Jangan Permalukan Dirimu, Karena Tuhan Tidak Pernah Memermalukanmu (Pesan Gembala, 8 Maret 2026)

JANGAN PERMALUKAN DIRIMU, KARENA TUHAN TIDAK PERNAH MEMERMALUKANMU

1 Samuel 17:10-11, 26 (26) Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: “Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?”

Salah satu senjata utama iblis bukan hanya menghancurkan hidup orang percaya secara fisik, tetapi juga memermalukannya. Untuk melumpuhkan pasukan Israel, Goliat tidak perlu bersusah payah menggunakan senjata melemahkan pasukan Israel, melainkan cukup dengan mengejek, menghina, membuat merasa kecil, merasa bodoh, dan mengolok-olokkannya selama empat puluh hari, maka lemahlah mereka semua termasuk rajanya. Dan itu terjadi.

Masa kini, “goliat” telah mencoba masuk dalam hidup banyak orang, termasuk hidup orang-orang percaya dan bentuknya pun bisa bermacam-macam. Bisa berupa intimidasi akan pelbagai hal, masalah rumah tangga, masalah ekonomi, kekuatiran akan masa depan, dan masalah sakit penyakit (kategori-kategori ini diambil dari arti nama-nama raksasa saudara-saudara Goliat lainnya).

Apa yang “goliat-goliat” ini coba lakukan adalah dengan seolah-olah terus mengatakan: “Tuhanmu tidak sanggup. Kamu sudah kalah, dan kamu tidak bisa berbuat apa-apa!” Tujuannya adalah untuk memermalukan orang percaya, yang pada akhirnya si musuh ingin memermalukan Tuhan.

Rasa malu adalah salah satu emosi sulit yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang. Tahapannya terdiri dari berbagai level. Seseorang bisa memutuskan untuk melakukan hal-hal di luar kewajaran gara-gara rasa malu. Rasa malu yang tidak dikendalikan dengan baik itu dapat masuk meresap ke banyak area kehidupan manusia.

Namun, apa kaitan semua ini dengan pesan Tuhan “Jangan permalukan dirimu, …”? Ini berbeda pengertian dengan Goliat atau si musuh yang memermalukan pihak orang percaya. Ingat, perkara “goliat” ingin memermalukan orang percaya itu memang pekerjaannya. Namun ketika orang percaya memercayainya, lalu memberikan respon yang salah ketika dipermalukan oleh pihak lawan, itu yang dinamakan “Orang percaya sedang memermalukan dirinya.”

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita umat-Nya. Tuhan melalui pesan-Nya ini sedang memeringati orang percaya agar bertindak hati-hati dalam menghadapi berbagai keadaan dan berespon benar dalam hal apapun termasuk ketika merasa sedang dipermalukan oleh si jahat. Sebab ketika orang percaya memberikan respon-respon yang salah, sesungguhnya ia sedang memermalukan dirinya.

Lihat apa yang dilakukan pasukan Israel yang bersenjata lengkap ketika merasa dipermalukan atau direndahkan oleh Goliat dengan perkataan yang penuh dengan olok-olok? Mereka menunjukkan reaksi-reaksi yang salah. Mereka cemas dan ketakutan (ayat 11), lari menjauh dan sangat ketakutan (ayat 24), tawar hati (ayat 32). Hal-hal ini yang akhirnya menjadi bahan tertawaan Goliat.

Jadi, pada waktu fokus pandangan pasukan Israel lebih tertuju kepada besarnya musuh, dan telinga mereka tertuju pada perkataan yang merendahkan, lemahlah mereka. Mereka sama sekali tidak menyadari kemampuan yang ada pada diri mereka, bahwa mereka itu adalah prajurit-prajurit bersenjata yang diterjunkan untuk siap bertempur.

Beberapa hal yang harus dimiliki oleh orang percaya ketika menghadapi “goliat-goliat” dalam kehidupannya, agar tidak menjadi bahan tertawaan musuh, di antaranya adalah:

(1). Miliki fokus pandangan yang tertuju kepada “ukuran” Tuhan, bukan kepada “ukuran” lawan

1 Samuel 17:26 b …Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?”

Daud datang ke medan pertempuran untuk membawakan makanan bagi kakak-kakaknya. Pada waktu Daud baru tiba dan menurunkan barang-barangnya, tampillah maju Goliat. Ketika prajurit Israel melihat Goliat, larilah mereka dari padanya dengan sangat ketakutan (ayat 24). Ketika Daud melihat sosok Goliat, ia bertanya, “Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, …?”

Ada cara pandang yang berbeda antara pasukan Israel, Saul sebagai raja Israel, dan Daud dalam memandang sosok Goliat. Pasukan Israel memandang Goliat sebagai sosok raksasa yang menakutkan. Sebaliknya, mereka tidak melihat diri mereka sebagai barisan dari pada Allah yang hidup sebagaimana yang diucapkan Daud tentang pasukan Israel. Mereka memandang diri mereka seperti sepuluh pengintai yang merasa diri seperti belalang.

Saul memandang Goliat dengan membandingkan ukuran dan biodata Goliat dengan dirinya sendiri. Saul melihat dirinya hanyalah seorang warga sipil biasa yang tidak biasa memegang senjata. Kebetulan ia diangkat menjadi raja. Sedangkan Goliat sejak muda sudah terlatih sebagai seorang prajurit. Saul gentar hanya berdasarkan biodata tentang Goliat.

Dan yang luar biasa, Daud tidak pernah melihat dirinya kecil dan Goliat besar berdasarkan ukuran fisik, melainkan berdasarkan siapa pribadi yang memback-up diri masing-masing. Daud memandang pribadi yang memback-up dirinya adalah Allah semesta alam (Tuhan pencipta langit dan bumi) yang luar biasa besar dan bukan hanya itu, pribadi Tuhan yang ia kenal dan alami secara pribadi. Sedangkan Daud melihat Goliat hanyasebagai orang Filistin biasa yang “tak bersunat,” yaitu seorang yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Tuhan.

Mari jemaat Tuhan, apa kesimpulan dari pesan Tuhan ini? Ada orang-orang percaya yang mudah sekali dipermalukan oleh si musuh, yaitu orang-orang yang bergerak bukan untuk kepentingan Kerajaan Sorga, orang-orang percaya yang masih membanding-bandingkan kekuatan musuh dengan kekuatan dirinya sendiri, dan orang-orang percaya yang coveringnya tidak jelas (tidak dimuridkan dan  tidak digembalakan dengan benar).

Namun sebaliknya, jadilah orang-orang percaya yang tangguh yang justru memermalukan pihak musuh (ayat 43) dan sekaligus membuat musuh kalah, yaitu orang-orang percaya yang sadar dirinya diback-up oleh Kristus yang dahsyat dan hidup dalam kebenaran-Nya, memiliki covering yang benar, digembalakan dengan benar, punya penundukkan yang benar, dimuridkan dengan benar, dan yang berperang mengikuti cara-Nya Tuhan. Orang-orang percaya seperti inilah yang akan meraih kemenangan yang gilang gemilang dengan memermalukan pihak musuh! 1 Samuel 17:54-56 (54) Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata orang itu ditaruhnya dalam kemahnya.

Tuhan Yesus memberkati!

Jangan Permalukan Dirimu, Karena Tuhan Tidak Pernah Memermalukanmu (Pesan Gembala, 8 Maret 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-