Mujizat Terjadi atas Kehendak-Nya (Pesan Gembala, 8 Februari 2026)

MUJIZAT TERJADI ATAS KEHENDAK-NYA

Yohanes 2:9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu — dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya — ia memanggil mempelai laki-laki,

Peristiwa ini disebut sebagai mujizat yang pertama yang dilakukan oleh Yesus, dan itu terjadi di sebuah pesta perkawinan. Di dalam pesta nan tersebut, tuan rumah kehabisan anggur. Maria, ibu Yesus, yang juga hadir di sana memerhatikan apa yang sedang terjadi, lalu berkata kepada Yesus bahwa tuan rumah telah kehabisan anggur. Yesus mengatakan kepada ibunya bahwasaat-Nya belum tiba (Yohanes 2:4).

Maria yang sangat paham siapa Anaknya itu tahu bahwa Yesus tidak bertindak berdasarkan perintah dirinya, namun berdasarkan waktu Kerajaan Sorga. Maka Maria hanya berkata kepada pelayan-pelayan untuk lakukan apa saja yang dikatakan Yesus kepada mereka.

Yesus kemudian memerintahkan kepada pelayan-pelayan itu untuk mengisi tempayan-tempayan pembasuhan penuh dengan air dan memerintahkan mereka untuk mencedok air tersebut dan membawanya kepada pemimpin pesta. Di situlah terjadi mujizat yang luar biasa dimana air tersebut telah berubah menjadi anggur.

Berdasarkan berbagai peristiswa mujizat di Alkitab penting bagi umat Tuhan untuk memahami tujuan suatu mujizat. Mengapa Tuhan terkadang mengesampingkan hukum alam atau hukum natural (meskipun Dia adalah pencipta segalanya) dan melakukan sesuatu “di luar aturan”? Mengapa Tuhan sampai turun tangan dan “mengabaikan sistem” normal yang berlaku demi mujizat-Nya dinyatakan?

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan Yesus adalah Allah Pencipta segalanya. Dia Pencipta alam semesta (He is The Creator of universe). Dengan kehendak dan wewenang-Nya Ia dapat melakukan apa saja, baik secara hukum alam di bumi, maupun melampaui hukum apapun yang berlaku. Ibarat seorang pemimpin perusahaan (atau siapapun yang didelegasikannya) dengan otoritas yang dimiliki ia dapat “mengambil alih” suatu sistem normal yang sedang berlangsung dengan caranya, ketika dirasanya perlu demi untuk kebaikan perusahaannya.

Hal tentang apakah Tuhan mau melakukan mujizat-Nya atau tidak, semua berada dalam kehendak dan kewenangan-Nya, bukan berdasarkan kehendak atau kerinduan umat manusia semata-mata. Jadi ada sikap yang harus dipahami oleh pihak orang percaya, dari pada memohon dan menanti terus dengan cara yang salah. Tuhan mau orang percaya memahami cara kerja Tuhan, lalu mengambil sikap yang benar.

Beberapa hal yang harus dipahami agar sikap orang percaya selaras dengan kehendak Tuhan, sehingga pada waktu Tuhan melakukan mujizat-Nya, umat Tuhan ada di sana. Di antaranya adalah:

(1). Bersiap-siap, karena terjadinya bisa kapan saja. Jadilah orang yang ambil bagian dalam persiapan itu

Yohanes 2:4 Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.”

Kata penunjuk waktu yang digunakan ketika Yesus berkata “saat-Ku belum tiba” adalah hora yang artinya setiap waktu tertentu atau jam (hour). Sesuatu yang terjadi pada rentang waktu yang tidak panjang. Hampir mirip dengan Kairos, dimana ada waktu yang Tuhan tetapkan untuk terjadi sesuatu. Namun Kairos lebih kepada sewaktu-waktu dalam suatu rentang periode waktu yang tidak bisa diduga.

Mendengar Yesus mengatakan hora-Ku belum tiba, maka Maria ibu Yesus menyuruh para pelayan untuk melakukan apa yang Yesus akan katakan (Yohanes 2:5). Meskipun tidak spesifik dikatakan tentang posisi, namun kalimat “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” jelas mengandung arti: Berada di dekat atau di posisi yang tidak jauh dari keberadaan Yesus. Ingat peristiwa 5 roti 2 ikan, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus dan mendengarkan apa yang Yesus katakan. Orang yang memilih untuk berada jauh dari Yesus akan kehilangan momen penting mujizat “sewaktu-waktu” dari-Nya.

Makna yang kedua adalah tangkap dan lakukan apa yang Tuhan perintahkan, meskipun sepertinya tidak mudah dipahami. Perintah untuk mengisi tempayan penuh dengan air masih bisa dimengerti, meskipun dalam hati bertanya-tanya siapa pribadi yang telah menyuruh mereka. Akan tetapi apabila harus mencedok air pembasuhan dan memberikannya kepada pemimpin pesta ini yang tidak mudah dipahami.

Banyak orang percaya gagal bukan pada waktu menerima perintah, namun seringkali gagal dalam melaksanakan perintah. Penyebabnya adalah logika yang tidak dapat mencerna perkara ilahi dari Tuhan. Bayangkan harus melakukan pesan yang tidak ada kaitannya dengan masalah yang ia hadapi.

(2). Bersiap-siap, lakukan segala sesuatu untuk kepentingan Kerajaan Sorga. Mujizat terjadi bukan untuk kepentingan kita

Yohanes 2:11 Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Hasil akhir dari semua mujizat yang terjadi di Alkitab, tujuannya cuma satu, yaitu untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, dan membawa agar orang-orang menjadi percaya kepada-Nya. Hal-hal yang tidak membawa kepada kemuliaan nama Tuhan, atau mungkin membawa kemuliaan nama-Nya, namun ada pihak lain (misalnya si jahat) yang diuntungkan, itupun tidak akan Ia lakukan.

Bahkan untuk diri-Nya sendiri yang sedang lapar dan membutuhkan makanan pada waktu Ia di padang gurun Ia tidak mau melakukannya. Bayangkan setelah Yesus berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, datanglah iblis untuk mencobainya dan berkata: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (Matius 4:3). Yesus menolak untuk melakukannya, mengapa? Agar tidak ada satu pihak mana pun yang memeroleh keuntungan atau merasa bahwa ia ada andil di dalam terjadinya mujizat tersebut.

Perkara anggur habis di pesta pernikahan di Kana kejadiannya jauh lebih sepele. Mungkin orang-orang di pesta telah menghabiskan semua anggur yang tersedia di saat pesta belum berakhir, atau tuan rumah salah memerhitungan. Namun tetap, itu bukan alasan Yesus di balik mujizat yang terjadi tersebut. Juga bukan karena dorongan dari Maria. Semua agar Yesus dimuliakan dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya! Jika sebuah mujizat tidak mengandung hal ini, maka itu bukan produk Kerajaan Sorga.

Mari umat Tuhan, inti dari pesan ini jangan disalahartikan bahwa umat Tuhan tidak boleh berharap mujizat dari Tuhan. Namun pahami bahwa semua mujizat terjadi atas kehendak dan rencana-Nya Tuhan. Oleh sebab itu, bergaullahsenantiasa dengan Yesus Sang Pembuat mujizat tersebut, jangan berada jauh-jauh dari pada-Nya, lakukan perintah-perintah-Nya, karena akan ada hora yang ditentukan dimana Ia akan melakukan intervensi ilahi melampaui berbagai hukum natural agar nama-Nya dimuliakan dan orang-orang percaya kepada-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

Mujizat Terjadi atas Kehendak-Nya (Pesan Gembala, 8 Februari 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-