Memahami Maksud Hati Tuhan di Balik Kondisi yang Dialami (Pesan Gembala, 1 Maret 2026)

MEMAHAMI MAKSUD HATI TUHAN DI BALIK KONDISI YANG DIALAMI

Ulangan 8:2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

Manusia umumnya mengatakan bahwa seseorang itu baik, biasanya apabila orang tersebut melakukan sesuatu hal positif terhadap dirinya, atau orang itu memberikan sesuatu, entahkah itu dalam bentuk tindakan, kata-kata motivasi, atau dalam bentuk barang, dan sebagainya. Intinya, sesuatu yang sifatnya menguntungkan, maka orang yang memberikannya dikatakan baik. Sebaliknya, apabila seseorang itu memberikan hal yang negatif, biasanya akan dikatakan orang itu tidak baik.

Apakah manusia hanya memiliki kemampuan untuk membedakan maksud hati seseorang hanya dari dua pilihan tersebut, “baik” dan “tidak baik” saja? Seharusnya tidak.

Sebagai orang-orang percaya, seharusnya memiliki cara menilai yang berbeda dari kebanyakan orang. Ia harus bisa melihat maksud yang sesungguhnya dibalik apa yang dilakukan oleh seseorang, entahkah dari suatu tindakan yang dikatakan baik, ataupun dari tindakan yang tidak baik, atau tindakan yang terkesan tidak baik.

Misalkan ada seorang anak yang disuruh oleh orang-tuanya untuk belajar, tetapi anaknya ini lebih memilih untuk terus bermain games. Maka demi kebaikan sang anak, orang-tuanya mengambil sebuah tindakan dengan mengambil games dari si anak, lalu menunggui anaknya belajar hingga selesai. Respon yang ditunjukkan si anak justru berbeda dari maksud baik orang-tuanya. Anak itu menganggap ayah dan ibunya jahat. Seandainya sang anak memiliki daya tangkap atau pemahaman yang baik, maka seharusnya ia bisa melihat bahwa tujuan orang-tuanya bersikap seperti itu adalah supaya anaknya maju dan berhasil dalam studinya.

Pengiringan orang percaya kepada Tuhan seringkali digambarkan seperti perjalanan bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir menuju ke tanah Perjanjian yang diwarnai oleh berbagai respon.

Apabila keadaan mereka serba tercukupi, maka mudah bagi mereka untuk mengatakan bahwa Tuhan itu baik. Namun sebaliknya, apabila perjalanan diwarnai oleh berbagai kekurangan, seperti misalnya kekurangan air atau ketiadaan daging untuk dimakan, dan lain-lain, maka mereka merasa bahwa Tuhan sengaja membawa mereka keluar dari Mesir hanya untuk tujuan menguburkan mereka di padang gurun. Mereka menganggap Tuhan telah melakukan hal yang jahat.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Melalui pesan-Nya ini Tuhan ingin umat-Nya menjadi orang-orang percaya yang tidak terburu-buru berkesimpulan salah terhadap Tuhan di tengah-tengah berbagai keadaan yang masing-masing umat-Nya hadapi.

Di akhir perjalanan bangsa Israel setelah 40 tahun di padang gurun, sebelum berpisah, Musa di hadapan seluruh bangsa Israel menyampaikan kembali hukum-hukum Tuhan kepada angkatan yang baru, yaitu angkatan yang dulu masih kecil atau yang sebagian lahir di perjalanan. Salah satu yang Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel melalui Musa adalah bahwa ada pembelajaran indah dari Tuhan di balik perjalanan panjang bangsa Israel, yang seringkali disalahpahami oleh kebanyakan umat Israel (Ulangan 8:2).

Tuhan tidak ingin umat-Nya menjadi curiga atau salah paham dengan Tuhan. Tuhan ingin umat-Nya maju dan berhasil. Maju yang dimaksud di sini adalah maju dalam koridor-Nya Tuhan, bukan semata-mata berhasil dalam pengertian manusia secara umum (hanya berhasil di bidang-bidang yang diingini), namun berhasil juga dalam mencapai kehendak Tuhan.

