KEBERANIAN UNTUK BERDIRI DAN BERBICARA (COURAGE TO STAND UP DAN SPEAK OUT)
Kisah Para Rasul 2:14-15 (14) Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. (15) Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan,
Peristiwa yang terjadi di hari Pentakosta ini telah mengagetkan banyak orang, khususnya orang-orang yang mengenal siapa Petrus sebelumnya. Petrus dikenal sebagai sosok yang impulsif. Pribadi tergesa-gesa yang tidak segan “berbicara dahulu, baru berpikir kemudian.”
Di malam ketika orang-orang datang untuk menangkap Yesus di Taman Getsemani, Petrus tiba-tiba menghunus pedang lalu memutuskan telinga kanan hamba seorang imam besar bernama Malkhus, seolah-olah ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan
Lalu sementara Yesus dibawa untuk diperiksa dan diadili di rumah seorang imam besar, terjadilah peristiwa Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Dari situ, tidak lama kemudian Yesus disalibkan, Yesus bangkit dari kematian, Yesus menampakkan diri di hadapan para murid. Tidak banyak Alkitab mencatat pertemuan Yesus dengan para murid setelah peristiwa kebangkitan, khususnya dengan Petrus, selain peristiwa di pinggir danau Galilea ketika murid-murid sedang pergi menjala ikan.
Sejak peristiwa penyangkalan, Petrus telah berubah menjadi seorang yang pasif. Namanya baru kemudian disebutkan kembali pada waktu peristiwa Pentakosta dimana Petrus dengan lantang berdiri dan menyatakan kebenaran di depan banyak orang, sehingga banyak orang yang dijamah dan menjadi percaya kepada Kristus. Sejak peristiwa itu, Petrus dan para murid lainnya dipenuhi dengan kekuatan dan keberanian untuk bersaksi bagi Yesus. Petrus tidak lagi melakukannya dengan kekuatan dirinya, tetapi bersandar pada kekuatan Roh Kudus.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat Tuhan. Melalui pesan-Nya ini Tuhan ingin umat-Nya melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Petrus dan para murid Kristus di masa lalu, dalam pengertian berani berdiri dan menyatakan maksud dan tujuan agenda Kerajaan Sorga di tengah berbagai keadaan yang umat Tuhan hadapi.
Bayangkan dulu apa yang Petrus hadapi pada waktu itu. Ketika peristiwa pencurahan Roh Kudus terjadi atas para murid, ribuan orang menyaksikannya. Ada yang menertawakannya, ada yang mengolok-olok, dan ada pula orang-orang yang menjadi takjub. Bayangkan orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa dapat memahami setiap apa yang para murid katakan dalam kepenuhan mereka.
Di tengah berbagai komentar (positif dan negatif) dan respon dari orang-orang yang menyaksikan pada waktu itu, dengan keberanian berdiri dan berkata-katalah Petrus menyatakan kebenaran dan maksud Tuhan. Pada waktu itu ada tiga ribu orang dijamah dan memberi diri kepada Yesus. Dalam pandangan mata manusia, ini bukan hal yang mudah.
Lingkup umat Tuhan saat ini mungkin belum seperti yang dihadapi para murid Yesus pada waktu itu. Berapa orang rata-rata dalam kehidupan yang umat Tuhan saat ini hadapi dalam keseharian? Tidak banyak. Pertama diri sendiri. Lalu ada anggota keluarga sekitar tiga atau empat orang. Di kehidupan sosial mungkin ada belasan orang atau lebih. Belum di tempat perkerjaan dan di gereja. Belum lagi ketika diperhadapkan dengan berbagai carut-marut di dalam negeri sendiri. Pertanyaannya, agenda siapa yang seringkali dibawa umat Tuhan ke dalam kelompok-kelompok kehidupan tersebut? Kadang tanpa disadari tidak sedikit orang percaya lebih banyak membawa agendanya sendiri-sendiri.
Tidak sedikit umat Tuhan terbawa oleh keinginan diri sendiri atau ambisi pribadi, bukan agenda Kerajaan Sorga. Atau mungkin kekecewaan atau emosi jiwa yang membuat seorang percaya mengambil keputusan sendiri. Di dunia kehidupan sosial kadang terbawa sikap dunia yang cenderung lebih memilih untuk berpihak pada yang satu dan memusuhi yang lain. Ketika tiba di keluarga sendiri kadang membawa berbagai-bagai keluhan, atau memilih untuk diam tidak melakukan apa-apa. Lalu ketika melihat berbagai kondisi yang terjadi dalam negeri, malah turut mengutuki atau diam tanpa mengambil tindakan apapun.
