CAPAILAH PENDAKIANMU!
Bilangan 13:30 Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan majudan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!”
Ini merupakan perkataan yang penuh determinasi yang diucapkan Kaleb di tengah-tengah bangsa Israel yang sedang resah hatinya akibat sepuluh pengintai memberikan laporan yang busuk. Mereka mencoba memengaruhi seluruh bangsa Israel bahwa bangsa Enak yang diam di negeri yang akan dimasuki itu memakan penduduknya. Hal ini membuat segenap bangsa Israel menjadi enggan memasuki negeri tersebut.
Kaleb dengan berani dan optimis mengatakan bahwa apapun fakta yang telah dilihat oleh para pengintai tentang adanya suku Enak yang memang besar-besar, ia akan tetap maju memasuki dan mendudukinya. Kata “maju” yang digunakan kaleb adalah halah yang artinya naik atau mendaki (to go up, to climb up, to ascend). “Tidak! Kita akan tetap naik mendaki hingga tiba di puncak tujuan, …!”
Bukan tanpa alasan Kaleb mengatakan hal itu, karena Kaleb percaya akan janji Tuhan bagi bangsa Israel. Bahwa Tuhan yang telah berjanji, maka Tuhan pula yang akan membawa mereka masuk ke negeri itu apapun tantangan yang menghadang, dan percaya Tuhan akan memberikan kepada mereka suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya.
Istilah “mendaki gunung” adalah gambaran atau metafora yang sering digunakan dalam menggambarkan perjalanan iman orang percaya untuk mencapai tujuan Tuhan dalam hidupnya. Gunung atau tempat tinggi seringkali merepresentasikan tentang minimal dua hal. Pertama adalah tempat Tuhan bersemayam, dan yang kedua adalah pencapaian tujuan Tuhan.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat Tuhan. Bahwa perjalanan “naik mendaki” yang harus ditempuh oleh masing-masing umat Tuhan haruslah terus dilakukan dan diselesaikan hingga sampai di tujuan Tuhan, walaupun harus melewati berbagai tantangan. Tuhan mencari para “pendaki,” yaitu orang-orang percaya yang berani terus melangkah maju dan semain naik demi tujuan yang Tuhan sudah taruhkan dengan jelas di hati lalu menjalaninya.
Mendaki adalah perjalanan ke atas yang sifatnya progresif hari lepas hari untuk menggenapi tujuan Tuhan, bukan sekadar mencapai tujuan semu sesaat. Hidup menjalani pendakian ini memang berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki visi. Sebagai dampak, ada medan lintasan yang menanjak curam, tetapi justru di sanalah tanpa disadari karakter orang percaya dibentuk, dan tujuan Tuhan tercapai.
Ada tiga macam orang percaya: Quitters, Campers, dan Climbers. Quitters adalah orang-orang percaya yang memutuskan untuk berhenti mendaki karena merasa terlalu sulit. Lebih mudah menyerah daripada bertahan. Memang, mendaki itu bukan perkara yang mudah, namun bukan artinya seseorang dapat berhenti semaunya.
Campers adalah orang-orang percaya yang merasa telah mengalami keberhasilan sesaat di salah satu area kehidupannya, namun kemudian merasa diri sudah mencapai segala-galanya, sehingga cukup mendaki hanya sampai sejauh itu, padahal mereka belum sampai ke tujuan akhir.
Sedangkan Climbers adalah orang-orang percaya yang memercayai tujuan Tuhan dan menyadari bahwa mereka harus terus mendaki sampai mencapai tujuan utama. Rintangan bisa saja menghadang mereka, namun mereka melihat rintangan sebagai peluang untuk terus mendaki. Mereka mampu berkata “tidak” untuk berhenti pada sekedar dataran yang tampak tinggi, namun belum tujuan akhir.
Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu dimiliki oleh orang-orang percaya agar mampu menyelesaikan seluruh rangkaian pendakian seperti yang Tuhan maksudkan. Di antaranya adalah:
(1). Keberhasilan suatu pendakian ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh si orang percaya
Bilangan 14:8-9
(8) Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
(9) Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”
Sangatlah tidak mudah bagi Yosua dan Kaleb, orang-orang yang setia sejak awal mengikut Tuhan, harus menghadapi kenyataan bahwa perjalanan ke tanah Perjanjian yang seharusnya bisa ditempuh dalam tempo yang singkat, kini akibat ketidakpercayaan mayoritas umat Israel, perjalanan menjadi empat puluh tahun. Yosua dan Kaleb tetap setia menyelesaikan seluruh rangkaian pendakian.
Sayangnya, ketika perjalanan tinggal selangkah lagi memasuki tanah Perjanjian, ada dua setengah suku Israel datang kepada Musa memohon untuk tidak melanjutkan perjalanan.Mereka adalah suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye yang memilih untuk tinggal di sisi timur sungai Yordan, menetap di wilayah Gilead dan Basan yang subur, cocok untuk peternakan mereka yang banyak.
Mereka telah menetapkan sendiri “keberhasilan pendakian” mereka di tempat yang bukan Tuhan tetapkan. Mereka menganggap itu adalah tujuan akhir pendakian mereka, padahal bukan. Tidak sedikit orang percaya berada di wilayah yang disebut “good enough” ini. Wilayah yang telah mereka putuskan sendiri, bahwa inilah akhir pendakian mereka.
(2). Keberhasilan suatu pendakian akan dinikmati hasilnya oleh si pendaki sendiri
Bilangan 14:9 Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. …
Yosua dan Kaleb tidak melihat diri mereka kecil seperti belalang. Itulah mengapa, tidak heran kalau Kaleb berkata: “mereka akan kita telan habis!” Semua diawali dengan cara pandang yang benar. Betul mereka melihat bahwa orang Enak itu memang besar-besar, namun mereka sadar bahwa Tuhan mereka jauh lebih besar.
Bagian ini yang tidak terlihat oleh sepuluh pengintai. Mereka hanya melihat di bagian masalah yang mereka sedang hadapi, bahwa betapa musuh mereka begitu besar, namun tidak dapat melihat kedahsyatan Tuhan. Untuk seseorang bisa memandang benar ini tidak bisa datang tiba-tiba. Harus ada kehidupan pengenalan akan Tuhan yang dibangun hari lepas hari.
Akibat dari cara pandang yang benar ini, Kaleb terus berjalan mendaki tanpa lelah menuju tanah Perjanjian. Genaplah apa yang ia imani, Kaleb akhirnya tiba di tanah Perjanjian dan meminta bagiannya, yaitu Hebron, tempat dimana orang-orang Enak berada. Ia sendiri yang “menelan” habis semua suku Enak. Dan ia kemudan menikmati kehidupannya di tanah yang Tuhan janjikan tersebut (Yosua 14:10-12).
Mari jemaat Tuhan, menjalani kehidupan sebagai orang percaya adalah bukan tentang melakukan aktifitas seperti yang diri sendiri kehendaki, melainkan tentang melakukan apa yang Bapa Sorgawi kehendaki. Ada perjalanan pendakian yang harus diselesaikan dengan baik. Mungkin jalannya tidak selalu rata. Kadang terjal dan berbatu-batu. Diperlukan stamina rohani yang prima. Oleh sebab itu, senantiasalah terhubung dengan Tuhan sang Sumber kekuatan.
Tuhan Yesus memberkati!
