Cek Temperatur Rohanimu! (Pesan Gembala, 14-08-2022)

CEK TEMPERATUR ROHANIMU!

Wahyu 3:16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Apakah tantangan terbesar yang dihadapi oleh gereja hari-hari ini? Banyak orang mengatakan bahwa penganiayaan atas gereja merupakan tantangan yang terbesar. Ternyata pendapat itu kurang tepat bila dilihat dari sudut pandang Alkitab. Penganiayaan atas gereja ternyata bukan tantangan umat Tuhan yang terbesar, bahkan sebaliknya, penganiayaan merupakan cara tercepat yang diijinkan Tuhan agar gereja-Nya mengalami pertumbuhan menjadi gereja yang dewasa dan bernyala-nyala.

Tantangan terbesar yang dihadapi gereja ternyata adalah merasa diri cukup. Rasa kecukupan yang dimaksud bukan karena sudah benar-benar mengalami kecukupan, namun merasa sudah cukup sehingga sudah tidak perlu mengejar apa-apa lagi. Merasa diri cukup kuat, merasa diri sudah cukup tahu, merasa diri sudah cukup melakukan pekerjaan Tuhan, dan berbagai rasa kecukupan lainnya.

Penyebab merosotnya kekristenan yang terjadi di banyak negara Barat yang notabene dikenal sebagai negara-negara Kristen yang memiliki banyak gereja yang tersebar di mana-mana bukan tentang tingginya tingkat kejahatan moral, melainkan karena masalah merasa diri telah makmur (rasa telah memiliki banyak hal). Merasa telah memiliki banyak hal membuat kekristenan di negara-negara tersebut kurang berdampak secara signifikan dibandingkan dengan gereja yang berada di negara-negara yang mengalami kesukaran.

Rasa kecukupan di berbagai bidang kehidupan ini menyebabkan mereka terlena, merasa tidak perlu melakukan sesuatu lagi untuk Tuhan. Akibatnya, mereka menjadi “gemuk”, nyaman, dan merasa serba tercukupi sehingga kemudian mereka merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi. Mereka akhirnya gagal untuk menyandarkan diri pada kekuatan Tuhan dan kehilangan kepedulian terhadap dunia yang gelap ini, yang seharusnya mereka menangkan bagi Kristus.

Hal ini pula yang terjadi pada salah satu dari ketujuh gereja yang pernah dikecam oleh Tuhan di masa lalu, yaitu jemaat di Laodikia. Jemaat ini dikenal dengan sebutan jemaat suam-suam kuku, tidak panas dan tidak dingin. Penyebabnya adalah karena mereka merasa sudah memiliki banyak hal yang baik sehingga merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi, akibatnya hasrat untuk mencari dan membangun hubungan dengan Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama. Sekalipun secara daging jemaat Laodikia nampak berlimpah dan makmur, namun di mata Tuhan mereka miskin bahkan siap untuk dimuntahkan Tuhan.

Di dalam kotbah-Nya di bukit, Yesus pernah mengatakan”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka empunya Kerajaan Sorga. Miskin yang dimaksud di sini adalah orang yang sadar bahwa ia sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan. Orang yang memiliki “rasa ingin” akan Tuhan di dalam banyak hal. Misalnya, ingin mengenal Tuhan lebih lagi, ingin mengalami Tuhan lebih lagi, ingin dipenuhi Roh Kudus lebih lagi, ingin melakukan banyak hal bagi Kerajaan Sorga, dan lain sebagainya. Maka kepada orang tersebut Tuhan katakan: “Berbahagialah!” (diberkatilah!). Itulah orang yang dikatakan “panas” di dalam Tuhan.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita. Tuhan merasakan tidak sedikit orang percaya yang mulai mengalami kesuaman rohani. Kesuaman tidak semata-mata dilihat dari jarang atau tidaknya seorang percaya datang ke tempat ibadah. Karena kesuaman juga bisa terjadi kepada mereka yang rajin datang beribadah. Kesuaman adalah suatu keadaan hangat (tidak panas dan tidak dingin). Apabila itu berbicara tentang kondisi hati manusia, maka kesuaman adalah kondisi hati yang tidak penuh (half-hearted) atau setengah hati. Tidak memiliki kebulatan hati. Hanya sekedar rata-rata seperti umumnya orang lain (moderate).

