SANGGUPKAH TUHAN?
Mazmur 78:18-19 (18) Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka. (19) Mereka berkata terhadap Allah: “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?
Secara garis besar, Mazmur 78 ini adalah mazmur nyanyian pengajaran yang ditulis oleh Asaf, berisi antara lain, pengajaran sejarah yang menceritakan karya besar Tuhan. Bagaimana Tuhan membebaskan Israel dari Mesir, memelihara sepanjang perjalanan di padang gurun, hingga tiba di tanah perjanjian.
Mazmur tersebut juga mencatat hal ketidaksetiaan Israel. Menceritakan pemberontakan, ketidakpercayaan umat Israel yang menyebabkan murka dan hukuman Tuhan, seperti tulah dan kematian.
Lalu mencatat pula hal kesetiaan Tuhan. Meskipun umat Israel memberontak, Tuhan tetap setia, menunjukkan kekuatan-Nya, pemeliharaan-Nya, dan kasih-Nya. Kemudian yang terakhir, Mazmur 78 juga menekankan pentingnya para pendahulu untuk menceritakan kisah-kisah ini kepada generasi yang selanjutnya agar generasi selanjutnya mengenal Tuhan dan tidak melupakan perbuatan-Nya, dan tidak melakukan seperti yang nenek moyang mereka lakukan.
Ayat 18 dan 19 yang menjadi dasar dari pesan Tuhan ini adalah bagian yang menceritakan ketidaksetiaan atau kekurangajaran umat Israel kepada Tuhan. Bayangkan, tepat di ayat-ayat sebelumnya diceritakan bagaimana Tuhan menuntun umat-Nya, dibelah-Nya laut, Tuhan memimpin melalui tiang awan dan tiang api, dibelahnya batu hingga keluar air yang begitu banyak. Begitu masuk ayat 18 dan 19 mereka mempertanyakan “Sanggupkah Tuhan menyajikan hidangan di padang gurun?
Ini bukan sekedar pertanyaan biasa dari umat yang sedang lapar, namun ini berbicara tentang sikap yang kurang ajar yaitu merendahkan Tuhan dengan memertanyakan kemampuan Tuhan. Sanggupkah Tuhan?
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Bahwa Tuhan melalui pesan-Nya ini sedang menyatakan kepada umat-Nya untuk jangan sekali-kali memertanyaan kemampuan diri-Nya. Ketika umat Tuhan memertanyakan Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, itulah yang disebut dengan dosa ketidakpercayaan (the sin of unbelief). Umat yang memertanyakannya tersebut dianggap sedang menempatkan diri di posisi yang berlawanan dengan Tuhan.
Mungkin ada yang berkata bahwa ia tidak pernah mengatakan kepada Tuhan dengan pertanyaan “sanggupkah Tuhan” secara eksplisit, namun tanpa disadari berbagai sikap hati yang diungkapkan telah menempatkan dirinya di posisi yang sama, yaitu memertanyakan dan merendahkan Tuhan dengan cara tidak terlalu berharap banyak bahwa akan terjadi pemulihan besar di tahun ini, tidak terlalu optimis di hari-hari ke depan karena mendengar apa yang telah disampaikan para pakar, tawar hati melihat perubahan yang dinantikan, dan sebagainya.
Sikap-sikap hati yang seperti inilah sesungguhnya sedang merendahkan kuasa Tuhan. Seolah-olah Tuhan tidak sanggup untuk melakukan perkara-perkara yang besar dalam hidupnya. Padahal kalau saja disadari, untuk seseorang percaya bisa tiba di sebuah tempat tujuan dari suatu perjalanan, itu bukan semata-mata karena kemampuan dirinya, itu karena penyertaan dan perlindungan Tuhan yang luar biasa.
Oleh sebab itu, beberapa cara pandang yang perlu diperbaiki berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:
(1). Ubah sikap hati, dari sikap hati yang biasa menjadi sikap hati yang optimis dan percaya. Dari “Sanggupkah Tuhan?” menjadi “Tuhanku sanggup!”
