STOP MENYALAHKAN SITUASI DAN ORANG LAIN!
Yohanes 5:6-7 (6) Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” (7) Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”
Sebuah majalah terkenal di Amerika bernama Reader’s Digest menulis sebuah kisah tentang sebuah sekolah menengah atas di sebuah daerah hitam, kumuh, dan penuh kejahatan bernama “East Saint Louis High School,” dari negara bagian Illinois, Amerika Serikat. Majalah itu menulis bahwa sekolah tersebut walaupun memiliki banyak kekurangan namun masuk sebagai sekolah menengah atas yang memiliki banyak prestasi di Amerika, baik prestasi akademis maupun olahraga.
Dalam kesempatan yang sama, majalah tersebut juga mengulas sebuah sekolah menengah atas lainnya yang bernama Morris High School, di South Bronx, New York, yang juga terletak di daerah hitam, kumuh, dan penuh kejahatan namun tidak memiliki prestasi apapun selain berbagai masalah kenakalan dan keterikatan narkoba di antara murid-muridnya.
Mereka mengatakan bahwa bagaimana mereka bisa berprestasi kalau lingkungan hidup mereka kumuh, banyak kejahatan, tidak pernah diberi kesempatan, warna kulit mereka hitam dan coklat dimana orang-orang banyak bersikap rasial terhadap mereka, hidup dengan orang tua tunggal dalam kemiskinan atau penderitaan, sulit untuk bisa hidup dengan mudah, dan berbagai ungkapan alasan dan menyalahkan banyak orang termasuk pemerintah, sehingga itulah sebabnya mereka tidak bisa berprestasi.
Inilah yang disebut dengan “The Blame Game” atau “Permainan Menyalahkan.” Itulah yang terjadi saat seseorang menyalahkan orang lain atas masalah yang ia alami. Cara yang sering digunakan untuk menjelaskan mengapa hidupnya tidak berjalan sesuai keinginannya, merasa diri diperlakukan tidak adil; merasa diri berada di pihak yang kurang beruntung; pokoknya orang itu merasa ia adalah korbannya dan ada orang lain yang menyebabkannya. Dan seperti itulah cara ia menjalani hidupnya.
Tanpa kita sadari mentalitas ini banyak terjadi dimana-mana termasuk di tengah masyarakat kita. Apabila ia terlambat menyerahkan laporan di kantor, ia akan berkata bahwa ada orang lain yang membuat ia terlambat menyerahkan. Jika ia kehilangan pekerjaan, itu karena ia memiliki atasan yang tidak memahami dirinya atau ada orang lain yang iri dan menaruh dendam padanya, dan berbagai contoh lainnya tentang berbagai alasan yang digunakan orang-orang untuk terus menimpakan segala yang dialami kepada pihak lain.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita. Tuhan mengingatkan orang-orang percaya untuk tidak menjalani hidup dengan semangat atau mentalitas yang mudah menyalahkan apapun dan siapapun (baik diucapkan maupun tidak diucapkan), entahkah menyalahkan keadaan/situasi ataupun menyalahkan orang lain, atas apapun yang terjadi pada diri kita.
Karena ternyata baik disadari maupun tidak disadari tidak sedikit orang percaya yang merasa keadaan yang ia hadapi hari ini atau seperti ini, karena ada penyebabnya. Dan penyebabnya seringkali ada pada orang lain yang dianggap sebagai orang-orang yang memiliki andil akan keadaan yang terjadi. Dan biasanya diikuti dengan rasa penyesalan bahwa seharusnya keadaannya tidak seperti ini.
Ternyata mentalitas mencari-cari alasan dan menyalahkan orang lain sudah dilakukan oleh leluhur awal kita. Mari kita kembali kepada kejadian di Taman Eden, tepatnya setelah Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Ketika Allah bertanya kepada Adam apakah ia telah memakan buah pohon yang telah dilarang untuk dimakan, Adam langsung menimpakan perbuatannya kepada Hawa, bahwa Hawalah yang pertama memberikan buah tersebut kepadanya. Dan sikap menyalahkan yang sama dilakukan Hawa dengan mengatakan bahwa ular telah memerdaya dirinya untuk memakan buah tersebut. “Sikap menyalahkan” itu datang dari orang-orang yang baru saja pertama kali berjumpa dengan dosa.
