Hargai Hadiah yang Tak Terkatakan (Pesan Gembala, 1 Februari 2026)

HARGAI HADIAH YANG TAK TERKATAKAN

2 Korintus 9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! (NKJV: Thanks be to God for His indescribable gift!)

Kata “karunia” yang digunakan pada ayat ini diambil dari kata dorea yang artinya hadiah yang tak terkatakan atau hadiah yang sulit untuk digambarkan atau dilukiskan karena begitu tinggi nilainya. Begitu mahalnya sehingga tidak bisa digantikan oleh apapun. Kira-kira jenis apakah “hadiah” ini? Jawabannya akan semakin jelas apabila membuka Yohanes 3:16. Hadiah yang tak terkatakan yang dimaksud adalah Yesus Kristus.

Bayangkan, pemilik Sorga, pencipta dan penguasa alam semesta, datang ke dunia meninggalkan keallahan-Nya, mengambil rupa manusia, kemudian mati di kayu salib untuk menebus umat manusia dari dosa. Sehingga, barangsiapa yang percaya dan menerima Pribadi Yesus (lahir baru di dalam Dia) akan diselamatkan dan hidup menikmati janji-janji-Nya. Ini yang disebut sebagai hadiah yang tak terkatakan atau“indescribable gift” itu.

Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Sebagaimana umumnya manusia apabila menerima suatu hadiah tertentu yang sangat bernilai, bukankah ia akan menempatkan hadiah tersebut pada tempat yang khusus? Dan apakah hatinya pun akan memiliki rasa syukur terhadap hadiah yang diberikan tersebut? Ya, tentu saja.

Demikian pula seharusnya dilakukan setiap orang percaya ketika menerima “hadiah” yang tak terkatakan, yaitu Pribadi Yesus Kristus. Selayaknya akan menempatkan-Nya di tempat yang khusus dengan hati yang senantiasa melimpah dengan syukur. Semakin tinggi nilai hadiah yang diterima, maka semakin tinggi pula rasa syukur si penerima hadiah tersebut.

Ini mengingatkan akan peristiwa perempuan berdosa yang datang ke rumah Simon orang Farisi saat Yesus sedang makan (Lukas 7:36-50). Sebagai ungkapan penyesalan dan rasa syukur yang besar karena dosanya telah diampuni, maka perempuan itu mengambil tindakan membasahi kaki Yesus dengan air matanya lalu menyekanya dengan rambutnya, lalu menuangkan minyak ke kaki Yesus.

Tuhan mau setiap umat-Nya senantiasa menyadari bahwa Yesus yang telah mati di kayu salib demi untuk memulihkan umat-Nya dari dosa adalah “hadiah” yang luar biasa yang sepatutnya dihargai dan ditempatkan di tempat yang khusus. Dia lakukan semua itu karena kasih-Nya kepada kita.

Di tengah berbagai kondisi dunia yang terjadi tidak sedikit orang percaya hari-hari ini, disadari atau tanpa disadari, telah kehilangan kekaguman pada Tuhan, atau telah menempatkan Yesus Kristus di tempat yang tidak semestinya dalam kehidupannya. Yang dikejar bukan lagi pribadi-Nya, melainkan “hal” yang lainnya. Bukan hadiah utamanya lagi yang dikejar, tetapi bonus sampingannya. Yesus dan kebenarannya seringkali sudah bukan prioritas pertama lagi.

Beberapa hal yang mesti dipahami, agar Yesus yang adalah the indescribable gift sungguhdihargai dalam hidup orang percaya. Di antaranya adalah:

(1). Membiarkan pribadi Tuhan mengalir (overflow) dari dalam diri sendiri, keluarga, dan komunitas

2 Korintus 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

Bahwa tujuan Tuhan Yesus memersembahkan diri-Nya sebagai indescribable gift kepada setiap masing-masing pribadi, sehingga hari ini orang percaya ada sebagai orang-orang yang diselamatkan adalah untuk sungguh-sungguh hidup dalam Kristus, bukan sekedar menjadikan “hadiah” tersebut hanya dipajang begitu saja “dalam lemari” seperti memajang trophy (piala), lalu puas dengan status sebagai orang percaya.