Mazmur 78:21-24 (21) Sebab itu, ketika mendengar hal itu, TUHAN gemas, api menyala menimpa Yakub, bahkan murka bergejolak menimpa Israel, (22) sebab mereka tidak percaya kepada Allah, dan tidak yakin akan keselamatan dari pada-Nya.
Salah satu tujuan dari Mazmur 78 ini adalah menceritakan kembali perbuatan-perbuatan Tuhan yang dahsyat yang telah Tuhan lakukan terhadap angkatan yang terdahulu kepada generasi selanjutnya. Angkatan yang gagal menceritakan perbuatan Tuhan yang ajaib kepada angkatan yang selanjutnya sebetulnya sedang memutuskan sebuah generasi yang seharusnya berkobar-kobar bagi Tuhan menjadi geerasi yang tawar hati dan tidak memercayai Tuhan.
Jangankan kepada generasi selanjutnya, di antara umat Israel saja yang belum lama menerima air minum yang keluar dari batu (yang mereka tahu itu adalah hasil perbuatan Tuhan), tidak berapa lama kemudian mereka bertanya “Sanggupkah Tuhan menyajikan hidangan di padang gurun? Artinya, apabila orang percaya tidak terus menerus membangun iman, tidak membuang segala macam kotoran dan sampah-sampah di hati, dan tidak berada di lingkungan yang terus menerus mengingatkan tentang tujuan Tuhan, maka orang percaya manapun cenderung akan mudah menjadi lemah.
Membangun iman itu bagus, tetapi apabila kotoran-kotoran tidak dibuang maka sulit untuk bisa melihat perbuatan Tuhan yang dahsyat. Selalu yang muncul di hati adalah “Sanggupkah Tuhan?” Kotoran-kotoran yang perlu dibuang, di antaranya adalah hati yang degil (hati yang sulit untuk dikoreksi). Apa yang membuat Daud adalah seorang yang disukai oleh Tuhan? Bukan karena Daud tidak pernah berbuat salah, tetapi karena Daud seorang yang mudah untuk dikoreksi. Salah satu ciri orang yang dekat dengan Tuhan adalah mudah untuk dikoreksi.
(2). Ubah cara pandang, dari Tuhan yang terbatas menjadi Tuhan yang tak terbatas.
Mazmur 78:18-19 (18) Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka. (19) Mereka berkata terhadap Allah: “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?
Bukannya umat Israel pada waktu di perjalanan di padang gurun tidak memercayai Tuhan sanggup membelah bukit batu dan mengalirkan air yang banyak untuk mereka minum. Mereka percaya akan hal itu. Namun apabila untuk memberi mereka makan kenyang di padang gurun barulah mereka bertanya, kira-kira apakah Tuhan sanggup?
Mengapa mereka bisa berpendapat seperti itu? Karena otak mereka yang membatasi kuasa Tuhan bekerja. Bahwa air keluar dari bukit batu itu memang sangat mungkin, namun roti dan daging sudah pasti tidak bisa keluar begitu saja. Orang percaya kadang membatasi Tuhan dengan pemikiran, pengalaman masa lalu, logika, atau ketakutan diri sendiri, padahal kuasa-Nya jauh melebihi apa yang bisa kita bayangkan.
Lalu kalau begitu, bagaimana umat Israel menerima makanan? Tuhan memiliki cara yang sangat ajaib dan tidak terbatas yang tidak terpikirkan akal manusia. Maka kemudian Tuhan memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit, menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit (ayat 23-24), dan menurunkan kepada mereka hujan daging seperti debu banyaknya, dan hujan burung-burung bersayap seperti pasir laut (ayat 27). Ajaib bukan?
Mari jemaat Tuhan, melalui pesan-Nya ini Tuhan sedang menegaskan kembali kepada umat-Nya, bahwa Ia adalah Tuhan yang dahsyat yang tidak pantas untuk disangsikan. Seperti keadaan padang gurun, pada waktu dulu bangsa Israel melakukan perjalanan, yang benar-benar tidak terdapat apa-apa, namun bukan artinya kuasa Tuhan patut diragukan. Jangan memiliki sikap hati, ataupun berkata “Sanggupkah Tuhan?” sebaliknya katakan “Tuhanku sanggup!” Haleluya!
Tuhan Yesus memberkati!
