MILIKI PANDANGAN MATA YANG SENANTIASA TERKAGUM-KAGUM AKAN YESUS
Markus 9:15 Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia.
Kisah ini dimulai ketika ada seorang ayah yang anaknya mengalami kerasukan roh jahat yang membuat si anak menjadi bisu, lalu datang dan meminta kepada murid-murid Yesus untuk mengusirnya, namun murid-murid tidak dapat melakukannya.
Bisa dibayangkan, betapa sedihnya si ayah tersebut, mengingat anaknya sudah menderita sejak masih kecil. Tentunya, sebagai orang tua sang ayah sudah mencoba mencari pertolongan ke mana-mana demi kesembuhan anaknya. Harapannya muncul setiap kali mendengar ada orang yang sanggup menyembuhkan anaknya, tetapi tetap tidak kunjung sembuh.
Ketika mendengar kabar tentang Yesus yang berkuasa melakukan banyak mujizat, muncullah pengharapan sekiranya Yesus dapat menyembuhkan anak mereka. Akan tetapi, mereka tidak dapat segera bertemu dengan Yesus. Pada waktu itu Yesus beserta tiga murid intinya sedang naik ke atas gunung dimana Yesus dimuliakan di sana. Akhirnya, mereka hanya bertemu dengan sebagian murid-murid Yesus tadi yang gagal melepaskan si anak.
Tak berapa lama kemudian, ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali dari atas gunung dan turun menemui murid-murid, mereka melihat orang banyak di sana. Dan pada waktu si ayah dan orang banyak itu melihat kedatangan Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia.
Yang menarik, kata “tercengang” (greatly amazed) atau dalam bahasa aslinya ekthambeo ini ternyata mengandung pengertian yang dalam. Yang pertama adalah kekaguman dan kerinduan akan kuasa ilahi di tengah keputusasaan. Konteks ini menegaskan bahwa hanya kehadiran dan kuasa Yesus yang mampu membawa kesembuhan dan solusi.
Yang kedua adalah kehadiran yang membawa harapan. Saat situasi tampak buntu (murid-murid gagal mengusir roh jahat), sang anak masih dalam keadaan dikuasai roh jahat, kondisinya masih belum sembuh, keadaan belum banyak berubah, namun kehadiran Yesus membawa kelegaan dan rasa takjub. Yang ketiga, kekaguman yang disertai iman untuk mengalami kuasa Tuhan. Saat merasa diri terbatas, namun kemudian sadar bahwa hanya Yesus yang sanggup menolong dengan pasti.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi jemaat Tuhan. Bahwa penting sekali bagi setiap orang percaya untuk memiliki cara pandang ekthambeo ini. Kadang tanpa disadari tidak sedikit orang percaya telah kehilangan pandangan seperti ini kepada Yesus. Dan ini perlu dievaluasi kembali. Karena hanya dengan memandang kepada Kristus dengan sikap seperti ini maka timbul rasa percaya di hati bahwa sesuatu yang luar biasa akan Tuhan nyatakan, meskipun keadaan mungkin masih belum berubah. Gagalnya orang percaya memandang Tuhan dengan sikap seperti ini, hanya akan membuat gagalnya terjadi intervensi ilahi.
Ingat tentang peristiwa dimana Yesus ditolak di Nazaret, dimana dikatakan bahwa Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana. Penyebabnya adalah bukan karena orang-orang tidak percaya kepada Yesus, namun karena memandang Yesus ketika itu dengan sikap yang salah (Markus 6:3).
Beberapa hal yang perlu kita pahami berkaitan dengan pesan Tuhan ini agar kita dapat sungguh-sungguh memiliki pandangan mata yang senantiasa terkagum-kagum pada Tuhan. Beberapa di antaranya adalah:
(1). Mau merendahkan hati mengikuti perkataan Tuhan
Markus 9:14 Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka.
Menjelaskan tentang pandangan kagum kepada Yesus di perikop peristiwa “Yesus mengusir roh dari seorang anak yang bisu” ini tidak bisa dilepaskan dari perikop sebelumnya tentang “Yesus dimuliakan di atas gunung.” Ada pelaku-pelaku atau saksi-saksi yang bisa digunakan untuk menjelaskan bahwa tidak semua orang percaya memiliki pandangan kagum yang tepat.
Ada kategori kagum kepada Yesus hanya karena orang itu pernah mendengar apa yang dilakukan oleh Yesus. Misalnya, si ayah yang membawa anaknya yang dikuasai roh jahat keada Yesus. Kemudian, ada jenis orang-orang yang kagum karena sudah sering melihat dan mengalami perbuatan yang telah Yesus lakukan. Dalam hal ini adalah murid-murid Yesus yang sembilan orang, yang tidak ikut naik ke gunung.
Namun ada ketegori pandangan kagum yang tertinggi, yaitu orang-orang yang mengenal siapa sesungguhnya Yesus secara pribadi. Yaitu tiga orang murid yang diajak oleh Yesus naik ke atas gunung untuk melihat peristiwa transfigurasi Yesus yang dinyatakan sendiri oleh Bapa Sorgawi untuk menunjukkan siapa sesungguhnya Yesus itu. Dimana kemudian terdengar suara dari Sorga yang mengatakan: Markus 9:7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”
Biarlah kekaguman orang percaya kepada Yesus bukan karena latah, bukan juga karena sering mendengar apa yang Yesus lakukan, bukan juga karena pernah mengalami perbuatan Tuhan yang dahsyat, namun karena mengenal dengan sungguh-sungguh Pribadi Yesus yang dahsyat itu. Dan apabila merasa diri sebagai orang percaya yang sudah mengenal Pribadi-Nya, maka seharusnya pula menjadi orang-orang yang mendengarkan dan mengikuti perkataan-Nya.
(2). Mau merendahkan hati dan mengakui segala kekurangan diri lalu bertindak
Markus 9:24 Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Ketika sang ayah melihat Yesus, ia berpaling kepada-Nya dan menjelaskan bahwa ia sudah datang kepada para murid, namun mereka tidak dapat mengusir roh jahat itu. Kemudian Yesus lalu menegur para murid yang tidak berkuasa untuk mengusir roh jahat yang ada pada si anak tersebut (Markus 9:19).
Sambil menjelaskan tentang kondisi anaknya, pria itu memohon kepada Yesus agar Ia mengusir roh jahat tersebut. Kalimat permohonan ini mengandung campuran antara rasa kuatir dengan secercah harapan. Kalimat yang diutarakan pria ini memperlihatkan kerendahan hatinya sekaligus kerinduan untuk mau belajar mengenal dan memercayai Yesus lebih lagi. Markus 9:24 …Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Berbeda dengan pria ini, murid-murid yang tidak dapat mengusir roh jahat malah tidak menyadari apa yang menyebabkan mereka gagal mengusirnya. Menurut versi Injil Matius, setelah sendirian, mereka lalu bertanya kepada Yesus apa yang membuat mereka tidak dapat mengusirnya. Yesus langsung menunjukkan akar penyebabnya, yaitu karena mereka memang kurang percaya (Mat. 17:20), dan Yesus mau mereka memerbaikinya.
Mari jemaat Tuhan, untuk bisa memandang kepada Yesus dengan rasa kagum yang benar ternyata bukan sekedar pengakuan kagum di mulut saja, namun membutuhkan pengenalan yang benar terhadap Yesus secara pribadi, ditambah pula dengan pentingnya memiliki kerendahan hati untuk mau mengakui segala kekurangan dan mau membangun diri lebih lagi.
Tuhan Yesus memberkati!