Ketika kondisi iman seseorang digambarkan seperti ini, artinya mulai adanya semacam kelesuan telah muncul dalam roh seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan. Tidak adanya keinginan yang begitu besar untuk berada dalam firman-Nya atau persekutuan dengan Tuhan, waktu ibadah dirasakan seperti membosankan serta tidak ada gregetnya lagi. Melayani Tuhan mulai terasa seperti membawa beban berat. Keadaan orang percaya yang mulai kehilangan semangat untuk menaati hukum-hukum Tuhan.

Tanda-tanda seperti itu adalah sebuah red-flag atau bendera peringatan bagi orang percaya bahwa hatinya sudah tidak berada di tempat atau di kondisi yang seharusnya. Berbeda dengan keadaan rohani ‘dingin’ dimana orang percaya yang demikian sadar kondisi rohaninya sedang dalam kondisi buruk serta rendah dan rindu untuk dipulihkan Tuhan. ‘Suam-suam’ adalah kondisi dimana orang percaya tersebut merasa diri sedang baik-baik saja, padahal tidak sedang baik-baik saja. Betapa berbahayanya.

Apa yang harus dilakukan ketika kondisi hati mengalami kesuaman?

Segera sadari gejalanya, dan tangkap kembali prioritas utama kita yang sesungguhnya

Wahyu 3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,

Sadar akan kondisi tubuh yang lelah dan sakit masih lebih baik dibandingkan dengan merasa baik-baik saja meskipun sebetulnya kondisi tubuh sedang tidak baik-baik. Sama dengan keadaan orang yang terkena virus Covid-19, semua diawali dengan adanya gejala, seperti: timbulnya demam, rasa sakit atau batuk di tenggorokan, hilangnya rasa untuk mengecap makanan, dan sebagainya. Dari tanda-tanda yang ada, maka mulai dilakukan langkah penanganan. Jemaat di Laodikia mendapat teguran yang sangat keras oleh Tuhan karena mereka masih tetap merasa oke-oke saja, di saat segala gejala kesuaman jelas dialami. Mereka mengatakan bahwa “Aku tidak kekurangan apa-apa.”
Laodikia merupakan sebuah kota yang terletak di wilayah strategis sehingga menjadikannya pusat perdagangan yang sangat makmur, terutama pada zaman pemerintahan Romawi. Loadikia menjadi pusat perbankan dan pertukaran uang maupun emas dunia yang penting pada masa itu. Sibuknya kehidupan perdagangan di Laodikia membuat fokus sebagian besar penduduknya lebih tertuju kepada pencarian materi. Mereka merasa tidak membutuhkan bantuan, baik dari sesama maupun dari Tuhan. Mereka merasa tidak perlu lagi menanti-nantikan Tuhan dan tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama mereka.

Beberapa gejala kesuaman yang dialami oleh orang percaya, di antaranya:
a. Kesuaman terjadi tanpa disadari ketika seseorang mulai mengejar dan memercayakan dirinya pada hal-hal yang lain lebih dari pengejarannya akan Tuhan sebagaimana seharusnya.
b. Kesuaman terjadi pada orang yang merasa telah memiliki dan mengetahui banyak hal, sehingga kehilangan hasrat untuk menambah-nambahkan lagi elemen-elemen ilahi kepada imannya.
c. Kesuaman dapat membuat seseorang kehilangan ketajamannya akan maksud Tuhan dalam hidupnya dan kehilangan gairah untuk memengaruhi dunia dengan nilai-nilai Kerajaan Sorga.
d. Kesuaman membuat seorang percaya enggan menyelaraskan dirinya dengan kebenaran Tuhan dan mulai menyelaraskan diri dengan kebenarannya sendiri.

Mari jemaat Tuhan, betapa berbahayanya seorang percaya apabila ia berada di posisi yang suam. Ia akan kehilangan kepekaannya, karena ia selalu merasa benar sendiri. Meskipun posisi “dingin” masih lebih baik dari suam, ini pun bukan posisi yang aman. Tuhan mau kita terus bernyala-nyala bagi Tuhan. Kita tidak bisa membiarkan orang lain yang terus menyalakan api buat kita, sebaliknya, kitalah yang seharusnya bernyala-nyala bagi sekeliling kita karena sang Sumber kobaran ada di dalam kita. Amin.

Tuhan Yesus memberkati!

Cek Temperatur Rohanimu! (Pesan Gembala, 14-08-2022)

| Warta Jemaat |
About The Author
-