JADILAH JEMBATAN PENGHUBUNG, BUKAN TEMBOK PENGHALANG!
Kisah Para Rasul 17:22-24 (23) Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (24) Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia,
Ketika rasul Paulus tiba di kota Athena, berjalanlah ia keliling kota. Namun, alih-alih terkesan dengan apa yang dilihatnya, sedihlah hatinya melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.
Kata “sedih hati” (Yun.: paroxuno) atau “terprovokasi” (versi NKJV) mengandung arti hati yang terguncang hebat atau bergejolak antara kemarahan dan kesedihan melihat kesesatan orang-orang di sana.
Daripada meninggalkan kota atau mengeluh kepada orang-orang tentang hal yang dilihatnya, rasul Paulus mulai menjalin hubungan dengan orang-orang di sana sambil bersoal jawab, serta kemudian berkenalan dengan orang-orang di pasar, untuk menceritakan tentang Yesus dan kebangkitan-Nya (ayat 17, 18).
Jadi rasul Paulus sebetulnya mempunyai dua pilihan, apakah ia memilih untuk bersikap masa bodoh dengan orang-orang di Athena, yaitu para penyembah berhala tersebut dengan membiarkannya begitu saja, ataukah ia mulai mencoba masuk ke dalam kehidupan orang-orang disana dengan mulai membangun jembatan. Dan ini yang dilakukan oleh rasul Paulus.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan mau umat-Nya menjadi orang-orang percaya yang bersedia untuk “membangun jembatan” bagi orang lain dalam banyak hal. Meskipun betul, latar belakang ayat yang mendasarinya adalah tentang rasul Paulus yang memiliki beban untuk tidak mau membiarkan orang-orang di Athena binasa dengan kehidupan penyembahan berhala mereka, dimana ia mulai menjalin hubungan untuk bisa memerkenalkan Kristus kepada orang-orang di sana. Namun hal membangun jembatan itu tidak terbatas hanya pada lingkup memberitakan Injil saja, tetapi juga bisa dalam lingkup yang lebih luas.
Dalam menjalani kehidupan mengiring Tuhan, setiap orang percaya pasti pernah dijembatani. Ingat saja ketika dulu dalam proses kelahiran baru, disadari atau tanpa disadari, ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk menjadi “jembatan” antara dirinya dengan Tuhan, sehingga bisa megalami Tuhan.
Namun Tuhan tidak mau orang percaya hanya menjadi orang-orang yang selalu dijembatani saja, melainkan juga mulai berfungsi sebagai “jembatan” bagi orang lain. Kadang tanpa disadari, alih-alih orang percaya membangun jembatan bagi orang lain, dirinya malah membangun tembok penghalang. Ini yang Tuhan tidak kehendaki.
Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu dipahami orang percaya untuk dapat berfungsi sebagai jembatan:
(1). Membangun jembatan harus dimulai dari dalam diri sendiri
Kisah Para Rasul 17:16-17 (16) Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. (17) Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.
Rasul Paulus adalah orang yang sadar sekali bahwa apabila ia diselamatkan itu semua karena anugerah Tuhan yang luar biasa pada dirinya. Ia sadar bahwa ia sangat tidak layak untuk dipakai oleh Tuhan mengingat perbuatan masa lalunya sebagai penganiaya jemaat Tuhan. Itulah sebabnya, oleh kesadaran itu ia tidak bisa diam begitu saja ketika melihat orang-orang di kota itu harus binasa akibat ketidaktahuannya.
Ketika orang-orang percaya memeringati Jumat Agung dan merayakan Paskah, itu bukan tentang semata-mata perayaan rutin umat Tuhan setiap tahunnya, namun ini tentang pribadi Allah yang tidak rela melihat manusia binasa satu persatu begitu saja, sehingga oleh karena kasih-Nya, Ia turun ke dunia untuk mengambil rupa manusia untuk kemudian menebusnya dengan cara yang sakit. Semua untuk tujuan menjadi jembatan bagi manusia yang berdosa untuk diperdamaikan kembali.
Masih banyak ditemukan orang-orang percaya hari ini yang hidup di dalam “kesendirian.” Maksud kesendirian ini bukan karena ia hidup benar-benar sendiri tanpa memiliki siapa-siapa, namun menjadi orang yang fokus hidupnya lebih tertuju kepada dirinya sendiri, yaitu merasa aman hidup dalam anugerah keselamatan dari Tuhan, namun mengabaikan tanggung jawabnya memberitakan kabar keselamatan bagi orang lain.
(2). Membangun jembatan adalah melakukan apa yang Yesus lakukan sampai hari ini
Kisah Para Rasul 17:24-25 (24) Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, (25) dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
Di sini rasul Paulus sedang menjelaskan siapa Tuhan yang ia kenal kepada orang-orang Athena yang mengatakan bahwa mereka memiliki tuhan yang diam di kuil-kuil buatan tangan manusia, namun mereka tidak mengenalnya, dan tidak tahu apa yang bisa diperbuat oleh tuhannya itu. Menyedihkan memang.
Sebaliknya, rasul Paulus memerkenalkan kepada orang-orang di sana tentang Kristus, pribadi yang rela mati dan telah bangkit dari kematian, yang kemudian suatu hari akan datang menghakimi dunia dengan keadilan-Nya (ayat 31). Bahwa betapa Tuhan yang hidup telah menjembatani umat manusia agar diselamatkan. Dan luar biasanya, pribadi Kristus yang sama tetap menjadi jembatan (juru syafaat) bagi umat-Nya hingga saat ini (Ibrani 7:25).
Oleh sebab itu, umat Tuhan yang telah diselamatkan juga selayaknya hadir sebagai pensyafaat bagi banyak hal. Bagi orang-orang tersesat yang tidak tahu harus berbuat apa. Juga bersyafaat ketika mengetahui kondisi kota dan bangsa serta para pemimpin bangsa hari-hari ini dalam menjalankan tugasnya. Umat Tuhanlah yang menjembatani mereka kepada Tuhan melalui doa-doa yang dinaikkan agar bangsa ini tidak dimusnahkan (Yehezkiel 22:30).
Mari jemaat Tuhan, ketika Tuhan memberikan pesan-Nya ini tentu bukan tanpa maksud. Ia ingin umat-Nya melakukan apa yang Ia lakukan. Apabila umat Tuhan sering mengatakan bahwa dirinya ada di bumi sebagai duta Kerajaan Sorga, maka menjadi jembatan bagi banyak perkara adalah hal yang harus dilakukan. Selamat menjadi jembatan yang Tuhan maksud!
Tuhan Yesus memberkati!