Apabila diperhatikan, ayat 15 yang menjadi dasar pesan Tuhan berada di ayat terakhir dari sebuah perikop tentang “Memberi dengan sukacita membawa berkat.” Perikop tentang bagaimana jemaat non Yahudi di Korintus yang telah mengalami Yesus sebagai “hadiah yang tak terkatakan” tergerak untuk membantu orang-orang Kristen Yahudi yang berada di Yerusalem.

Jemaat Korintus tidak menyimpan “hadiah” yang luar biasa itu ke dalam lemari untuk dipajang dan berkata bahwa aku sekarang ciptaan yang baru. Namun menyadari bahwa ada rencana Tuhan yang luar biasa, sehingga Tuhan memilih mereka, maka mulailah pribadi Yesus menghidupi diri pribadi mereka masing-masing, lalu keluar menjadi berkat.

Pribadi yang pertama-tama mengalami dampaknya selayaknya adalah anggota keluarga, lalu ketika keluarga sudah mengalaminya, maka kebaikan Tuhan yang dialami keluarga mengalir overflow kepada komunitas luar, sehingga akhirnya Kristus dialami banyak pihak.

(2). Membiarkan hadiah yang diterima dari Tuhan mengubah diri kita dari “me-centered” living menjadi “Christ-centered” worship

2 Korintus 9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

Perubahan dari me-centered  living (kehidupan yang berpusat pada diri sendiri) menjadi Christ-centered (kehidupan yang berpusat pada Kristus) adalah transformasi kehidupan yang semestinya terjadi dalam hidup orang percaya yang mengapresiasi Yesus sebagai “hadiah yang tak terkatakan” yaitu dengan melepaskan ego, ambisi pribadi, dan keinginan daging untuk kemudian hidup sesuai kehendak Tuhan.

Dunia saat ini mengajarkan manusia untuk menjadikan dirinya sebaga pusat dari segalanya (self-centered), yang ditandai dengan keegoisan, kesombongan, dan fokus pada kepuasan diri sendiri. Ini adalah kehidupan yang rapuh karena berpusat pada hal yang fana. Tuhan mau umat-Nya beralih ke Christ-centered berarti menyangkal diri dan memikul salib, seperti yang diajarkan Yesus. Hidup tidak lagi tentang “aku,” melainkan tentang kehendak-Nya dan agenda-Nya.

Tanpa disadari tidak sedikit orang percaya masih mejalani gaya hidup “untukku dan untukku,” tidak sedikit pula gereja menjalani gaya hidup ,”untuk kemuliaanku dan kemuliaanku”. Ingat akan pesan Tuhan di akhir tahun: “Menjadi Bait yang Berfungsi Sebagaimana Mestinya” dimana gereja harus menjadi rumah doa, bukan sarang penyamun (sarang penyamun adalah tentang memikirkan apa yang penting untuk diriku dan rencanaku), menjadi rumah kesembuhan dan mujizat, dan rumah penyembahan kepada Yesus Kristus.

Mari jemaat Tuhan, jangan simpan Yesus yang adalah indescribable gift hanya di dalam “lemari” yang sekali-sekali dilihat, namun tunjukkan apresiasi kita dengan mengalami-Nya, lalu menjadi saluran-Nya Tuhan, dan menjalani gaya hidup yang Christ-centered worship. Ketika pribadi orang percaya atau gereja Tuhan menaikkan Christ-centered worship, makapercayalahakanterjadi lawatan Tuhan dan revival di dalam keluarga dan berbagai aspek hidup lainnya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati!

Hargai Hadiah yang Tak Terkatakan (Pesan Gembala, 1 Februari 2026)

| Warta Jemaat |
About The Author
-