TUHAN MEMBUAT PERBEDAAN KEPADA PRIBADI YANG MEMBUAT PERBEDAAN
2 Raja-raja 18:2-4 (4) Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.
Sering didapati ada orang-orang yang berkecil hati karena merasa tindakan yang dilakukan tidak terlalu banyak memberikan perbedaan dalam keseluruhan rencana yang dilakukan. Seperti misalnya dalam mengikuti pertandingan beregu. Orang yang demikian merasa dirinya tidak akan terlalu berpengaruh akan kemenangan atau kekalahan tim, sehingga akhirnya tidak maksimal dalam melakukannya.
Orang-orang seperti ini seringkali menjadi orang yang selalu tampil rata-rata, bahkan di bawah rata-rata. Tidak percaya dirinya bisa melakukan suatu perbedaan yang signifikan, dan kerap mengikuti arus kebanyakan orang.
Perlu dipahami, bahwa pesan tentang “membuat perbedaan” ini jangan disalahartikan tentang harus menjadi seorang yang berani tampil beda. Bukan soal tampilan fisk. Melainkan ini adalah tentang seorang percaya yang berani bertindak lebih baik dan lebih maksimal karena sadar bahwa apa yang dlakukan adalah sesuatu yang berkenan di mata Tuhan. Atas dasar itu, maka upaya yang dilakukan seringkali memberikan suatu dampak yang berarti.
Nuh, bukanlah seorang yang mau tampil beda di zamannya. Bukan karena orang-orang pada waktu itu melakukan apa yang jahat, lalu Nuh memilih bertindak sebaliknya. Nuh tahu apa yang benar yang harus dilakukan, maka ia menjalani hidup yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Dan apa yang dilakukan Nuh ini sungguh menarik perhatian Tuhan (Kejadian 6:9).
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Bahwa Tuhan ingin umat-Nya menyadari bahwa Tuhan telah menanamkan hal-hal yang luar biasa pada setiap masing-masing pribadi. Ingat tentang Kejadian pasal 1, awal dimana Tuhan menciptakan manusia. Bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Artinya, ada bahan-bahan luar biasa yang Tuhan sudah taruhkan pada manusia untuk melakukan hal-hal besar tentang Tuhan. Kesadaran akan hal inilah yang membuat seorang pemercaya sadar bahwa ia ada untuk melakukan hal-hal yang dari Tuhan, dan pastinya apa yang dilakukan akan memberikan dampak yang diperhitungkan oleh Tuhan.
Namun sayangnya, kadang orang percaya tidak merasa dirinya demikian. Ada “ketidakpedean” yang seringkali dianggap sebagai kerendahan hati. “Siapakah aku ini? Aku tidak terlalu bisa melakukan apa-apa.” Padahal apabila disadari, benih yang Tuhan telah taruhkan pada masing-masing umat-Nya itu sesuatu yang luar biasa.
Keberadaan satu orang dari seorang anak Tuhan yang terlibat itu dapat memberikan dampak atau kontribusi yang besar. Ingat tentang hukum “kuasa eksponential.” Penambahan satu orang dalam pekerjaan Tuhan itu bukan sekedar penambahan “satu orang,” melainkan penambahan “kuasa sepuluh pangkat sekian.”
Beberapa hal yang perlu dipahami berkaitan dengan pesan Tuhan ini, di antaranya adalah:
(1). Perbedaan terjadi ketika ada satu orang mau menegakkan kebenaran
2 Raja-raja 18:2-4 (4) Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.
Membaca kisah tentang raja-raja Israel dan Yehuda pada periode sejarah raja-raja zaman PL, tidak sedikit dikatakan tentang raja-raja tersebut bahwa mereka tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan, Allahnya, seperti yang dilakukan Daud. Memang seperti itulah kondisinya. Hampir semua raja Israel tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan, dan setengah dari raja-raja Yehuda juga demikian.
Mengingat semua hal buruk yang terjadi, sungguh mengejutkan menemukan seorang raja yang baik muncul. Bukan hanya raja yang baik, tetapi raja yang mengajak seluruh bangsa untuk kembali menyembah satu-satunya Tuhan yang benar. Raja itu bernama Hizkia. Seorang yang memutuskan untuk menempuh jalan yang berbeda dari banyak orang yang mendahuluinya. Satu orang membuat perbedaan.
Dan hal-hal yang dilakukan itu memberikan dampak besar, yaitu Tuhan menyertainya. Ke mana pun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia berani memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya (2 Raja-raja 18:7). Ada kesukaan besar di Yerusalem, karena sejak Salomo bin Daud, raja Israel, tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu di Yerusalem (2 Tawarikh 30:26).
(2). Perbedaan terjadi ketika ada satu orang yang mau mengandalkan Tuhan di tengah kesukaran
2 Raja-raja 18:30 Janganlah Hizkia mengajak kamu berharap kepada TUHAN dengan mengatakan: Tentulah TUHAN akan melepaskan kita; dan kota ini tidak akan diserahkan ke dalam tangan raja Asyur.
Hal yang bagus dari Hizkia adalah ia tidak hanya mereformasi penyembahan kepada Tuhan ketika keadaan berjalan baik. Ia juga memercayai Tuhan ketika keadaan sedang benar-benar dalam keadaan sulit.
Pada tahun keempat belas pemerintahan Raja Hizkia, raja Sanherib dari Asyur menyerang semua kota benteng Yehuda dan berusaha merebutnya. Ini adalah peristiwa yang sangat tidak mudah. Asyur adalah kekuatan dunia yang besar pada waktu itu. Mereka telah membawa Israel ke pengasingan. Sungguh menakutkan jika hal ini terjadi pada Yehuda.
Apa yang dilakukan Hizkia? Segera sesudah Hizkia mendengar itu, dikoyakkannyalah pakaiannya dan diselubunginyalah badannya dengan kain kabung, lalu masuklah ia ke rumah Tuhan. Ia datang kepada Tuhan dan mencari perkataan Tuhan. Apapun perkataan yang Tuhan sampaikan, ia memegangnya teguh tanpa mengandalkan pertolongan dari manapun.
Maka pada malam itu keluarlah Malaikat Tuhan, menbunuh seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati (2 Raja-raja 19:35).
Mari jemaat Tuhan, tidak sedikit orang percaya berharap bahwa Tuhanlah yang harus melakukan sesuatu yang berbeda dan istimewa terhadap dirinya, tanpa ia sendiri melakukan tindakan apa-apa. Ini bukan tentang bertransaksi terhadap Tuhan. Namun, adakah tindakan iman si orang percaya telah membuat Tuhan terkesan, sehingga menggerakkan hati Tuhan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.
Tuhan Yesus memberkati!
