KUASA DALAM KESEPAKATAN (THE POWER OF AGREEMENT)
Amos 3:1-3 (3) Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?
Tuhan melalui nabi Amos telah memanggil bangsa Israel umat-Nya untuk kembali kepada-Nya, berpaling dari jalan-jalan mereka yang salah. Tuhan berjanji untuk menyatakan perkara-perkara luar biasa apabila mereka mau berjalan di tujuan-Nya dan menaati ketetapan-Nya.
Tuhan mengajukan pertanyaan retorik kepada bangsa Israel: “Dapatkah dua orang berjalan bersama-sama, jika mereka tidak berjanji?” (NKJV: Can two walk together, unless they are agreed?). Artinya, ketika mereka memilih untuk berkeras hati dengan berjalan sekehendak hati, maka mereka tidak akan pernah mengalami perkara-perkara luar biasa dari Tuhan, kecuali mereka memilih untuk berjalan bersepakat dengan Tuhan.
Alkitab sejak dari zaman dahulu telah mencatat bahwa betapa ada perkara luar biasa yang dapat dihasilkan dalam suatu kesepakatan. Pembangunan menara Babel merupakan contoh bahwa kesepakatan bisa menghasilkan perkara yang besar.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tanpa disadari hari-hari ini tidak sedikit orang percaya telah berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing pribadi sibuk dengan urusannya sendiri tanpa peduli apa yang Tuhan kehendaki. Di satu sisi bersyukur bahwa Tuhan senantiasa menyampaikan arahan-Nya, tetapi di sisi yang lain tidak sedikit orang percaya sudah memiliki agendanya sendiri dan berjalan menurut apa yang mereka pandang benar.
Ada orang-orang percaya yang merasa bahwa mereka sedang berjalan bersama Tuhan, namun apakah mereka sudah berjalan bersama Tuhan dalam kesepakatan-Nya? Alkitab di Kejadian 6:9 memberikan contohtentang Nuh, seorang yang hidup bergaul dengan Allah. Kata “bergaul” yang digunakan adalah halak, yaitu berjalan, dalam pengertian berjalan bersama Tuhan.
Ketika Nuh berjalan bersepakat bersama Tuhan, ia membuat suatu keputusan besar bahwa semua yang bukan agenda dari Tuhan ia kesampingkan, dan semua yang merupakan tuntunan dari Tuhan ia ikuti. Dan Nuh sungguh melakukannya hari lepas hari, hingga berdirilah sebuah bahtera yang dikehendaki Tuhan.
Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu dipahami oleh orang percaya agar bisa berjalan dalam kesepakatan baik dengan Tuhan maupun dengan sesama, di antaranya adalah:
(1). Kesepakatan harus dimulai dari dalam diri sendiri dahulu
Amos 3:3 Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?
Kesepakatan dalam komunitas terkecil adalah kesepakatan dengan diri sendiri. Maksudnya, inisiatif untuk ingin bersepakat harus lahir terlebih dahulu dari dalam diri si orang percaya. Karena tidak mungkin orang bisa menjadi sepakat dengan siapapun juga, apabila dirinya belum apa-apa sudah membangun benteng keengganan.
Mudahkah merobohkan benteng keengganan? Seharusnya, tidak sepatutnya orang percaya masih memiliki benteng semacam itu. Ingatkah, ketika dahulu oleh kasih anugerah Tuhan, seseorang telah membuka hatinya untuk menerima Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat, dan Raja, lalu memberi dirinya untuk dibaptis. Itulah momen dimana segala apapun benteng yang dimiliki telah dirobohkan, lalu memberi hidup untuk sepakat berjalan bersama Tuhan dengan tujuan yang baru.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, tidak sedikit orang percaya mulai memiliki berbagai agenda. Mulai memiliki tujuan sendiri dalam hidupnya. Tanpa disadari benteng keengganan beserta benteng-benteng lainnya mulai berdiri kembali. Ini yang harus selalu dijaga, dengan senantiasa melekat dan berjalan dalam arahan Tuhan.
(2). Kesepakatan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa ketika melakukannya bersama mitra yang benar
Amos 3:3 Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?
Setiap orang percaya pasti rindu agar apa yang Tuhan janjikan menjadi kenyataan, dan memiliki pengharapan agar kondisi apapun yang sedang dihadapi mengalami perubahan ke arah yang lebih baik; percaya bahwa Tuhan sedang bekerja. Tetapi sesuatu yang lebih dahsyat akan terjadi ketika orang percaya memiliki seseorang yang bisa diajak bersepakat tentang apa yang sedang ia percayai.
Artinya, orang percaya membutuhkan mitra yang sama-sama memiliki iman yang teguh dan kesepakatan dalam berjalan ke tujuan Tuhan yang sama. Bukan orang-orang yang hanya sekedar bisa bersimpati saja. Yang dibutuhkan adalah seorang mitra iman (faith partner)—seorang yang akan menghilangkan batasan tentang hal-hal yang sepertinya mustahil dalam pandangan manusia umumnya.
Siapa saja orang-orang yang layak untuk menjadi mitra iman yang dimaksud? Pertama-tama seharusnya seorang yang dulu pernah menyatakan kesepakatan di hadapan Tuhan untuk hidup bersama dalam pernikahan sampai maut memisahkan. Lalu selanjutnya, siapapun orang yang siap untuk bersepakat dalam iman, dan membuat iman sang mitra melompat dan mengalami hal-hal yang luar biasa dalam Tuhan, bukan melemahkan.
Mari umat Tuhan, sudahkah memiliki seorang mitra iman yang dapat diajak bersepakat untuk berjalan secara demikian? Untuk ukuran dunia saja, orang-orang bisa bersepakat untuk membangun sebuah kota yang dengan menara yang puncaknya sampai ke langit. Apa lagi ketika hari ini sebagai orang percaya di dalam Tuhan, kesepakatan bersama dengan seorang mitra iman untuk suatu perkara yang Tuhan berikan, pasti akan membuahkan hal-hal yang luar biasa. Selamat bersepakat!
Tuhan Yesus memberkati!
