baginya, suatu tempat indah dimana tidak ada kepusingan lagi.
Tetapi sekalipun belum, hal itu tidaklah menjadi masalah bagi dirinya. Ia memilih untuk menyerahkan segala permasalahannya kepada Tuhan dengan berjalan dalam iman percayanya kepada Tuhan. Belajar berjalan dalam penyerahan diri yang benar kepada Tuhan.
Berjalan dalam penyerahan diri kepada Tuhan itu bukan sekedar ucapan perkataan semata-mata. Ingat prinsip “surrender” dalam istilah peperangan, dimana pihak yang melakukan “surrender” benar-benar mengangkat tangan menyerah, rela untuk diperlakukan apapun oleh pihak yang menang. Artinya, mulai saat itu pihak orang percaya menyerahkan segala kehendak dirinya dan memersilahkan Tuhan untuk memimpin serta mengarahkannya, tidak peduli apapun kenyataan yang ia lihat.
(2). Belajar untuk memfokuskan ulang apa yang sudah ditetapkan Tuhan
2 Kor. 5:9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.
Dari pada larut membiarkan diri memikir-mikirkan kapan “kemah kediaman di bumi dibongkar,” yaitu menanti-nantikan waktu kapan pulang ke rumah Bapa di Sorga, rasul Paulus kembali kepada kenyataan yang sedang ia hadapi. Mungkin tantangan yang ia hadapi tidaklah mudah, namun ia sadar bahwa ia harus menyelesaikan semua rangkaian pelayanannya dengan baik. Ia melakukan refocusing, yaitu memfokuskan ulang apa yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Tidak sedikit orang percaya telah kehilangan fokus dan tujuan hidupnya. Tuhan memilih dan menyelamatkan orang percaya untuk tugas dan maksud Kerajaan Sorga yang dipercayakan kepada dirinya. Namun pada kenyataan, ada orang-orang percaya yang merasa bahwa hidup iring Tuhan yang dijalani adalah tentang bagaimana agar dirinya bisa menang atas berbagai pergumulan hidupnya.
Sehingga tidak sedikit orang datang kepada Tuhan hanya dengan tujuan ingin agar pergumulannya diselesaikan Tuhan. Ketika pergumulan selesai, maka biasanya selesai pula pengejarannya akan Tuhan. Untuk itulah, pentingnya orang percaya melakukan refocusing. Memfokuskan ulang kembali tujuan ia dipanggil dan diselamatkan. Refocusing akan membuat cara pandang seseorang dapat diselaraskan kembali.
Mari jemaat Tuhan, mengiring Tuhan adalah bukan selalu tentang mengubah situasi yang terjadi di depan mata, namun tentang cara pandang diri pribadi. Yang tadinya terbiasa mengandalkan cara pandang jasmani seperti manusia pada umumnya, menjadi cara pandang ra’ah, yaitu cara pandang yang berdasarkan perspektif Kerajaan Sorga. Sudahkah memilikinya?
Tuhan Yesus memberkati!