Oleh sebab itu, sikap apa yang harus kita bangun berkaitan dengan pesan Tuhan ini agar kita tidak menjadi orang yang masuk dalam “The Blame game”, di antaranya adalah:
(1). Menjadi orang yang mau mengarahkan langkahnya ke depan bersama dengan Tuhan
Yohanes 5:5-6 (5) Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. (6) Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”
Tiga puluh delapan tahun hidup dalam kelumpuhan, ditambah dengan kondisi hati “sebagai korban” yang merasa hidupnya seharusnya bisa lebih baik seandainya ada orang-orang yang peduli kepadanya yang mau membantu menurunkan dirinya untuk masuk ke dalam kolam Bethesda adalah suatu perjalanan waktu yang terlalu panjang untuk dijalani.
Bersyukur untuk Yesus yang kemudian datang dan melihat kondisi orang lumpuh tersebut lalu bertanya kepadanya apakah ia ingin sembuh.Sekilas pertanyaan yang diajukan Yesus ini terdengar aneh. Masih perlukah orang lumpuh itu ditanya apakah ia ingin sembuh atau tidak? Ternyata pertanyaan yang “mudah” tersebut hanya dijawab dengan keluhan serta sikap menyalahkan bahwa betapa tidak ada orang-orang yang peduli terhadap dirinya.
Ternyata ada orang-orang yang hanya ingin melampiaskan kekesalan dirinya terhadap berbagai hal di sekelilingnya saja, tanpa ia sendiri ingin keluar dari hidup yang seperti itu. Ada orang-orang yang sudah “terlalu nyaman” dengan keadaannya. Bukannya orang tidak ingin keadaannya berubah, namun ia tahu bahwa selanjutnya ia harus melakukan langkah-langkah yang berbeda dengan kehidupan yang selama ini ia hidupi. Ada keputusan-keputusan yang selaras dengan kebenaran firman Tuhan yang ia harus ambil waktu demi waktu. Siapkah kita dengan langkah-langkah perubahan tersebut?
(2). Menjadi orang yang berani memikul tanggungjawab atas hidup yang Tuhan berikan
Yohanes 5:8 Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”
Ada kehidupan baru yang diberikan Yesus kepada orang yang lumpuh tersebut. Kalau selama ini ia dilayani oleh orang-orang untuk berbagai keperluan, seperti makan, minum, pakai, dan berbagai kebutuhan lainnya, kini ia harus bangkit berdiri dan mengangkat tilamnya sendiri untuk kemudian menjalani kehidupan baru yang sangat berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ada tanggung-jawab atas hidupnya yang harus ia pikul kali ini.
Ketika Tuhan memberi perintah kepada Adam, pada waktu Ia menempatkannya di Taman Eden untuk memelihara dan mengusahakan taman tersebut, Tuhan memberikan perintah kepada Adam agar semua pohon dalam taman ini boleh ia makan buahnya dengan bebas, kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah ia makan buahnya. Tujuan dari perintah ini bukan untuk memersulit atau membatasi kehidupan Adam, namun untuk mengajarkan makna menjalani hidup yang bertanggung jawab. Batasan diberikan Tuhan agar manusia menyadari bahwa ia tidak bisa menjalaninya secara semena-mena. Ada hak dan kewajiban yang harus ia pahami.
Sampaipun manusia melakukan kesalahan, Tuhan mau manusia itu belajar memikulnya dan belajar memerbaikinya, bukan untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain atau kepada keadaan tidak baik yang sedang terjadi. Itu hanyalah melemparkan tanggung jawab yang seharusnya ia pikul. Satu hal yang luar biasa, ketika umat-Nya bersedia untuk memikulnya dan melibatkan diri-Nya, Tuhan menjanjikan penyertaan dan kemenangan atas umat-Nya.
Tuhan Yesus memberkati!