Oleh sebab itu, apa yang harus dilakukan agar setiap orang percaya kembali menangkap rancangan Tuhan yang dahsyat, sehingga siapapun orang-orang yang berada di lingkarannya bangkit berkobar-kobar karena ada orang yang berani menyatakan maksud dan kebenaran Tuhan di tengah-tengahnya. Beberapa di antaranya adalah:
(1). Dalam tuntunan Roh Kudus berani untuk berdiri dan menyatakan kebenaran dengan jelas
Kisah Para Rasul 2:14 Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.
Roh Kudus memberi keberanian bagi Petrus untuk berdiri di tempat di mana rasa takut pernah membungkam dirinya. Beberapa waktu sebelumnya, Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali. Sekarang, dalam kepenuhan Roh Kudus, Petrus yang sama berdiri di kota yang sama tempat Yesus disalibkan untuk memberitakan tentang siapa Yesus tanpa rasa takut.
Apa yang terjadi pada Petrus bukanlah keberanian manusia, melainkan pemberdayaan ilahi (divine empowerment). Roh Kudus memberikan kekuatan supranatural kepada orang percaya biasa untuk menghadapi kerumunan, ragam budaya, penentangan, dan bahkan ancaman. Itulah sebabnya, penting bagi orang percaya untuk mengalami kepenuhan Roh Kudus secara terus menerus, bukan sesekali. Setiap orang percaya dalam Yesus tentu ada Roh Kudus di dalamnya, namun kepenuhan Roh Kuduslah yang akan menentukan apakah seseorang mengalami divine empowerment atau tidak.
Charles Spurgeon pernah berkata, “Every man of God should be flaming in prayer, shining in life, and burning in Spirit.” (Setiapumat Tuhan selayaknya bernyala-nyala dalam doa, memiliki kehidupan yang bersinar, dan berkobar-kobar dalam Roh Kudus). Roh Kudus mendorong orang percaya untuk membela dan menyampaikan kebenaran dengan bertindak sebagai penuntun internal, memberikan keyakinan yang lembut, memberikan keberanian di saat kelemahan, dan mengarahkan dalam pengambilan keputusan.
(2). Dalam tuntunan Roh Kudus menyampaikan perkataan firman yang berkuasa
Kisah Para Rasul 2:15-17 (15) Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, (16) tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël: (17) Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.
Roh Kudus memberi Petrus hikmat untuk menyampaikan kebenaran yang berdasarkan pada Kitab Suci atau Alkitab. Ia menjelaskan tentang waktu, yaitu hari masih pukul 9 pagi, waktunya orang-orang untuk ibadah dan persembahan di Bait Suci. Ia tidak bersikap defensif, tetapi mendasarkan seluruh jawabannya pada Kitab Suci.
Beginilah cara gereja Tuhan dan orang percaya harus berbicara dewasa ini. Bukan sesuatu yang berasal dari opini pribadi (POV sendiri) atau emosi diri, melainkan dengan kebenaran firman Tuhan sebagai dasar kebenaran. Bukan dengan keinginan hati manusia, tetapi dengan keinginan hati Tuhan.
Ucapan yang dipenuhi Roh Kudus selalu dipenuhi Firman (Spirit-filled speech is always Word-filled speech). Roh Kudus tidak akan pernah bertentangan dengan apa yang diilhami-Nya. Seperti Petrus, demikian orang percaya harus mendasarkan setiap perkataan dan perbuatannya, di mana tidak ada ruang untuk spekulasi. Hanya dalam kebenaran Tuhan yang sejati.
Mari jemaat Tuhan, sebagaimana pesan yang Tuhan telah berikan di awal tahun 2026 bahwa jangan umat Tuhan malu bersaksi tentang Yesus, saat ini Tuhan menegaskan kembali bahwa seperti inilah orang percaya menjalani gaya hidupnya agar nama Yesus dikenal dan orang-orang datang kepada-Nya. Selamat berdiri dan menyuarakan kebenaran Tuhan!
Tuhan Yesus memberkati!
