ANTISIPASILAH PERKARA-PERKARA YANG TUHAN MAU NYATAKAN
1 Petrus 1:13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
Kata “siapkanlah” dalam kalimat di atas dalam terjemahan NKJV dikatakan “gird up the loins” yang artinya mengencangkan ikat pinggang. Ini sesuai dengan makna dalam bahasa aslinya anazonnumi, yaitu suatu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang di masa itu, dimana mereka akan mengikat pakaian mereka dengan sabuk di pinggang agar gerakan mereka ketika hendak melakukan suatu pekerjaan tidak terhalang oleh jubah mereka.
Jadi, ketika seseorang sudah mulai mengikat pinggang dengan sabuk ke jubahnya, maka artinya orang itu sedang bersiap-siap untuk memulai suatu aktifitas tertentu, atau menantikan datangnya sesuatu hal dimana ia siap untuk mengerjakannya. Ini yang disebut dengan antisipasi.
Sebaliknya, ketika seseorang didapati jubah pakaiannya dibiarkan tergerai, lalu ikat pinggangnya sudah dilipat atau digantung, maka dikatakan orang itu sudah lepas tanggung-jawabnya dalam melakukan suatu aktifitas, atau sedang tidak menantikan apa-apa untuk ia lakukan (bandingkan Lukas 12:37).
Melalui suratnya kepada orang-orang percaya yang tersebar di perantauan, Petrus menasihati agar orang-orang percaya bersikap antisipatif, yaitu memiliki kewaspadaan spiritual di tengah kehidupan yang penuh ancaman. Jangan hanya duduk diam dan menantikan gelombang datang satu persatu secara pasif. Sebaliknya pada saat orang percaya siap dan bergerak bersama Tuhan, maka Tuhan akan campur tangan menyatakan kuasa-Nya.
Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi umat-Nya. Tuhan tidak mau umat-Nya menjadi orang-orang percaya yang tidak tahu apa-apa. Orang percaya yang tidak memiliki antisipasi atau persiapan dan tindakan penantian aktif akan suatu pengharapan akan perkara-perkara yang Tuhan mau nyatakan. Jangan menjalani kehidupan kekristenan secara datar, biasa, tanpa memiliki kegairahan akan hal-hal dari Tuhan.
Sedangkan pribadi orang percaya yang antisipatif adalah orang percaya yang imannya aktif bergerak tumbuh, karena ada yang sedang dinanti-nantikan. Antisipasi lebih dari sekadar menunggu; itu adalah harapan yang penuh sukacita, terkadang tidak sabar akan suatu peristiwa di hari depan dari Tuhan.
Sebagai orang percaya, antisipasi berakar pada janji-janji Tuhan, perkataan Tuhan, atau visi Tuhan. Itu adalah “iman yang bergerak,” percaya bahwa apa yang telah Tuhan janjikan akan terjadi, dan berperilaku hari ini dengan cara yang mencerminkan kenyataan itu. Ketika antisipasi hilang, seseorang otomatis akan menjadi stagnan, dan itu akan sangat terlihat.
Beberapa hal yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya, untuk menjadi pribadi-pribadi yang antisipatif, di antaranya adalah:
(1). Menyadari bahwa perlunya persiapan di dalam menantikan suatu perkara besar yang akan datang tiba-tiba
1 Petrus 1:13a Sebab itu siapkanlah akal budimu, …
Terjemahan “siapkanlah akal budimu” menurut versi Amplified ditulis: “So prepare your minds for action.” Ini seperti layaknya seorang atlet yang sedang bersiap untuk sebuah pertandingan besar. Persiapannya bukan hanya pada bagian fisik dan teknik saja, namun juga persiapan mental. Bersiap menghadapi siapapun lawan yang akan dihadapinya.
Jadi atlet yang memilih untuk pasif dan yang melakukan persiapan sekedarnya sudah pasti tidak akan mampu tampil maksimal pada saat terjun di pertandingan. Pertandingan itu bukan semata-mata adu teknik dan fisik, namun adu mental dan persiapan. Siapa yang memersiapkan diri dengan baik, seringkali dia yang akan memenangkan pertandingan.
Untuk terjadinya momentum besar dari Tuhan yang bisa saja datang secara tiba-tiba, umat Tuhan tidak boleh berhenti bergerak. Ingat, ketika lawatan Tuhan di hari Pentakosta, kepenuhan Roh Kudus dialami oleh 120 murid yang sedang aktif menanti-nantikan janji Tuhan, dimana mereka berkumpul bersama-sama secara aktif.
(2). Menyadari bahwa orang yang mampu memilah-milah apa yang harus dikenakan adalah mereka yang siap untuk menang
1 Petrus 1:13b …waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
Hidup yang dijalani orang percaya sering digambarkan sebagai sebuah perlombaan lari jarak jauh atau maraton. Berbeda dengan lari jarak pendek dimana jarak yang ditempuh hanya beberapa ratus meter saja, lari jenis marathon selain jarak tempuhnya jauh, medannya pun bervariasi. Ada jalan berkelok-kelok, turun naik, rata dan berbatu-batu.
Kata “waspadalah” yang digunakan disini adalah “nepho” (AMP.: be completely sober), yang artinya orang percaya jangan berada dalam pengaruh anggur atau racun apapun. Jangan memersiapkan diri untuk berlomba, namun masih menyertakan kepahitan, kekecewaan, kebencian, ketawarhatian, dan “racun-racun” lainnya.
Menjalani perlombaan itu sendiri saja sudah merupakan suatu perkara yang tidak mudah, jangan sampai sebagai orang percaya malah menambah-nambahkannya lagi dengan beban-beban yang tidak perlu atau unnecessary weight (Ibrani 12:1), bahkan ditambah pula dengan membawa dosa yang akan membuat langkah seseorang menjadi semakin berat, dan ini bisa menyebabkan seseorang menjadi tersandung.
Mari jemaat Tuhan, tangkap baik-baik pesan Tuhan ini. Ketika Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk bersikap antisipatif, maka artinya akan ada perkara-perkara luar biasa yang Tuhan akan nyatakan. Hanya kepada mereka yang siap saja yang akan mengalaminya. Alangkah sayangnya apabila hal-hal yang dari Tuhan terlewatkan begitu saja hanya gara-gara umat-Nya bersikap acuh tak acuh akan perkara-perkara dari Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati!