Beberapa pelajaran yang Tuhan ingin umat-Nya tangkap melalui perjalanan pengiringan yang selama ini dijalani, di antaranya adalah:

(1). Tuhan ingin mengajarkan kerendahan hati

Ulangan 8:2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu ..

Salah satu pelajaran yang diberikan Tuhan sepanjang perjalanan adalah pelajaran perendahan hati (lesson of humility). Suatu pelajaran yang terlihat mudah, namun banyak orang percaya yang justru gagal di sana. Butuh sekian lama untuk seseorang sungguh-sungguh menjadi pribadi yang rendah hati.

Predikat tegar tengkuk yang disematkan kepada orang Israel adalah karena kedegilan dan arogansi yang mereka miliki. Ini berbicara tentang seseorang yang tidak mau merendahkan hatinya. Tujuan utama perendahan hati adalah sampai seorang percaya mengakui bahwa Tuhan dan firman-Nyalah yang benar dan ia yang salah, lalu mengambil keputusan untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Apakah ini mudah? Ternyata tidak.

Penyebab orang percaya tidak mudah untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan adalah karena: pertama, merasa dirinya benar. Apapun yang firman Tuhan katakan, ia tidak peduli, karena merasa prinsip yang ia miliki adalah yang paling benar. Itulah sebabnya, hidup dalam pertobatan sejati bukan sesuatu yang mudah.

Yang kedua, merasa diri bisa. Salah satu alasan mengapa orang percaya enggan melibatkan Tuhan dalam melakukan suatu tindakan adalah karena ia merasa dirinya bisa, dan baru melibatkan Tuhan apabila sudah terpojok. Yang ketiga, karena merasa sudah terbiasa melakukannya. Mengubah kebiasaan lama seseorang yang sudah kadung dilakukan sekian lama ke kebiasaan baru yang benar dan sesuai aturan itu bukan hal yang mudah, karena sudah begitu mengakar.

(2). Tuhan ingin menguji hati

Ulangan 8:2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, …

Kata “mencobai” yang digunakan di sini adalah nakah, yang artinya untuk menguji, mengetest, menggoda (karena ingin tahu) melalui berbagai peristiwa. Tanpa disadari Tuhan membawa umat-Nya ke dalam berbagai situasi untuk melihat respon umat-Nya dalam menghadapinya. Apakah lebih memilih untuk taat ataukah lebih memilih untuk tidak taat.

Tuhan memberikan manna dari surga dengan instruksi khusus kepada umat Israel, yaitu mengumpulkan secukupnya setiap hari segomer dan mengumpulkan dua kali lipat pada hari keenam untuk persiapan Sabat. Tujuan ini adalah untuk menguji apakah mereka taat pada perintah Tuhan, dan juga apakah mereka bergantung pada pemeliharaan-Nya.

Bagi Tuhan, sebetulnya sangat mudah untuk memelihara hidup umat-Nya. Makanan berlimpah dicurahkan dari Sorga bukan hal yang sulit bagi Tuhan. Tetapi mengapa Ia harus memberikan aturan kepada umat-Nya dalam hal mengumpulkan manna setiap hari? Ini adalah bagian dari test ketaatan Tuhan kepada umat-Nya. Dan terbukti, umat Israel begitu melihat manna awalnya mereka mengambil sebanyak mungkin. Namun manna yang berlebih itu malah menjadi busuk dan berulat. Tuhan juga sedang mengajarkan ketaatan dan uji kesetiaan Tuhan dalam memelihara hidup umat-Nya saat ini.

Mari jemaat Tuhan, melalui pesan-Nya ini Tuhan ingin umat-Nya tidak sekedar bisa menilai Tuhan dari sekedar “baik” dan “tidak baiknya” Tuhan, melalui apa yang nampak di mata, namun mampu meihat maksud hati Tuhan di balik setiap keadaan yang dialami. Yang pasti Tuhan tidak pernah melakukan yang “tidak baik.” Semua yang Tuhan lakukan adalah baik dan luar biasa, dan selalu ada pelajaran penting yang sedang Ia ajarkan agar umat-Nya saat ini menjadi umat yang berhasil. Amin

Tuhan Yesus memberkati!

Memahami Maksud Hati Tuhan di Balik Kondisi yang Dialami (Pesan Gembala, 1 Maret 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-